Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.

Tahun Berkabung Nasional itu 2010 menurut perjalanan hidupku selama ini. Berkabung memang erat dikaitkan dengan kematian. Ya, kali ini memang membahas soal kematian yang tidak hanya pada satu orang anggota keluarga kami di tahun 2010.

Tahun 2010 memang menjadi tahun yang sama sekali tidak pernah terlupakan. Kejadian pahit yang terjadi tahun tersebut sangat mengoyak hati dan menguras air mata batinku. Bahkan sampai sekarang air mata itu masih terus mengalir meskipun wajahku menggambarkan ekspresi tersenyum. Sekuat tenaga menjadikan air mata itu mengering tetapi sepertinya tidak mudah. Waktu katanya bisa menghapus dan mengubah semuanya tetapi sepertinya tidak pada kenangan itu.

April 2010 menjadi awal semuanya. Pria yang sangat kucintai jatuh sakit dengan jenis penyakit yang masih tidak diketahui. Ya, pria itu adalah Ayahku tercinta. Keluhan Ayah hanya tidak bisa melakukan buang air kecil. Setiap ingin buang air kecil, Ayah harus menutup mulut dengan handuk karena menahan sakit yang amat sangat. Itu pun terkadang yang keluar hanya berupa tetesan darah. Dan saat itu aku tidak berada di samping Ayah ketika pertama kali jatuh sakit. Aku berada di sebuah tempat untuk merakit mimpi Ayah juga. Penelitian untuk mencapai gelar magister memang menyita waktuku. Sama sekali jarang di rumah.

Dan terpaksa Ayah harus dibawa ke rumah sakit untuk dirawat karena kondisi sudah tidak memungkinkan. Sejak April itulah kemudian aktivitas berubah menjadi kampus-rumah sakit-kampus. Sekilas Ayah sama sekali tidak terlihat sakit yang berat tetapi ternyata setelah beberapa kali harus dirawat, dokter rumah sakit ternama di Makassar mengatakan kalau Ayah menderita prostat dan harus dioperasi.

Kaget?! Sudah pasti. Tetapi aku serahkan pada yang Maha Memiliki Ayah. Pasti ada hikmah dari semua penyakit Ayah. Setelah operasi, batinku juga kembali diuji kesabarannya karena ternyata Ayah tetap tidak sembuh tetapi justru bertambah penyakit lain, tumor kelenjar limfoma yang komplikasi dengan gagal ginjal stadium IV.

Astaghfirullah… berkali-kali batin mengucap kalimat itu. Pikiranku sudah penuh dengan masalah penelitian ditambah lagi dengan persoalan penyakit Ayah yang di luar prediksiku. Bahkan dengan segala macam cara aku mencari akar permasalahan penyakit tersebut dan menemukan obat penyembuhnya. Tetapi hasilnya semua usaha masih tidak membuat Ayah bisa sembuh.

Di sudut lain, kakek juga sedang berjuang menghadapi sakaratul maut akibat penyakit lama yang menyerang tubuhnya. Tanggal 6 September 2010, kakek (Ayah dari Mama) berpulang. Ayah yang saat itu sudah berobat di rumah datang dengan kondisi yang harus dipapah. Sama sekali tidak tampak seperti Ayah saat itu karena dalam pandanganku sehari-hari sebelum Ayah sakit, dia pria yang begitu gagah dan mampu berjalan tanpa bantuan tongkat dan pegangan dari orang lain. Suasana duka menyelimuti saat itu. Semua keluarga berkumpul melepas kepergian dan mengucap doa serta salam terakhir untuk kakek.

Belum kering makam kakek, berita mengejutkan kembali datang. Adik ipar nenek (istri kakek yang meninggal dunia) juga dikabarkan berpulang. Tak sakit sama sekali. Berusaha mencari penyebabnya, tetapi kembali pada takdir-Nya bahwa kematian seorang manusia itu pasti adanya. Hari itu tanggal 8 September 2010.

Kematian memang rahasia-Nya. Adik nenek yang suaminya meninggal tersebut sepertinya begitu terpukul dengan kematian tersebut. Stress menghadapi kenyataan tersebut, beliau juga jatuh sakit dan harus dibawa ke rumah sakit karena penyakit gulanya kambuh. Dan tidak berselang lama, tanggal 20 September 2010, beliau juga akhirnya meninggal dunia.

