Blogging

5 Langkah Sederhana Selamatkan Bumi ala Ibu Rumah Tangga

5 Langkah Sederhana Selamatkan Bumi ala Ibu Rumah Tangga mungkin terkesan impossible untuk terjadi. Namun, siapa sangka jika semua yang berprofesi sebagai IRT dengan melakukan langkah kecil setiap hari, bisa menyelamatkan tak hanya diri sendiri dan keluarganya, tetapi juga bumi.

Awalnya ketika diajak untuk concern dengan lingkungan, saya maju mundur menerima. Meskipun latar belakang pendidikan saya kimia yang beberapa kali mengambil mata kuliah Kimia Lingkungan karena saya suka. Namun, melihat kondisi alam yang semakin hari semakin mengkhawatirkan, saya pun memberanikan diri untuk ikut berbagi isi kepala.

Flashback Penelitian Pengelolaan Limbah Sagu sebagai Pakan Ternak

Saya tidak mau jauh-jauh bicara soal lingkungan sementara di sekitar saya begitu banyak hal yang juga menarik untuk saya angkat. Dan ini mengingatkan pada saat masih menyelesaikan penelitian S2 di Makassar tahun 2008-2011 yang senada dengan tema yang  saya angkat.

Ya, saya memanfaatkan limbah sagu yang terbuang percuma. Limbah sagu tersebut saya olah dengan berbagai bahan yang ada di laboratorium untuk membuat pakan ternak, dalam hal ini pakan ayam pedaging.

pengolahan limba ampas sagu untuk pakan ternak

Sumber Foto: Milik Pribadi

Waktu itu sebenarnya saya ragu karena khawatir ayam-ayam yang dijadikan objek penelitian akan mati semua. Ya, namanya was-was pasti ada saja. Namun, dosen pembimbing saya menyemangati bahkan memberikan insight betapa menghasilkan prebiotik dari limbah sagu, pasti akan berdampak positif ke depannya.

Saya pun mencoba dengan nawaitu yang benar-benar untuk membantu salah seorang keluarga dari tetangga saya yang beternak ayam pedaging. Selain itu, saya juga meringankan sedikit beban petani sagu dari tumpukan limbahnya.

Voila!

Prebiotik yang bisa saya campurkan ke dalam pakan ternak ternyata memberikan hasil yang memuaskan. Meskipun ada beberapa ayam yang tereliminasi karena tidak berkembang dengan baik. Namun, prosentase ayam yang mengalami pertumbuhan baik dengan ciri berat badan tinggi, kualitas daging empuk dan besar ditambah lagi ayam terjaga dari berbagai penyakit, membuat saya ingin membuat prebiotik tersebut dengan hak paten untuk kemudian digunakan sebagai pakan ternak seterusnya.

Grafik Penelitian Saya Sendiri

Hanya saja, waktu dan realita berkata lain. Sumbangsih saya untuk mengurangi limbah sagu, terhenti karena harus menjalani kehidupan setelah pernikahan di tanah Jawa.

Lalu, mengapa saya tidak melanjutkan di tanah Jawa? Selain karena alasan internal, juga ada alasan lain dimana limbah sagu tak sebegitunya menjadi permasalahan.

Maka saya melanjutkan “perjalanan menjaga bumi” melalui profesi yang saya jalani saat ini.

Teringat dengan Bincang KBR yang menghadirkan bapak Mubariq Ahmad, Direktur Eksekutif dari Yayasan Strategi Konservasi Indonesia, mengatakan bahwa saat ini dibutuhkan langkah kongkret dari seluruh warga untuk kembali memulihkan dan menyelamatkan bumi.

Beliau menghimbau agar masyarakat mulai peduli dengan lingkungan dari keluarga, seperti pola konsumsi yang minim sampah dan ramah lingkungan, hingga ikut mengedukasi lewat tulisan.

5 Langkah Sederhana Selamatkan Bumi ala Ibu Rumah Tangga

Sejalan dengan yang disampaikan oleh bapak Mubariq mengenai dimulai dari keluarga, maka inilah 5 langkah sederhana saya sebagai ibu rumah tangga dalam menjaga dan memulihkan bumi:

1. Mengurangi Sampah Rumah Tangga

Kalau ingin dipikir secara saksama, penghasil sampah terbesar setiap hari adalah dari rumah kita sendiri. Bayangkan dalam satu kecamatan saja, masing-masing rumah mengeluarkan sampah rumah tangganya, tentunya tumpukannya tidak lagi rendah melainkan gerobak-gerobak sampah sudah tidak mampu menampungnya lagi.

