Tunjungan: Dari Heritage ke Lifestyle Masa Kini

Surabaya memang selalu menjadi daya tarik tersendiri. Keluarga saya yang berada di Pulau Sulawesi jika membahas Surabaya tuh selalu dengan nada berbinar. Pasalnya, mereka menganggap barang-barang di Surabaya lebih murah daripada di Makassar. Memang ada sih beberapa yang demikian, tetapi tidak semua.

Surabaya itu tempat belanja. Setidaknya stigma keluarga saya demikian. Makanya ketika saya hijrah ke kota yang dijuluki kota Pahlawan ini mereka bahagia dan sumringah. Pasalnya dianggap bisa setiap kali mereka butuh apa, aku bisa belikan dan kirim. Padahal ya ongkos kirim juga mahal, haha.

Saya selalu menjawab seperti ini, “Kalian datang aja ke sini sekalian jalan-jalan. Bawa oleh-oleh banyak sekalian kalau dianggap murah. Namanya oleh-oleh tentu harganya juga sudah dinaikkan pedagang karena orang-orang pasti beli, bukan?” Namun, bukan keluarga saya kalau tidak percaya karena memang jika dibandingkan dengan Makassar yaa memang lebih murah sih. 

Ngomongin Surabaya, saya tuh selalu ajak keluarga ke Tunjungan kalau ada yang berkunjung. Bukan hanya dekat dari kontrakan tetapi juga sudah mencakup semua kebutuhan. Tempat bersejarah ada, cafe kekinian banyak bahkan tempat belanja oleh-oleh pun banyak tinggal pilih yang mana. Bahkan setelah Makassar, saya jadi kenal banyak blogger Surabaya yang memiliki latar belakang menulis blog yang unik-unik hingga kini.

Banyak Heritage di Tunjungan

Jalan sepanjang Tunjungan tuh sudah terlihat kalau bangunannya banyak bangunan tua yang masih kokoh. Meski ada yang sudah dicat ulang tetapi semuanya juga masih dijaga keasliannya. Beberapa bangunan bersejarah dan masih sangat kokoh bangunannya adalah:

  • Hotel Majapahit
  • Hotel Varna
  • Tunjungan Romansa
  • Graha Tunjungan
  • Gedung Siola

dan masih banyak lagi. Bahkan cafe-cafe yang berjejer di sepanjang jalan Tunjungan juga masih mempertahankan kekokohan bangunan kunonya.

Masuk ke Kampung Warga 

Masuk ke dalam gang dari jalan Tunjungan bisa menelusuri perkampungan warga yang juga bangunannya masih banyak tidak diubah. Bahkan ada satu tempat favorit di mana saya bisa menemukan sebuah toko roti dan juga tempat makan yang mengingatkan masakan rumahan meski masakan yang dijual adalah menu dari Betawi.

Keluar dari kampung warga ini bisa bertemu dengan jalan besar di sebelah Tunjungan dan akan menemukan sebuah mall besar yang bangunannya sampai ke jalan tersebut. Saking besarnya.

Banyak Cafe Tempat Nongkrong Anak Gen Z

Di sekitar jalan Tunjungan tidak hanya bangunan bersejarah. Ada juga berderet cafe-cafe kekinian yang menjajakan berbagai menu makanan dan minuman. Pastinya sih sangat disukai anak-anak gen Z masa kini. Jangankan gen Z, yang gen millenial saja suka kok. 

Terbukti sepanjang jalan Tunjungan selalu ramai orang-orang berlalu-lalang. Tidak hanya weekend saja. Saat weekdays pun seputaran jalan Tunjungan tidak pernah sepi dengan pejalan kaki dan orang-orang yang nongkrong menghabiskan waktu dari sore hingga malam hari.

Jadi wajar kalau anak muda selalu banyak ditemui di sini. Berbagai keunikan skill pun bisa ditemui di salah satu sudut jalan Tunjungan, khususnya weekend. Contohnya, ada yang menjual jawa menggambar wajah menjadi sketsa dan dijadikan gantungan kunci. Harganya pun masih bersahabat.