Berita kematian tersebut sengaja tidak disampaikan kepada Ayah yang pad tanggal 13 September 2010 harus kembali dibawa ke rumah sakit karena drop. Kami sadar betul bahwa kematian kakek sangat mengganggu pikiran Ayah. Oleh karena itu, berita kematian bertubi-tubi tersebut sengaja dirahasiakan kepada Ayah. Suasana duka benar-benar menyelimuti. Tak mampu berkata apa-apa saat itu. Bahkan sempat terdengar bahwa keluarga kami diserang ilmu hitam. Tetapi aku bersyukur karena tidak mempercayai hal tersebut. Kalau pun kemudian itu memang benar, semua kembali diserahkan pada yang Maha Segalanya. Yang pasti, aku meyakini bahwa inilah ujian untukku dan keluargaku.

Belum lagi pada saat pengajian dalam rangka mendoakan kematian adik nenek tersebut, Ayah saya dikabarkan meninggal dunia. Aku yang saat berita itu muncul kebetulan berada di rumah sakit. Ayah saat itu baik-baik saja. Meskipun aku tahu Ayah berjuang melawan penyakitnya. Telepon, SMS tidak pernah berhenti hanya untuk menanyakan kondisi Ayah. Bahkan telepon rumah juga tidak pernah absen dari deringan di tiap jam.

Allahu akbar… situasi dan kondisi yang begitu sulit memang. Hingga pasien yang sekamar Ayah (teman SMA-ku) juga sakaratul maut. Hari itu tepat tanggal 1 Oktober 2010, teman yang penyakitnya berpusat di paru-paru juga meregang nyawa. Kondisi mental Ayah saat itu aku yakin sungguh sangat terganggu. Teriakan dan tangis keluarga temanku tersebut begitu keras hingga Ayah sesekali terbangun dan mengatakan “Sebentar lagi saya juga dipanggil”. Bukan main berkecamuk rasa yang tidak menentu di dalam hati saat itu.

Kalimat yang dilontarkan Ayah sangat mengganggu. Tetapi sepertinya memang pertanda tetapi sama sekali tak pernah aku yakini bahwa itu pesan penting. Tanggal 6 Oktober 2010, Ayah meminta pulang. Ayah sudah tidak bisa tinggal di rumah sakit. Batinnya tidak tenang. Bahkan Ayah datang dalam mimpi salah satu Om yang dekat dengan Ayah. Ayah meminta izin akan pergi dalam waktu dekat. Sejak saat itu, Om tampak tenang dan berusaha mengikuti keinginan Ayah. Tetapi Om merahasiakan mimpi itu.

Yah, tanggal 13 Oktober 2010, aku resmi tak memiliki Ayah dalam nyata lagi. Ayah meninggalkan dunia ini dengan beribu kebaikan. Aku bahkan sama sekali kagum karena 3 hari sebelum Ayah meninggal dunia, beliau mengajakku berdiskusi dengan materi bahasa Inggris. Ayah mengajari kembali mulai dari alfabet hingga memahami soal-soal bahasa Inggris yang berkenaan dengan TOEFL. Dalam kondisi aku beliau berbaring sementara aku duduk. Tak terasa waktu dari jam 8 malam hingga shubuh jam 5 saat itu perbincangan kami. Satu yang kusesalkan karena tidak kurekam pembicaraan itu. Yah, namanya juga kematian tidak pernah diketahui.

Kini, kenangan bersama mereka yang pergi di tahun 2010, khususnya Ayah, masih sangat membekas. Entah dengan apa bisa menghapusnya agar air mata di hati ini mengering dan bisa tersenyum. Ditambah lagi sampai saat ini belum bisa menjalankan amanah Ayah. Yaa Rabbi, berikan jalan-Mu…

Untuk mereka yang pergi, aku tahu kalian tak benar-benar mati. Kalian hanya berpindah alam karena waktu berada di dunia sudah habis… Kini, kalian menantiku dan semua yang masih bernafas saat ini… Semoga kelak Allah mempertemukan di surga-Nya, Aaamiiinnn…

Kehilangan dan Pelajaran
Doc. Pribadi
Facebook
Twitter

Related Posts

10 Responses

  1. kehilangan selalu menyisakan duka tak berkesudahan mba… waktu bisa mendamaikan kita tapi tidak akan pernah mampu menghilangkannya… Tawakkal ilallah….

  2. Kehilangan selalu menyisakan perih. namun kematian hanyalah antrian yang kita tak tahu kapan akan menimpa orang-orang terdekat atau bahkan kita sendiri. Semoga kita bisa menjadi amal jariyah bagi orang tua… anak yang sholeh nan berbakti.
    Innalillahi wainnailaihi rojiuun…

  3. Insya Allah, doa anak yang sholeha diijabah oleh Allah.
    kematian hanyalah antirian yang akan didatang pada orang-orang terdekat atau bahkan pada kita sendiri. Semoga bagaimana pun cara kematian kita dalam keadaan khusnul khotimah, aamiin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *