Wanita terjun ke bisnis. Pada awalnya seringkali dianggap tabu karena seolah ingin menyamai kedudukan pria yang memang diciptakan untuk berjuang dalam hal nafkah. Padahal, wanita yang sukses dalam dunia bisnis, apa pun skala bisnisnya, menjadi bukti bahwa peran pentingnya dalam perekonomian sangatlah besar.
Saya masih ingat waktu kecil selalu bilang sama nenek, “Kalau sudah besar, saya mau punya jualan juga. Mungkin bukan emas seperti jualan nenek. Rasanya seru kalau bisa langsung dapat uang.” Lebih kurang seperti itu ucapan saya ke nenek dulu dan ternyata terwujud pelan-pelan, saya terjun ke dunia bisnis, jualan salad dan puding.
Menjalani Bisnis Makanan Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan
Hanya saja, memulai bisnis ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak sekadar karena suka makan kedua jenis makanan tersebut lalu ingin menjualnya dan mendapatkan uang. Tidak sesederhana itu. Koreksi rasa, penggunaan bahan, mencari supplier yang berkualitas hingga pada pemilihan nama pun adalah kompleksitas dalam membangun bisnis. Namun, saya tidak menyerah karena berangkat dari faktor finansial keluarga yang tidak menentu setiap bulan sementara ada anak-anak yang butuh biaya pendidikan terbaik, hal-hal yang bisa membangun passion satu ini harus dipelajari.
Bayangkan ketika uang sedang pas-pasan sementara jualan ada yang tidak laku dan secara otomatis modal jualan tidak kembali bahkan harus merugi. Sudah pernah terbesit kata menyerah, bahkan sempat tidak jualan beberapa hari. Rasa sedih karena merasa gagal berjualan, tidak pandai membuat jenis makanan lain agar ada lebih banyak omset dan hal lainnya menjadi beban mental tersendiri.
Ya, selalu “melihat ke atas” di mana orang-orang yang berjualan begitu cepat laris padahal menunya sederhana bahkan boleh dibilang kurang sehat untuk dikonsumsi. Saya sudah terpikir untuk menyerah. Modal makin menipis sementara banyak stok bahan mulai kosong. Hingga kemudian saya seperti mendapatkan jalan keluar ketika melihat informasi ada sharing bisnis dengan sosok yang mana brand jualannya sangat terkenal di mana-mana.
Menemukan Semangat dan Keberanian dari Informasi Sharing Bisnis ISB

Mungkin sudah jalan dari Tuhan saya diarahkan untuk membaca informasi dari WAG Komunitas ISB, Indonesian Social Blogpreneur. Teh Ani Berta selaku founder komunitas tersebut memberikan informasi bahwa akan ada sharing dengan salah seorang pebisnis dan merupakan owner dari Baba Rafi, sebuah brand makanan yang terkenal di mana-mana. Setiap sudut kota di Indonesia sepertinya bertebaran outlet makanan satu ini.
Ya, ada sharing Tips Memulai Usaha dan Menjadi Entrepreneur Berkomitmen bersama Nilam Sari selaku founder Baba Rafi. Saya yang sedang nyaris ingin menyerah padahal usianya sangat bayi banget, 3 bulan karena baru mulai Februari 2026.
“Wah, cocok sekali ini materinya. Ikutan ah. Biasanya narasumber yang bekerja sama dengan ISB bukan orang sembarangan. Pasti sudah benar-benar selektif.” Gumam saya waktu itu.
Makanya tanpa pikir panjang saya pun masuk WhatsApp Group dan bisa mengikuti sharing dengan baik.
Nilam Sari, Perempuan Tangguh dengan Resiliensi Mental yang Mengagumkan
Kagum. Itulah yang saya rasakan ketika mendengarkan mbak Nilam menceritakan panjang lebar terkait bisnis yang dibangun pertama kali hingga bisa bertahan dengan bisnis lain hingga sekarang. Permasalahan hidup seperti ujian rumah tangga tentunya perlu kesiapan mental agar bisnis tidak terganggu.
Nyatanya, bisnis Baba Rafi yang dibangun bersama partner hidup harus rela tidak digunakan lagi karena permasalahan rumah tangga mengguncang bisnis kuliner satu ini. Padahal cabangnya sudah di mana-mana hingga luar negeri. Bisa menghasilkan 1.300 outlet dan tersebar juga di 10 negara seperti Belanda, India, Sri Lanka, Malaysia dan lainnya.
