Perumahan Murah: Sebuah Awal yang Baik atau Buruk?

Perumahan Murah: Sebuah Awal yang Baik atau Buruk? – Konsep di balik rumah murah adalah untuk menciptakan sarana bagi orang-orang dengan pendapatan rendah agar memiliki tempat tinggal sendiri. Perumahan sering disubsidi oleh pemerintah agar lebih terjangkau, dan orang-orang cenderung memilih opsi ini sebagai rumah pertama mereka.

Perumahan Murah- Sebuah Awal yang Baik atau Buruk?

Faktanya, subsidi tersebut membawa calon pemilik rumah melakukan cara pembayaran melalui bank lokal dengan lama bisa mencapai 15 sampai 20 tahun, tergantung pada kemampuan membayar. Namun, meskipun keuntungannya demikian, tetap saja ada yang menolak pembelian rumah murah di Depok melalui situs-situs jual rumah di internet. Hal ini disebabkan oleh kesan yang murah disamakan dengan kualitas rendah menurut mereka  rumah jenis ini adalah pilihan buruk karena akan kesulitan untuk dijual kembali di masa depan.

Hanya untuk Orang Tertentu

Membeli rumah murah tidak diperuntukkan untuk semua orang, karena hal ini ditujukan terutama untuk orang dengan pendapatan rendah. Orang-orang dari kelompok penghasilan rumah tangga menengah atau tinggi berharap untuk hidup dengan cara tertentu dan mengambil langkah-langkah seperti membeli furniture yang baik untuk mengisi rumah yang yang sudah diidamkan pula.

Bagi orang-orang dari rumah tangga berpenghasilan rendah, memiliki rumah mereka sendiri, bahkan meski itu kecil, adalah sebuah ketenangan psikologis. Dan itu memberikan mereka harapan untuk masa depan. Itu adalah pertanda awal baru yang baik di mana mereka tidak perlu khawatir mengenai di mana mereka tinggal.

Kualitas yang Berbeda

Salah satu masalah utama dalam jenis perumahan ini adalah kualitasnya. Dibandingkan dengan rumah yang dibuat khusus untuk pelanggan yang memiliki lebih banyak uang, perumahan biasanya lebih kecil, memiliki jendela lebih sedikit dan desain cenderung mengikuti pola persegi panjang, tempat duduk utama dan dua kamar tidur bercabang dengan satu kamar mandi. Desain berulang ini direplikasi di rumah lain yang membentuk rantai yang saling berhubungan. Sayangnya, karena keterbatasan dalam ruang, hal ini berakhir pada terdegnarnya kebisingan dari satu rumah ke rumah lain jadi lebih mudah. Selain itu, bahan yang digunakan dalam konstruksi biasanya dari bahan termurah. Karena kebutuhan untuk mengurangi biaya sebanyak mungkin perlu dilakukan. Hal ini tercermin pada terlihatnya kualitas cat, tembok dan juga pola jendela. Untuk keluarga berpenghasilan rendah yang baru memulai untuk hidup dengan rumah sendiri,  jenis perumahan sangat ideal. Namun, untuk keluarga besar, sepertinya sangat tidak cocok.

Lokasi yang Jauh dari Pusat Bisnis

Masalah lain dengan rumah murah adalah rumah tersebut cenderung jauh dari pusat-pusat bisnis. Untuk mengurangi biaya berlebih, pembangunan perumahan murah cenderung berada di daerah dengan lahan yang relatif murah. Masalahnya, ini membatasi peluang warga untuk bisa menemukan pekerjaan. Biaya commuter untuk pekerja kantor biasa di Jakarta misalnya tidak akan sama dengan pekerja dari Depok. Apalagi jika Anda atau mereka berada dalam situasi penghasilan rendah. Biaya perjalanan dari perumahan ke tempat kerja mencapai 25% dari pendapatan mereka. Ini tentu saja sangat merugikan secara tidak langsung. Pemerintah pun katanya sedang mengupayakan hal-hal untuk mencegah hal tersebut. Perumahan dibangun dengan menerapkan lokasi yang lebih baik dan membuat biaya pulang pergi bekerja jadi lebih murah, menurut The Jakarta Post. Kenyataannya belum semua terlaksana.

Indonesia, sayangnya, menderita dari kesuksesannya sendiri karena pertumbuhan industri lokal serta banyaknya perusahaan-perusahaan asing datang ke negara itu, hal ini mengakibatkan harga tanah meroket dan perusahaan terus tumbuh di dalam negeri. Namun, hasil akhir dari tindakan ini telah mengakibatkan lebih banyak orang tidak mampu membeli rumah atau tanah karena harga yang lebih tinggi.

Keluarga berpenghasilan rendah, khususnya, merasakan dampaknya. Dengan demikian, perumahan bersubsidi hanya untuk yang mampu saja. Banyaknya bank menolak untuk memberi pinjaman jangka panjang yang diperlukan. Bank tidak mempertimbangkan masalah jarak pulang-pergi bagi pekerja dengan penghasilan rendah. Rumah murah saat ini memang mengisi tempat tertentu di pasar perumahan di Indonesia. Hal ini terutama untuk orang-orang yang ingin memiliki rumah sendiri namun tidak menyanggupi jenis rumah yang sedang dijual oleh pengembang besar.

2 Responses to “Perumahan Murah: Sebuah Awal yang Baik atau Buruk?”
  1. Diarysivika says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *