Penulisan

10 Alasan Membaca Buku Sejak Dini dan Selamanya

Jika ditanya alasan membaca buku, saya tidak akan pernah menyebutkan satu. Saya jadi teringat kenangan bersama bapak yang menjadi orang pertama mengenalkan pada buku. Bahkan sampai sekarang, aroma buku fisik masih tetap juara dibandingkan dengan buku elektronik yang makin banyak beredar.

“Pak, ada oleh-oleh buat saya enggak?”

“Tentu. Buat kamu coba ambil bungkusan putih di dekat koper bapak yang bertuliskan Rahmah.”

Tanpa terucap kata apa pun, kaki melangkah ke lokasi bungkusan yang dimaksud. Ya, bapak waktu itu pulang dari luar kota untuk bertemu berbagai guru bahasa Inggris yang berasal dari seluruh provinsi. Bapak mewakili Sulawesi Selatan untuk jenjang SMA. Lumayan lama bapak pergi, nyaris sebulan.

“Saya buka ya, Pak.” Ucap dengan nada yang bahagia.

“Buka saja. Pelan-pelan.”

Sebenarnya saya sudah menebak isinya adalah buku dan itulah salah satu alasan membaca buku yang hingga kini masih terus terjaga.

“Waaah, banyak sekali bukunya. Terima kasih, bapak.” Tubuhku langsung memeluk bapak dengan erat sekaligus melepas rindu. Bapak memang sering keluar kota, tetapi kali ini durasinya cukup lama. Rindu pastinya apalagi ada ritual sebelum tidur yang akhirnya hilang kalau bapak tidak ada. Ya, ritual dibacakan buku menjadi agenda yang dikosongkan dan akhirnya baca sendiri atau menulis buku harian jika tidak diserang kantuk lebih cepat.

***

Membaca buku memang habit positif yang ditularkan bapak kepada saya. Sungguh sangat tidak bisa membayangkan ketika kebiasaan itu tidak pernah dikenalkan. Mungkin, saya tidak akan seperti sekarang. Nah, jika saya ditanya alasan membaca buku apa saja, bisa simak listing berikut:

10 Alasan Membaca Buku

alasan membaca buku

Jujur saja, aktivitas membaca itu tidak akan sia-sia. Jenis buku apa saja asalkan memberikan insight baru dan positif serta mengajak untuk berpikir kritis dan kreatif, tentunya akan sangat bermanfaat. Tak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga orang sekitar.

1. Kebiasaan yang Ditularkan Bapak

Seperti pada pembuka tulisan ini saya memberi gambaran bagaimana lingkungan terdekat memberikan dukungan dengan berbagai jenis buku. Sejak saya usia 5 tahun, bapak sudah sering mengajak ke toko buku meskipun yang dibeli adalah buku keperluan pekerjaannya. Ketika sudah duduk di bangku SD, bapak sudah pelan-pelan memberikan buku anak-anak untuk dibaca bersama sebelum tidur. Bahkan, saya sering melihat beliau tidak tidur hanya untuk menyelesaikan buku yang sedang dibacanya.

2. Hadiah Rangking Selalu Buku 

Ya, bukan mau bicara sombong atau sejenisnya tetapi memang saat sekolah dulu, rangking 1, 2 atau 3 tidak pernah lepas untuk diraih. Bahkan jarang rangking 3. Nah, ketika mendapatkan posisi tersebut, bapak tidak akan lupa dengan hadiahnya berupa buku bacaan, buku diary bahkan buku cetak yang belum saya miliki dan menjadi bahan referensi di sekolah. Otomatis saya membaca buku karena memang selalu bertemu dengan benda ini.

3. Mendapatkan Wawasan tentang Kota dan Negara Lain

Membaca novel memang seru. Banyak hal yang bisa diambil, khususnya informasi mengenai latar cerita yang diangkat. Saya jadi tahu dan membayangkan kota dan negara selain kampung halaman saya. Dari situ belajar juga dengan budaya dan adat istiadat mereka.

4. Punya Banyak Teman Penulis 

Alasan lainnya yang tidak kalah asik adalah lingkar pertemanan saya banyak yang berprofesi sebagai penulis. Mau tidak mau, saya suka membeli buku mereka jika punya bujet lebih. Bahkan sesekali mereka memberikan cuma-cuma dan meminta untuk diberikan kritik dan saran secara langsung.

5. Bahan untuk Menulis Buku

Ada satu keinginan saya juga di balik hobi baca buku, yaitu menjadi penulis. Beberapa tulisan saya sih sudah ada yang menjadi buku antologi termasuk kamus nusantara yang dimiliki oleh Indscript. Dari membaca berbagai sumber, saya memberanikan diri untuk ikut proyek menulis. Hanya saja, sekarang saya masih terbentur dengan anak-anak yang masih dalam proses tumbuh kembang (golden age) sehingga fokusnya itu dulu. Namun, saya membaca sedikit demi sedikit agar semakin terasah kemampuan menulis khususnya kalimat berima.