Sadar atau tidak sadar, itu sudah menyumbang kerusakan lingkungan. Karena tidak semua sampah yang dibuang bisa didaur ulang  meskipun dengan pengolahan.

Sebagai orang yang hidup di kota, sampah rumah tangga, baik itu organik atau anorganik, semuanya memberikan dampak terhadap lingkungan. Nah, jenis sampah yang sering ada di rumah kami, antara lain:

  • Sampah sisa makanan
  • Sampah kemasan makanan atau produk yang digunakan
  • Sampah metabolisme tubuh
  • Sampah diapers sekali pakai
  • Sampah pembalut sekali pakai

Nah, beberapa dari sampah tersebut sudah kami upayakan agar bermanfaat lagi untuk lainnya. Seperti sampah sisa makanan, sebisa mungkin kami membuangnya ke satu tempat yang kemudian diambil pemulung untuk didaur ulang.

Begitu juga dengan sampah kemasan makanan yang jika terbuat dari bahan kardus, maka kami mendaur ulangnya dengan membuat mainan anak dari kardus, seperti metamorfosis chart, rumah-rumahan dan masih banyak lagi.

Untuk sampah diapers sekali pakai, kami baru memulai memisahkan yang hanya dikotori oleh pipis bayi saja. Kemudian kami kumpulkan dan dikirim ke lembaga yang menerima limbah tersebut. Ya, setidaknya langkah kecil saya sebagai ibu rumah tangga bisa diikuti oleh ibu-ibu lain.

Bagaimana dengan pembalut sekali pakai? Jujur saja ini masih jadi PR besar buat saya. Beruntung sudah menyimak salah satu pengalaman dari narasumber Bincang KBR yaitu, Ibu Siti Hairulblogger parenting dari Jogja, yang sudah menggunakan menstrual cup sebagai jalan untuk menyelamatkan bumi. Saya berharap segera mengikuti jejaknya.

 2. Bijak Menggunakan Energi

Entah sudah sejak kapan saya dan anak-anak sudah terbiasa tidur dengan lampu padam. Kebiasaan ini saya mulai karena menyadari bahwa langkah kecil seperti ini dampaknya bukan untuk orang lain saja, tetapi paling utama adalah keluarga saya tentunya.

Lampu padam saat tidak digunakan, apalagi dalam kondisi tidur, justru memberikan kenyamanan. Kalau dulu saya bangun pagi dengan badan yang sering pegal karena lampu dinyalakan, sejak selalu dipadamkan, bangun tidur jadi lebih fresh.

Selain itu, mematikan PC komputer saat suami sudah tidak menggunakannya karena harus berada di luar rumah atau hendak tidur. Kalau dulu awalnya selalu dalam kondisi stand by.

Dan yang paling penting, kebiasaan untuk memakai sedotan stainless yang re-usable, juga sudah mulai kami tekankan di rumah. Jadi kalau beli minuman di luar rumah atau take away, kami tidak meminta sedotan plastik lagi.

3. Mengedukasi dengan Menulis di Blog

Nah, seperti yang sedang saya lakukan saat ini yaitu membuat konten seputar menjaga bumi dari lingkungan terkecil dulu. Harus diupayakan sesering mungkin agar dunia maya penuh dengan konten-konten berkualitas seputar langkah menjaga bumi.

Apalagi sekarang sedang digalakkan agar masyarakat paham akan literasi digital. Maka ini sangat penting untuk kita isi dengan menyuarakan aspirasi dan langkah sederhana menjaga bumi.

Tak harus menulis di blog karena saat ini juga bisa beropini dengan microblog di Instagram. Infografis yang berukuran poster atau presentasi sudah bisa disalurkan secara digital.

Nah, sebagai ibu rumah tangga yang tidak boleh gaptek harus memanfaatkan teknologi untuk terus share informasi seputar lingkungan yang sedang hangat diperbincangkan. Mengingat bahwa kondisi bumi kita makin hari makin memprihatinkan.

Eits, tetapi perlu diingat juga, saring before sharing ya karena jangan sampai justru kita yang menyebarkan hoax.

