Menu Lebaran Idaman Dua Budaya

Lebaran sebentar lagi…

Setidaknya kalimat itu saat ini selalu terdengar di dalam rumah. Beberapa keponakan yang kebetulan satu atap, memang sedang giat-giatnya menunjukkan kemampuan berpuasa. Tak hanya diiming-iming hadiah lebaran dan angpao, tetapi juga makanan spesial yang biasanya “hanya hadir” saat lebaran pun sudah mulai diperbincangkan.

Saat lebaran memang selalu saja ada yang spesial, khususnya dalam menu makanan. Bahkan terlihat seperti berlebihan dalam jumlah besar. Tetapi sejatinya itu semua adalah sebuah bentuk persiapan dan penghormatan bagi para sanak saudara dan juga kolega yang berada dalam “kemenangan”, ketika bersilaturahim. Ya, kemenangan setelah sebulan penuh mengendalikan segala sesuatu yang bisa menjerumuskan pada batal dan makruhnya puasa.

Menu makanan yang disajikan pun beraneka ragam. Mulai dari menu sejuta ummat (baca: opor ayam) hingga pada menu makanan khas daerah masing-masing. Dan mulai 2012 lalu, saya pun bisa merasakan adanya perbedaan menu makanan lebaran di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Jangan pernah mencari nasi ketika lebaran di kampung saya (Maros, Sulawesi Selatan). Terlebih lagi saat hari pertama lebaran sampai hari ketiga, bahkan biasanya hingga hari ketujuh. Sebab, setiap kepala keluarga mayoritas akan menyuguhkan ketupat, buras, gogos dan panganan “pengganti nasi” lainnya. Berbeda ketika berlebaran di kampung mertua (Kertosono, Nganjuk), jangan pernah mencari ketupat, karena panganan tersebut hanya akan hadir justru di hari ketujuh lebaran (sering dinamakan Lebaran Ketupat).

Menu andalan dan paling diidamkan saat lebaran adalah coto. Itu bisa terwujud jika Tuhan memberikan izin mudik ke kampung halaman. Entah kenapa, coto memang salah satu makanan favorit dan juga dikenal sebagai menu khas kota Makassar dan Sulwesi Selatan pada umumnya. Coto ini adalah makanan berkuah yang berbahan dasar daging sapi. Kuah yang diramu dari berbagai jenis rempah-rempah memang akan selalu menambah selera saat di hari lebaran.

Tetapi, jika Tuhan membawa takdirNya sehingga harus melewati kemeriahan lebaran di kampung mertua, maka menu andalan adalah sambel tumpang dan sambel pecel. Makanan yang dibuat dengan berbahan dasar kacang dan kedele ini selalu nikmat disantap. Sederhana namun selalu punya kesan tersendiri. Apalagi jika makan beramai-ramai memakai “pincuk”, daun yang dibentuk sebagai wadah (piring berbentuk kerucut) menyimpan makanan yang akan disantap.

Menjalani lebaran serta menikmati menu makanan di dua budaya berbeda memang tak akan pernah habis untuk diceritakan. Ketika menyantap makanan pada satu budaya, maka akan teringat dan begitu rindunya dengan menu makanan pada budaya lainnya. Memang metode menyantapnya pun secara umum sama, tetapi rasa yang menyeruak saat menikmatinya pasti sangat berbeda.

Menu lebaran dimanapun sebenarnya akan selalu memiliki daya tarik dan kerinduan tersendiri. Tergantung bagaimana pribadi meletakkan pesona menu lebaran tersebut di dalam pikiran. Sebab, tak sedikit juga ada yang menganggap menu lebaran hanya sekedar bentuk formalitas euforia setiap tahunnya. Intinya adalah kebersamaan.

Hmm… jika sudah seperti ini, maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan didustakan?

Namun, dibalik aneka menu makanan lebaran yang tersaji di atas meja, tentu bukan berarti akhirnya menjadi ajang “pelampiasan”. Bukan menjadi alasan perut harus dituruti segala keinginannya ketika mata melihat dengan selera yang menggiurkan. Puasa selama sebulan penuh justru membawa kita jadi pribadi pembelajar agar segala sesuatu bisa dikendalikan dengan kadar dan batas yang sesuai.

3 Responses to “Menu Lebaran Idaman Dua Budaya”
  1. echaimutenan says:
  2. echaimutenan says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *