Blogging Event Suara Hati

Kuliah Sambil Kerja itu Tantangan

Kuliah Sambil Kerja itu Tantangan – Saya masih ingat betul nominal pertama upah saya setelah bekerja di sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris dan Komputer tahun 2007 silam. Lokasi yang masih tidak begitu jauh dari rumah membuat saya betah mengajar di situ. Mengajar anak-anak bisa berbahasa Inggris sembari membersamai materi-materi sekolah yang telah diajarkan pada mereka, adalah sebuah aktivitas yang menyenangkan. Apalagi jika sudah masuk pada event berupa outbound. Pasti saya paling bersemangat. Alasannya sederhana, saya bisa jalan-jalan tanpa harus menunggu keluarga bisa liburan semuanya, hihi.

Kebahagiaan itu saya rasakan karena saat mengejar ilmu di bangku kuliah, saya bisa makan dan kemana-mana tanpa harus minta lagi sama mama dan bapak. Meskipun jumlahnya memang belum sebesar orang pekerja kantoran, tetapi cukuplah untuk membuat saya bisa cuci mata juga di mall yang lagi hits di Makassar saat itu. Ditambah bisa nonton bareng teman di bioskop dan juga sekadar makan di resto cepat saji layaknya anak muda kebanyakan.

Kuliah Sambil Kerja itu Tantangan. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena memang harus pandai membagi waktu. Tidak boleh larut dalam dunia kerja sehingga kuliah bisa saja tertinggal. Sangat mengenaskan sekali kalau harus mengulang di semester tahun berikutnya. Hal ini tentu akan menghambat waktu selesai dan of course biaya juga akan bertambah. Untuk itu tantangan seperti ini Alhamdulillah membuat saya tetap survive karena dorongan bapak juga.

Sebenarnya bapak tidak senang awalnya saat tahu saya bekerja. Namun lambat laun bapak memahami bahwa kebutuhan orang kuliah tidak sedikit. Seringkali ada kebutuhan insidentil yang jika tidak segera mengambil tindakan, maka akan terjadi problema. Dan saya tidak ingin hal tersebut terjadi.

Tantangan itu selalu ada bersama keberuntungan. Setidaknya prinsip saya untuk terus berjuang seperti itu. Bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Itu sudah janji Allah di dalam kitab suci, bukan? Makanya saya percaya bahwa All is well ketika memang niatnya tetap lurus dan bukan hal yang aneh.

Kemudahan yang saya rasakan diantaranya dosen memahami kemampuan saya dalam membagi waktu sehingga mengangkat saya sebagai asistennya. Ya, memang dulu sempat nyesek dengar selentingan yang mengatakan: “Ah, asisten! Apa bangganya? Lha wong asisten itu pembantu kok.”

Apakah dengan itu saya kemudian menyerah? Ouh tentu tidak. Jadi asisten dosen malah semakin membuat saya banyak belajar dan kesempatan mendapatkan tambahan uang kuliah. Dosen sudah memberikan materi yang akan diajarkan beberapa waktu berikutnya sehingga saya bisa mempersiapkan diri. Bahkan beberapa dosen yang tahu diri kok kalau mengangkat mahasiswinya sebagai asisten berarti harus peka dengan kebutuhan asistennya. Uang jajan dan transport biasanya sudah jadi hak asisten jika memang waktunya sedikit tersita untuk membenahi keperluan dosen tersebut.

Saya jadi ingat pernah membantu menerjemahkan diktat kuliah dan upahnya membuat saya bisa menabung 2 kali biaya semester kuliah saya pada saat itu. Bahkan saya pun bisa berkenalan dengan putra-putri dosen tersebut sehingga akhirnya menjadi seperti keluarga. Terkadang saya belajar sambil momong anak dosen juga. Dan Alhamdulillah tidak mengganggu sedikitpun hidup saya. Karena memang sejak awal sudah menganggap ini tantangan, bukan masalah.

Jadi, sekolah atau kuliah sambal kerja itu sah-sah saja asalkan kita punya:

  • Manajemen waktu yang baik
  • Kepekaan melihat peluang di sekitar
  • Kesiapan mental karena kuliah dan kerja memiliki nilai problema yang berbeda
  • Skill yang bisa ditawarkan
  • Komitmen untuk menepati semua deadline tugas kuliah dan pekerjaan
  • Kepeduliaan terhadap kondisi kesehatan pribadi agar tetap seimbang melakukan pekerjaan dan kuliah

Maka, nikmati masa muda dengan mengisinya hal-hal positif. Bekerja tidak melulu harus memiliki ijazah dulu, kok. Siapkan mental dan fisik saja.

One Response

  1. Renidwiastuti Januari 21, 2018

Leave a Reply

Instagram