Memang paling asik dan cocok santai sore di Tunjungan. Kalau saya sih ketika ikut teman-teman komunitas street photography, bakalan tidak lepas bawa kamera untuk mengabadikan momen di sana.

***

Well, aku senang sekali bisa tinggal di kontrakan yang dekat kalau mau ke daerah Tunjungan. Selain bisa menghibur diri ketika me time, juga bisa sambil melihat kembali jejak-jejak sejarah yang ada di sana. Hmm… seharian sepertinya belum cukup tuh. Coba deh yang pernah ke Tunjungan ada kenangan apa di sana?

Facebook
Twitter

Related Posts

19 Responses

  1. Saya belum pernah ke Surabaya, cuma pernah lewat doang waktu mau ke malang, Surbaya memiliki sejarah yang panjang dalam mempertahankan kutuhan NKRI, Surabaya kini menjelma menjadi metropolitan, sebagai salah satu pusat ekonomi indonesia

  2. Berase banget yaaah… kalau vibes Jalan Tunjungan yang emang nggak pernah ada matinya ya! Seru banget dengar cerita tentang stigma keluarga di Sulawesi soal belanja di Surabaya, emang klasik banget tapi emang beneran kejadian.
    Memang Tunjungan itu paket lengkap banget sih, transisinya dari area bersejarah sampai jadi spot nongkrong lifestyle yang hits bener-bener pas. Aku setuju banget kalau seharian di sana rasanya nggak bakal cukup.
    Apalagi kalau sudah mampir ke cafe-cafe mungil di antara bangunan tuanya, suasananya dapet banget buat me time atau sekadar bengong sore-sore.

  3. Kota banget, ka Amma.. rumahnya.
    MashaAllah.. ikut senang kalau Surabaya menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali.
    Aku seneng Surabaya, karena ada keluarga besarku.. selain banyak kenangan semasa sekolah hingga kerja.
    Rasanya kalo pulang ke rumah Ibu tuuh.. serasa segala duka dan kesedihan menghilang seketika. Allahu musta’an.

    Semoga dimana pun kita tinggal menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk beribadah.

  4. Aku langsung keinget dengan pertemuan kita. Entah tempatnya disini apa yang lain yaa, yang jelas Surabaya tuh aku lihat semakin manis.

    Karena ada satu hari sempat aku pakai untuk keliling. Kalau nanti wooshnya beneran bisa sampai Surabaya, bisa² bakal sering main lagi ke Kota ini 🫢

  5. Sama seperti Mang Duyeh, kota Surabaya ini jadi salah satu target destinasi saya untuk berlibur yang belum kesampean si, heuheu.
    Aku baru tau lho kalau disana tuh banyak barang yang harga jualnya lebih murah, walaupun gatau yaa kalo dibandingin sama harga di JKT itu lebih murah yang mana, hihihi.
    Tapi yang ku paling penasaran, adalah wahana liburan heritagenya itu si. Mengingat disana kan memang banyak bangunan lawas yang jadi tempat wisata, atau dikonversi jadi cafe-cafe yang bagus.

  6. Surabaya memang Kota yang lengkap dan menarik buat disambangi. Baik buat urusan bisnis, kerjaan, hingga sengaja travelling. Makanya nggak heran kalau saudara dan keluarga mba Ama suka nih buat berlibur, apalagi spesifik ada area Tunjungan yang emang komplit sekali.

    Tunjungan, menawarkan banyak hal. Dari mulai wisata sejarah, sampai dengan tempat ngopi estetik dan area belanja yang bikin pengen ngeborong. Jadi kangen deh, mau banget ke sana lagi.

