Merantau itu Ngeri-Ngeri Sedap

Pilihan berat. Itu yang mengawali ketika memutuskan untuk merantau. Mengadu nasib di tanah rantau, Palangka Raya-Kalimantan Tengah, hingga dapat bertahan hidup. Seperti judul tulisan ini “Merantau itu Ngeri-Ngeri Sedap” memang sangat terasa di awal keputusan merantau di tanah Dayak.

Pertama kali merantau tepat pada usia 26 tahun. Usia dimana saya masih berstatus “belum menikah”. Meninggalkan keluarga, sahabat dan semua yang dekat bukan hal mudah. Homesick harus saya rasakan hampir sebulan. Betapa tidak, budaya dan juga lingkungan begitu berbeda. Hidup mandiri tanpa ada sentuhan kasih sayang sahabat dan teman-temanku lagi di Maros-Makassar (Sulawesi Selatan) membuat kerinduan terus terpupuk semakin dalam.

Di tanah rantau saya banyak belajar tentang kebudayaan suku Dayak dan falsafah hidup yang dipegang oleh mereka. Melihat struktur bangunan dan tata kota yang begitu indah. Pantas saja kota Palangka Raya disebut sebagai kota Cantik. Jenis makanan seperti Sayur Kalakai membuat saya semakin bangga bahwa kekayaan alam Indonesia itu banyak.

Merantau Nger-Ngeri Sedap

Lokasi tempat saya tinggal berada tidak jauh dari pusat kota. Tetangga ramah juga menjadi ketenangan tersendiri. Apalagi ada mall terletak tidak jauh dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Memang di tanah rantau saya hanya menggunakan sepeda, selain go green juga kondisi jalan raya yang tidak padat merayap seperti kota-kota Metropolitan. Yah, mungkin juga ini alasan mengapa ada yang beranggapan Ibu Kota dipindahkan saja ke Palangka Raya.

Mendapat teman jalan dan ngobrol cukup membuatku senang di rantau. Sesekali jika bosan, saya mengelilingi kota dengan sepeda. Sendirian namun menemukan kebahagiaan tatkala melihat hiruk-pikuk masyarakat dengan urusannya masing-masing. Selain itu, saya juga kadang mengajak mahasiswa (i) saya untuk ikut jalan keliling kota sambil memberikan informasi kepada saya tentang segala sesuatu mengenai Palangka Raya dan Kalimantan Tengah pada umumnya.  Kadang saya juga ke bioskop untuk melepas kerinduan dengan kesepian, sebab di bioskop bisa melihat banyak orang meskipun tak bertegur sapa satu sama lain.

Namun, di balik kesenangan sedikit tersebut saya juga harus menghadapi sebuah pergolakan batin. Di tanah rantau saya mengerti betapa perjuangan mempertahankan keutuhan rumah tangga adalah hal terpenting. Tak sedikit saya melihat dan merasakan keluarga yang terancam noda pernikahan karena persoalan jarak. Yah, godaan di sana sini sangat besar dan terasa bagi orang-orang yang berada jauh dari pasangan sahnya. Tak hanya itu, godaan materi juga terkadang meracuni pikiran orang-orang yang berasal dari keluarga dengan ekonomi di bawah sejahtera, apa saja dikerjakan termasuk menjadi pelayan tak bermoral. Memang, hal demikian tak hanya berada di kota yang tak seramai ini. Tetapi tetap saja bukan hal yang baik untuk dimaklumi. Di situlah seringkali hati dan pikiran saya berperang. Berada di tanah rantau dengan kondisi demikian memang bukan hal yang membahagiakan. Salah satu jalan hanyalah menganggap bahwa itu bukan urusan saya, padahal sejatinya sebagai manusia beragama harus berusaha mencegah kemungkaran terjadi.

Di lain persoalan, orang-orang baru memang seringkali ditekan dengan sikap arogan penguasa. Jabatan dan uang menjadi alasan untuk menekan orang-orang baru bahkan menjadikan kemampuannya sebagai kesempatan untuk menanfaatkan tanpa memberikan hak sebagaimana wajarnya. Yah, bukan fenomena baru lagi di negeri Indonesia.

Tetapi, di balik semua kesedihan dan perang batin, saya tetap harus tersenyum. Menyambut hidup dengan berusaha semaksimal sesuai dengan kemampuan yang ada diri itu jauh lebih baik. Mengemas kerinduan pada kampung halaman dengan terus mengirim doa dan menulis hal-hal bermanfaat. Meskipun di depan mata banyak hal yang menyayat logika dan hati, tak pernah letih untuk meminta perlindungan dari yang Maha Kuasa.

Sebelum mengakhiri tulisan ini ada beberapa bait rasa hati perantau:

Di tanah rantau
Rindu menyiksa kalbu
Hangat dan cinta dahulu
Kini jauh tak berhulu

Dalam diam
Selalu ada rasa takut mencekam
Bertanya pada nasib terpendam

Di tanah rantau
Kuselipkan doa pada rindu
Kembali kelabu
Tatkala batinku mengerang pilu
Tersayat sembilu
Perih nan beradu

Kusaksikan nista
Tapi tak mampu meronta
Berperang dalam cerita
Menanti terang mengajak bicara

Di saat ragu
Hanya Engkau temani selalu

Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Gendu-Gendu Rasa Perantau

10 Responses to “Merantau itu Ngeri-Ngeri Sedap”
  1. MdarulM says:
  2. lisa says:
  3. cumakatakata says:
  4. ina r. says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *