Parenting

Belajar Kelola Inner Child dari Ibu Muda Beranak Tiga

“Mungkin cuma saya yang tidak dekat dengan mama kandung.”

Kalimat di atas pernah saya lontarkan ketika berada di sebuah parenting event dan akhirnya ada penawaran untuk lebih banyak bertemu dan konsultasi. Katanya, saya punya inner child yang sepertinya butuh dikelola dengan baik.

Saya penasaran dan akhirnya ikut sesi sharing yang diadakannya sebelum pandemi. Kebetulan sekali tema sharing yang dibawakannya itu untuk mengajak berdamai dengan masa lalu, khususnya orang tua. Pola pengasuhan masa lalu yang keras ternyata membentuk pribadi saya seperti ini.

Marah, kesal, benci atau apapun namanya menjadi satu sehingga yang terbentuk bertahun-tahun adalah inner child dalam konteks yang negatif. Padahal, inner child juga ada yang positif meskipun butuh proses untuk membawanya ke permukaan.

belajar kelola inner child

Inner Child yang Negatif Harus Dikelola dengan Cara yang Baik

Tidak ada yang ingin berlama-lama dengan masa lalu buruk, bukan? Tidak ada juga yang ingin membuat jarak dengan orang-orang di masa lalu, apalagi itu orang tua sendiri. Mereka adalah jalan untuk ke surga. Ketika ada masalah dan akhirnya sampai nyawa dicabutNya tetapi masih ada kebencian atau tidak ridho, pastinya akan membuat hidup jadi tidak ada artinya.

Elfira Mahda atau dikenal dengan ibunya Zamzelova, mengajak saya untuk mengelola negative inner child tersebut dengan cara:

Framing – Reframing

Saat menghadapi anak pertama memukuli anak kedua. Respon utama pasti ngomel dan raut wajah marah plus menganggap anak pertama nakal karena tega sama adiknya, bukan? Inilah framing yang terjadi. Nah, beliau mengajak saya untuk melakukan reframing. Berpikir seolah saya melihat kejadian anak di luar diri sebagai ibu si kakak.

Biasanya setelah reframing, kita jadi bisa lebih tenang karena emosi terselesaikan. Dan ini bukan berarti bahwa kita positive thinking alias melakukan pembenaran. Bukan seperti itu gambarannya. Coba deh dipraktikkan akan terasa bedanya.

Saya dimnta melakukan yang sama agar hubungan dengan mama terus membaik. Saya harus memaafkan pola pengasuhan masa lalu karena reframing membuat pikiran lebih tenang. Memaafkan bukan berarti membenarkan ya. Beda!

Terapi Buku

Maksudnya di sini, saya diberikan bacaan yang mengajak pikiran saya fokus pada pentingnya tumbuh kembang anak di jalan yang seharusnya. Bahwa masih banyak hal yang saat ini luput dari perhatian saya, termasuk pemilihan kata-kata ketika anak melakukan kesalahan agar tidak melukai perasaannya. Tanggapan yang diberikan pada anak ketika menyampaikan pendapatnya agar tidak membuat anak menjadi takut beropini lagi. Dan masih banyak lainnya.

***

Well, hidup dengan masa lalu ketika masih usia anak-anak yang seringkali mendapatkan tekanan kata-kata dan perilaku memang tidak mudah diubah. Jangan pernah menganggap bahwa itu adalah hal mudah. Sedikit banyaknya akan memiliki dampak ketika dibiarkan begitu saja. Meskipun masih muda tetapi memahami ilmu dengan baik, bukan alasan untuk menyia-nyiakannya.

Leave a Reply