  7. Ehhh jadi ingett kita rame² ke Kafe Palma atau apaa itu mbaa, waktu meet up dgn kak Fannt dcatqueen

    Aakkk seruuu banget! kopinya enak.
    trus kita juga pernah makan di Pusaka Bunda kalo ngga kliru ya?
    lokasi masih masuk gang .cukup representatif euy

    jl Tunjungan never failed!! Bahkan ASUS juga hobi bikin event di hotel2 jl Tunjungan kannn

  8. Suasana vintage memang sedang dinikmati, makanya asik banget ada jelajah wisata seperti ini. Bisa sekalian nih belajar sejarah, sambil yang paling mengesankannya adalah melihat kafe yang kekinian buat tempat seru hangout

  9. Waktu pertama kali merantau ke Jakarta naik kapal pelni, kan transit di Surabaya Mbak Ammah. Deh.. senang sekali, ka! Apalagi lihat patung Yos Sudarso. Nah, baru tahun 2000 berapa itu saya ke Surabaya. Yang acara K-Link itu. Ketemuan ji kita waktu itu. Sayang saya ga ke mana-mana. Lalu tahun 2017 saya sempat jalan ke Makassar, lewat surabaya. Jadi sempat ja sehari nginap di Surabaya. Sempat ke MonumenKapal selam. Dan kalau Surabaya itu memang penghubung dari Makassar. Naik kapallait sehari ji. Naik pesawat sejam ji juga. Semoga tahun ini atau tahun depan saya bisa ke Makassar lagi. Nanti lewat surabaya saja deh, sekalian main ke daerah Tunjungan. Mau ka naik kapal laut saja. Kan nostalgia toh… hahahaha

  10. Tunjungan ini sudah ada berapa tower sekarang? Pernah ke Tunjungan pas ke SBY tapi pegel juga ya ngiterinya saking besarnya wkwkw

  11. Eh tapi memang luar Jawa itu harganya agak mahal ya mbak… Aku merasakannya banget. Contohnya sama-sama pas beli novel dengan judul sama di tobuk sama kaget aku bedanya bisa lumayan banget,

  12. Ternyata lagu “Rek ayo rek, mlaku-mlaku neng tunjungan” masih cocok dinyanyikan sampai sekarang yaaa. Bahkan kawasan ini makin berkembang, dijadikan wisata heritage hingga ke lifestyle yang lebih kekinian.
    Dulu aku ke sana cuma ke TP ma Siola aja haha. Sekarang dah jarang ke sana.
    Tapi kyknya kalau tumbuh cafe2, perkampungan warga yang menarik ditelusuri, makin banyak pilihan yang bisa kita ulik kalau ke sana ya.
    Area Tunjungan tu enaknya dijelajahi saat malam hari, keknya vibesnya jadi beda gitu, apalagi full lampu2 khas metropolitan yang makin menambah semarak sekitar jalanan sana.

  13. Terakhir saya ke area Tunjungan itu tahun 2025 dan saya kaget sekali dengan perubahan yang cukup signifikan terutama di area pasar yang berubah menjadi area makanan kekinian dan menurut saya itu sebuah kemajuan yang sangat bagus Anda bisa meningkatkan potensi wisata kuliner dan juga ekonomi UMKM yang keren dan kreatif

  14. Bener banget kak. Surabaya emg pny sejarah tak terlupakan bg bangsa. Banyak peninggalan bersejarah yg kini jg tetap eksis. Tapi aku blm explore semua sih kak. Padahal ya 3 jam an dari kediri yak. Masalahnya kalo ke sana, selalu mampir mal mulu. Jarang pny temen yg suka heritage gt. Smg ntr ktmu blogger yg suka heritage gini ya, dibahas tuntas.

  15. Aku udah nggak begitu ingat daerah tunjungan ini mbak. Karena rasanya terakhir jalan-jajaln di Surabaya itu sudah 15 tahun yang lalu. Selebihnya cuma numpang lewat aja 😅 Yang aku masih rada-rada ingat itu Tunjungan Plaza. Tapi sering lihat di medsos, tunjungan emang menarik ya, mirip kayutangan Malang vibes-nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *