Blogging Suara Hati

Dilema dengan Atraksi dan Kebun Binatang

Dilema dengan Atraksi dan Kebun Binatang – Jujur, saya sedang bingung ingin menuliskan tema ODOP satu ini. Sedari kemarin masih mencari cara agar mampu menemukan tema yang bisa saya tuliskan untuk sekadar memberi masukan tentang dunia binatang. Namun, tema ini benar-benar akan berisi komentar tentang apa yang saya pikirkan selama ini. Dan saya pun teringat dengan sebuah kasus seorang teman yang melakukan “protes” di status WhatsApp-nya, karena dituding sebagai pendukung penyiksaan binatang. Alasannya adalah teman saya itu ke kebun binatang dan memberikan kesempatan kepada anaknya untuk naik ke atas gajah.

Teman saya pun tidak menerima dengan apa yang ditudingkan tersebut dengan mengeluarkan beberapa argumen. Dan sebagian argument teman saya pun itu sama dengan apa yang ada di pikiran saya.

Atraksi Hewan adalah Penyiksaan Hewan? Yes or No?

Lagi-lagi saya kembali ke zaman saat masih kecil dulu bahwa atraksi lumba-lumba itu sesuatu yang bisa menyenangkan anak-anak pada masa itu. Sampai sekarang pun demikian adanya. Bahkan ada beberapa jenis binatang yang dijadikan media untuk melakukan pertunjukan menarik.

Jika berpikir bahwa binatang tersebut menjadi media untuk meraup keuntungan dengan penyiksaan, saya sependapat di sisi itu. Namun, saya kembali berpikir, jika kemudian saya dan semua orang tidak menonton pertunjukan tersebut, apakah binatang atau tempat dimana binatang tersebut dirawat, dilatih, dan sejenis, tidak membutuhkan pendapatan untuk membeli makan dan pengobatan misalnya? Dari mana pemasukan mereka jika semua orang tidak lagi peduli? Punah? Mati atau baik-baik saja?

Jika kemudian atraksi itu penyiksaan, apakah binatang yang ada di kebun binatang, di rumah-rumah kita yang notabene dipelihara, apakah itu tidak termasuk “penyiksaan” juga? Toh, habitat mereka kan di hutan rimba sana, kan? Lalu, apa bedanya?

Mungkin pikiran saya dangkal sekali ya, guys? Karena mungkin menyambungkan sesuatu yang berbeda. Tetapi di mata saya, hal ini tetap ada hubungannya.

Lalu, Apa Aksi Saya untuk Mencegah Eksploitasi Binatang?

Jleb. Karena sampai sekarang saya bingung untuk menjawab. Di rumah mertua saya ada banyak burung di dalam sangkar dengan berbagai jenis. Itu semua peliharaan kakak ipar saya. Ditambah lagi ada tupai kecil yang juga dipelihara. Kalau sesuai hati nurani saya, ngapain dipelihara? Toh hidup mereka harusnya bebas di alam sana. Namun balik lagi bahwa saya hanya sekadar bisa berkomentar: “Mas, kasihan ya burung-burungnya jadi nggak bebas.”

Belum lagi banyak teman yang juga memelihara binatang lain. Karena alasan melindungi dan sebagainya. Lalu, ajakan saya untuk mengembalikannya ke habitat asli tentu tidak akan disetujui.

Tetapi beruntung karena sampai detik ini saya belum pernah tertarik memelihara binatang di rumah. Karena mengurusi diri saya sendiri saja sudah tidak cukup waktu apalagi harus mengurusi binatang yang juga ciptaan Allah. Saya tidak mau dimintai tanggung jawab kelak dengan jawaban yang mungkin membuat malaikat tertawa.

Kebun Binatang Jadi Media Pembelajaran

Mungkin tagline di atas akan dikecam oleh pecinta binatang. Silakan. Tetapi selama ini saya mengajak anak saya untuk melihat lebih dekat binatang yaa pastinya ke kebun binatang. Bisa dibayangkan jika kebun binatang tidak ada. Masa iya harus ke hutan untuk mengenal gajah, singa dan binatang lainnya.

Saya hanya berasumsi sederhana. Uang tiket yang saya bayarkan ke kebun binatang menjadi jalan saya untuk merawat binatang yang ada di sana. Karena kalau kebun binatang tanpa pengunjung, darimana pengelola kebun binatang menyediakan dana untuk makanan dan pengobatan binatang yang ada? Pemerintah? Seberapa banyak? Masihkah harus begitu pelit mengeluarkan biaya ke kebun binatang, tetapi dengan mudah jalan keluar negeri atau mungkin memiliki fasilitas hidup mewah?

Saya hanya bertanya… silakan dijawab dalam hati saja…

One Response

  1. Frida Herlina Maret 20, 2018

Leave a Reply

Instagram