6. Ingin Jauh dari Pikun

Saya mendapatkan semangat ini dari mendiang Eyang Habibie. Sayang sekali takdir belum pernah membawa saya bertemu dengan beliau. Padahal saya ingin sekali berbincang dengan beliau. Meskipun tidak lagi bisa, saya masih semangat mengikuti apa yang sudah beliau ajarkan secara tidak langsung, salah satunya tidak malas membaca karena bisa menjauhkan seseorang dari lupa.

Ya, saya tidak ingin kelak panjang umur dan merasakan masa tua tetapi menyusahkan karena pikun. Untuk itu, saya menjaganya dengan membaca.

7. Ada Anak yang Butuh Contoh Teladan

Ketika ingin anak bisa memiliki kebiasaan membaca buku, pastinya harus ada contoh dari orang tua. Nah, saya tidak mau jika kelak anak saya bertanya:

“Saya disuruh membaca, tetapi bunda sama ayah kok tidak baca melakukannya?”

Apalagi jika mendapatkan anak super kritis dan segalanya ingin diketahui, otomatis orang tua harus punya wawasan luas. Jangan mudah menyerah dengan mengatakan:

“Coba googling saja.”

Huhu, bagi saya ini justru bisa menurunkan wibawa orang tua di hadapan anaknya. Jika memang tidak tahu, selalu ada cara mengutarakannya dengan kalimat yang tidak mengubah mindset anak-anak bahwa ketika ingin tahu segalanya, satu-satunya cara adalah googling. 

Untuk itu, orang tua harus jadi teladan dengan kecintaannya terhadap aktivitas membaca.

8. Hasilnya Sudah Terlihat pada Anak yang Gemar Membaca Saat Ini

Alasan membaca buku saya lainnya adalah karena anak sudah menunjukkan kebiasaan baik terkait aktivitas ini. Sejak hamil memang sudah menerapkan kebiasaan membaca bahkan jika insomnia pelariannya ke buku, ternyata saat ini sudah menunjukkan hasil pada anak sulung yang masih berusia 6 tahun 10 bulan.

Bahkan yang membanggakan karena di usianya yang belum masuk TK saja, kemampuannya membaca sudah lancar. Bahkan sudah dengan mudah membaca buku berbahasa Inggris juga.

9. Media Hiburan Saat Penat dan Stress 

Memang kalau ditanya saat sedang lelah atau stress biasanya melakukan aktivitas apa saja, jawaban lebih sering adalah tidur atau keluar sejenak menghirup udara segar. Namun, saya juga menjadikan membaca untuk self healing agar kembali fresh. Jenis buku yang dibaca ketika kondisi seperti ini biasanya novel-novel romantis dan bukan non fiksi sejarah, apalagi sejarah Islam. Berat!

10. Profesi Blogger yang Beberapa Kali Diminta Review Buku

Ini juga rezeki yang tidak bisa ditolak karena membangkitkan semangat membaca. Meksipun tidak dibayar dengan nominal rupiah dan hanya berupa beberapa buku misalnya, bagi saya itu sebuah kesempatan besar. Soalnya, tidak sering kondisi finansial memadai untuk beli buku. Apalagi di tengah pandemi seperti ini dan finansial keluarga saya sedang diuji.

***

Well, alasan membaca buku setiap orang akan berbeda. Tidak ada yang salah karena yang terpenting adalah aktivitas tersebut memberikan manfaat yang signifikan pada kehidupannya.

24 Comments

  1. Dian Restu Agustina May 24, 2021
  2. Faridilla Ainun May 24, 2021
  3. Ucig May 25, 2021
  4. herva yulyanti May 25, 2021
  5. Dian May 26, 2021
  6. Dedew May 26, 2021
  7. Lidya May 26, 2021
  8. Eri Udiyawati May 26, 2021
  9. Adindarara Rachmanita May 26, 2021
  10. Andiyani Achmad May 26, 2021
  11. lendyagasshi May 26, 2021
  12. Diah Agustina May 26, 2021
  13. Ade UFi May 26, 2021
  14. Nia Haryanto May 26, 2021
  15. Alfa Kurnia May 26, 2021
  16. Milda Ini May 26, 2021
  17. Aswinda Utari May 26, 2021
  18. Siti hairul May 26, 2021
  19. Nathalia DP May 26, 2021
  20. Ria May 26, 2021
  21. April May 26, 2021
  22. Sri Widiyastuti May 26, 2021
  23. ima satrianto May 31, 2021

Leave a Reply