Hal ini pun juga yang dilakukan oleh Ibu Widyanti (Ketua IIDN) dalam Bincang KBR yang mengajak para blogger untuk senantiasa menuliskan tema-tema lingkungan, khususnya tips menjaga lingkungan sesuai dengan yang dilakukan, dilihat dan diamati selama ini.

4. Mengenalkan Anak dengan Bumi

We don’t inherit the earth from our ancestors, we borrow it from our children. – David Brower

Berangkat dari quotes ini, saya mencoba memberikan gambaran ke anak seperti apa bumi yang akan dipijaknya di masa depan. Segala hal yang dia lakukan sekarang, bisa dituai, baik atau buruk.

Namun, sebagai orang tua berharap bahwa kelak anak-anak bisa merasakan kebahagiaan menapaki bumi ini meskipun sekarang berbagai tanda kerusakan sudah mulai terjadi satu per satu dengan durasi yang lebih intens.

Untuk itu, sejak dini perlu ditanamkan bagaimana menjadi khalifah di muka bumi dengan baik dan menjauhi perbuatan yang merusaknya. Salah satu jalan dengan membelikan buku seputar lingkungan, kehidupan satwa, bumi dan tata surya.

Bahkan anak saya paling senang jika didongengkan yang tokohnya adalah hewan. Pernah sekali dia berkata ingin melihat Orang Utan karena lucu. Maka saya pun memberikan informasi bahwa satwa tersebut semakin hari semakin terancam kehidupannya.

Senada dengan apa yang dikatakan oleh Davin Veronica, seorang model dan pegiat satwa, yang dalam Bincang KBR menceritakan pengalaman menyedihkannya ketika harus bolak-balik masuk hutan demi menyelamatkan satwa seperti Orang Utan dan satwa liar lainnya.

Sama halnya dengan yang dilakukan bapak Zul Karnedi. Beliau yang dijuluki bidan penyu tadinya justru menjadi pemburu penyu untuk dimanfaatkan daging dan telurnya. Tetapi mengingat populasi penyu semakin hari semakin berkurang, beliau pun akhirnya tergerak untuk menyelamatkan penyu. Dan juga beliau mengedukasi masyarakat sekitar agar tidak lagi melakukan pemburuan terhadap penyu.

Selain itu, mendidik anak untuk membuang sampah pada tempatnya adalah tugas utama orang tua dan dibantu oleh gurunya jika bersekolah. Dan ini pun bisa menjadi wasilah mereka untuk memaknai: “Kebersihan adalah sebagian dari Iman.”

5. Ikut Kegiatan Keterampilan yang Mengolah Sampah Menjadi Benda Bermanfaat

Dalam komunitas parenting yang saya ikuti, beberapa kali mengajak untuk berbuat sesuatu dari sampah, seperti:

  • Membuat vas bunga dari kertas koran bekas
  • Membuat mainan anak dari kardus bekas
  • Membuat bros dari tutup botol dan kain perca
  • Membuat pot dari botol bekas

Dan masih banyak lagi. Jika tak ada waktu untuk ikut langsung secara offline, saya mencobanya di rumah dengan tutorial yang ada. Pastinya ini sebagai salah satu cara juga untuk zero waste .

***

Well, jangan dikira profesi sebagai ibu rumah tangga tidak bisa berbuat sesuatu untuk menjaga bumi. Langkah sederhana jika dilakukan secara istiqomah bahkan diikuti oleh beberapa orang dan seterusnya begitu, niscaya alam tidak akan pernah merasa di-dzholim-i.

Yuk, mulai sekarang dan dari lingkungan terdekat kita dulu!

***

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini 

14 Comments

  1. Marfa September 2, 2020
  2. Samleinad September 2, 2020
  3. Hendra Suhendra September 3, 2020
  4. 3835info September 3, 2020
  5. Rudi G. Aswan September 3, 2020
  6. Bambang Irwanto September 3, 2020
  7. Eno September 3, 2020
  8. Rini Novita Sari September 3, 2020
  9. Bunsal September 3, 2020
  10. Marita Ningtyas September 3, 2020
  11. Nathalia DP September 3, 2020
  12. Rozi September 3, 2020
  13. Eri Udiyawati September 3, 2020
  14. Siska Dwyta September 3, 2020

Leave a Reply

Instagram