Mau tidak mau, terjadi pecah kongsi, mbak Nilam harus menanggung utang yang tidak sedikit dan itu sungguh ujian yang tidak ringan. Sudah diterpa ujian rumah tangga eh ditambah masalah utang yang tak sedikit pula. Sudah terpikirkan untuk menyerah dengan mengakhiri hidup tetapi dalam ketentuan Allah mbak Nilam masih harus bangkit dan belum waktunya “pulang”.
Pelan-pelan bangkit dan menjalani satu demi satu tahap kehidupan berikutnya. Setelah permasalahan itu, mbak Nilam membangun PT. Sari Kreasi Boga. Sebab brand Baba Rafi sudah tidak bisa digunakan lagi sejak permasalahan rumah tangga yang terjadi. Beruntungnya, mbak Nilam benar-benar mendapatkan kasih sayangnya Allah karena terus dibantu meski ujian demi ujian dalam bisnis datang silih berganti.
BukaOutlet.com Dibangun untuk Mewadahi UMKM Indonesia
Setelah PT. Sari Kreasi Boga menjadi besar, ekspansi usaha yang dilakukan menghasilkan PT. Nava Sari Kreasi. Di sinilah lahir marketplae BukaOutlet.com yang mengajak UMKM untuk dikurasi dan melatih UMKM agar benar-benar mampu menjalankan bisnis di tengah persaingan tanpa batas. Apalagi mbak Nilam lebih passion dalam mengembangkan bisnis franchise sehingga berupaya mengajak UMKM yang mau untuk ekspansi usaha lebih besar lagi.
Beberapa brand yang sudah bergabung mungkin sudah dikenal seperti Almaz, Bagi Kopi dan sejauh ini sudah ada sekitar 40 UMKM yang dibina. Kecintaan dengan bisnis franchise menjadikan mbak Nilam sangat yakin bahwa masyarakat Indonesia itu memiliki kekuatan dan produk-produk yang dihasilkan juga bisa luar biasa.

FOKUS, Pesan Mbak Nilam pada Seluruh Pelaku Bisnis
Semua pebisnis pasti memiliki struggling-nya masing-masing. Hanya saja memang perlu fokus sebelum kemudian berpikir untuk ekspansi bisnis yang dijalani. Harus benar-benar tahu dan yakin yang dijalani sudah benar dan konsisten dalam menjalankan bisnis. Bukan sekadar untuk cari uang saja tetapi mampu memberdayakan orang-orang dengan membangun sistem kerja yang baik pula. Sebab bisnis besar juga tidak bisa terwujud tanpa kerja sama dan fondasi bisnis yang kuat sejak awal.
Belajar Resiliensi Mental dan Mbak Nilam
Saya tahu mbak Nilam kelahiran Surabaya yang sudah pasti memiliki keberanian. “Wani” dalam menentukan mau dibawa ke arah mana bisnis yang sedang dijalankan. Terus menguatkan diri dalam menjalani setiap episode kehidupan bisnis sebab tidak semua perempuan yang dibebankan utang hingga milyaran masih tetap bisa tumbuh dan berkembang bisnisnya sampai sekarang. Bahkan mampu melunasinya dengan kegigihan menjalankan bisnis dengan fokus dan konsisten.
Saya melihat mbak Nilai sebagai perempuan tangguh dan inspiratif, khas arek Suroboyo yang benar-benar punya tekad kuat dalam menjalankan apa yang menyenangkan dan menjadi passion dalam hidup. Tidak semua perempuan mampu bertahan dengan masalah berat seperti kisah mbak Nilam ini. Saya yang mendengarnya saja jadi malu. Apalagi baru menjalankan usaha jualan 3 bulan sudah merasa mau menyerah karena masih belum banyak omsetnya, hehe.
***
Well, kisah mbak Nilam yang sudah seperti sinetron di layar kaca sungguh membuka mata saya. Baru merintis usaha dan mulai muncul berbagai keluhan karena terlalu banyak ekspektasi yang tidak sesuai. Padahal sukses bisnis itu tergantung bagaimana bisnis itu terus berjalan dengan fondasi atmosfer kerja yang baik dan bukan sekadar mencari laba semata.
Kelak bisnis yang saya rintis dari Februari 2026 lalu bisa melejit seperti bisnis mbak Nilam saat ini. Namun, kembali lagi saya harus mengasah mental agar punya resiliensi kuat sehingga tetap kokoh saat diterjang badai di kemudian hari.



