Berburu Coto Makassar di Kota Pahlawan

“Ayah, Bunda mau Coto.” Pinta saya saat usia kehamilan ada di minggu keempat.

“Duh, Nda. Coto sing enak nang Suroboyo lho ga eruh nangndi.” Jawab suami yang spontan raut wajahnya berubah bingung.

“Lha terus piye. Dudu’ karepku iki. Anakmu sing pengen. Ngidam aku, Yah.” Mulai gelisah karena khawatir keinginan yang tidak bisa ditolak ini menjadi sesuatu yang sekadar keinginan.

“Golek nangndi terusan?”

“Googling ae coba. Ato takon nang Mba Yuli ae.” Saya dengan semangat memberikan alternatif solusi sebagai jalan agar Coto Makassar “ditemukan” saat itu. Waktu dimana saya masih baru di Surabaya dan belum mengenal sekitar plus tidak mengenal spot-spot penting.

Beberapa saat kemudian…

“Nda, iki enek jarene nang Dukuh Kupang. Lumayan adoh. Gak popo ta tak tinggal tuku?” Suami menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Ndang budal. Selak entek.” Makin tidak sabar.

Suami pun berangkat dengan motor butut peninggalan bapak mertua. Sudah terbayang berapa lama saya harus menunggu untuk menyantap Coto Makassar. “Kok saya gak sekalian ikut saja kemudian makan Coto-nya di warung?” Jawabannya adalah kondisi saya saat hamil sangat lemas. Bergerak sedikit langsung mual-muntah. Makanya posisi paling enak itu adalah berbaring sambil memeluk guling.

Terlihat “malas”? ya, terserahlah mau dikatakan seperti apa. Pastinya saya menjalani kehamilan yang mungkin tidak semua orang merasakannya. Mual-muntah hingga menjelang proses persalinan adalah ha yang membuat pengalaman hamil yang sulit dilupakan.

Back to the Coto…

Berburu Coto Makassar di Kota Pahlawan

Lebih kurang 30 menit suami meninggalkan saya di rumah sendirian untuk mendapatkan semangkuk Coto Makassar. Sesampainya di depan pintu rumah, saya sudah menciup aroma rempah khas Coto Makassar. Saya yang tidak tahan dengan bau masakan justru malah sebaliknya. Suami pun heran sendiri karena melihat ekspresi saya yang bahagia banget dengan kehadiran Coto Makassar. Mau digambarkan dengan kondisi lidah saya menjulur karena saking cinna (baca: pengen banget) pun tidak masalah.

Suami membeli semangkuk Coto Makassar plus ketupat. Dengan sabar suami mengambil mangkuk dan sendok agar saya bisa segera makan.

Coto Makassar adalah makanan khas dari Kota Daeng yang terbuat dari campuran jeroan dan daging sapi yang diiris-iris lalu diberi bumbu yang diracik secara khusus. Dihidangkan dalam mangkuk dan disantap bersama ketupat, terkadang juga dengan burasa’. 

Bagaimana dengan Coto Makassar-nya? Dengan kondisi mulut yang masih mengunyah ketupat, saya sudah mengangkat jempol di hadapan suami. Senang sekali karena Coto Makassar-nya memiliki kuah yang pas di lidah. Hanya saja suami lupa bahwa saya tidak suka Coto Makassar yang di dalamnya ada jeroan. Harusnya memberi tahu pedagang Coto-nya untuk memasukkan khusus bagian daging sapi-nya saja. Tetapi, for the first time mencoba Coto Makassar di Kota Pahlawan sudah terbilang lumayan. Meskipun sedikit rindu dengan ketupat yang dibuat dari daun pandan.

Coto + Ketupat dibuat dengan Daun Pandan

Coto + Ketupat dibuat dengan Daun Pandan

 

Ketupat dibuat dari Daun Kelapa

Ketupat dibuat dari Daun Kelapa

Ya, di daerah Jawa, ketupat dibuat dari daun kelapa. Sementara di daerah saya, ketupat dibuat dari daun pandan. Di siniah terletak perbedaan rasa dan aroma sebuah ketupat. Ketupat yang dibuat dari daun pandan tentu lebih wangi dan sedap, bukan? Tetapi apa boleh buat, nggak mungkin juga saya membuat ketupatnya sendiri. Apalagi di Jawa sangat sulit mendapatkan daun pandan yang menjadi bahan membuat ketupat di daerah saya, Maros-Makassar, Sulawesi Selatan.

Pencarian Coto Makassar di Kota Pahlawan Terus Berlanjut

Hidup di tanah rantau memang selalu rindu dengan kuliner kampung halaman. Apalagi jika kulinernya benar-benar khas dan jarang yang mampu membuatnya dengan rasa yang pas. Bahkan seringkali ketika menelepon mama di kampung, saya selalu bahas soal Coto Makassar.

Coto Daeng Rewa

“Mama, kirimkang saika’ kodong Coto.”

“Tidak bisako kah biking sendiri? Mama SMS saja resepnya.”

“Tidak kutauki kodong, Mama. Marompa kalo masak Coto.”

“Kukira adaji dijual di situ.”

“Adaji, Mama. Tetapi mahal. Satu mangkok kecil rata-rata 20 ribu. Belumpi ketupa’ na.”

“Sekali-kali tidak papaji. Kalo macinna saja. Ndak usah tiap hari.”

***

Karena sekarang sudah makin maju, informasi kuliner di Surabaya pun dengan cepat diketahui, salah satunya lewat Instagram (IG). Hasilnya, saya pun mendapat informasi kalau Coto Makassar tidak hanya ada di daerah yang selama ini sudah jadi langganan. Saya kemudian mendapatkan tambahan 3 spot yang menyajikan Coto Makassar sebagai hidangan yang dijajakan.

Coto Makassar dan PixelMaster Camera dari ASUS Zenfone

Otomatis, saya senang sekali dan tidak perlu bingung lagi mencari Coto Makassar di Surabaya. Hanya saja yang membuat saya galau saat ini adalah media untuk mengabadikan foto Coto Makassar. Malu rasanya jika upload foto di Instagram tetapi penampilan Coto menjadi tidak menarik karena efek kamera smartphone yang kurang bagus.

Coto Makassar di Surabaya

Kamera smartphone seperti ASUS Zenfone bisa membuat hasil foto apapun menjadi instagramable. Tak terkecuali foto makanan. Nah, Coto Makassar ini pun jadi semakin eye catching ketika dijepret dengan ASUS Zenfone. Tentu saja karena fitur PixelMaster dari Zenfone yang saat ini makin dibenahi oleh ASUS. Tujuan adanya PixelMaster tidak lain adalah agar hasil jeprat-jepret menggunakan smartphone bisa sebagus kamera pro. Hmm… kebayang deh bagaimana excited-nya kemana-mana bawa smartphone dengan kecanggihan kameranya.

Coto Makassar yang sering saya santap pastinya membutuhkan fitur PixelMaster Camera, khususnya mode low-light. Hal ini dikarenakan pencahayaan warung Coto Makassar agak kurang. Maklum, warung di pinggir jalan jarang sekali menggunakan pencahayaan yang maksimal. Saya dan suami pun hanya bisa menyantap Coto Makassar saat dinner saja. Dengan Zenfone, pencahayaan bisa ditingkatkan hingga 400% dari kondisi aslinya. Could you imagine that?

Apakah itu saja mode dari PixelMaster Camera dari ASUS Zenfone? Ternyata tidak. Ada 20 mode foto yang bisa menjadi pilihan saat memotret. Bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Benar-benar layaknya menggunakan kamera pro. Apalagi saat ini saya sedang tertarik menciptakan hasil foto makanan dimana background-nya tampak bokeh.

Masih ada lagi, mode Time Lapse pun menjadi hal menarik yang ditawarkan PixelMaster Camera dari Zenfone. Dengan adanya mode ini, saya berharap bisa membuat video saat makan Coto Makassar dengan hasil yang maksimal, tidak blur dan banyak noise. Bahkan semakin membuat jatuh cinta pada ASUS Zenfone adalah fitur Shortcut to the Camera. Ada apa dengan fitur satu ini? Ternyata, ASUS menyematkan fitur agar camera is ready to shoot instantly. Jadi, cukup double press pada tombol volume, maka camera app seketika sudah terbuka dan tekan sekali lagi untuk mengabadikan foto yang ada di depan mata.

Shortcut to the Camera dari ASUS Zenfone

Hmm… kisah perburuan Coto Makassar di Kota Pahlawan setidaknya menjadi awal impian untuk menjadi fotografer makanan. Tak perlu menyamai orang-orang yang sudah terkenal. Cukup orang tahu, kalau Coto Makassar itu nikmat dan sayang jika tidak coba lewat foto-foto yang saya sajikan di media sosial.

Nah, teman-teman suka kuliner Nusantara apa nih? Share, yuk!

Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel.

***

Referensi:

  • PixelMaster Camera: https://www.asus.com/PixelMaster/
19 Responses to “Berburu Coto Makassar di Kota Pahlawan”
  1. Rony says:
    • Rahmah says:
    • Rahmah says:
  2. Rahmi says:
    • Rahmah says:
  3. zulfiah ulfa says:
    • Rahmah says:
  4. Fika anaira says:
    • Rahmah says:
  5. Taufan says:
    • Rahmah says:
    • Rahmah says:
  6. Eni Rahayu says:
  7. Alid Abdul says:
  8. Zia Ulhaq says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *