Cinta yang Tak Pernah Surut Untukmu, Papa

Cinta yang Tak Pernah Surut Untukmu, Papa sengaja mengisi ruang dalam celoteh blogku. Bukan untuk membuat Papa semakin terkenal akan tetapi menjadikan Papa bahagia di alam sana, Semoga!.Jika aku ditanya, “Siapa orang yang paling aku cinta?”. Maka jawabku adalah Papa. Papa, seorang pahlawan yang tidak pernah tergantikan siapapun di hatiku. Meski mungkin aku juga sudah tak lagi di dunia ini. Bukan berarti bahwa yang berada di dekatku tidak kucinta, akan tetapi rasa cintaku pada makhluk ciptaanNya yang paling besar adalah Papa, almarhum.

Mungkin banyak yang bertanya juga, “Kok, bukan Mama? Mengapa mesti Papa?”. Pertanyaan ini justru sejenak membuat saya harus berpikir keras untuk menjawabnya. Sebab, dimana-mana sosok Mama selalu menjadi pelipur lara bahkan seringkali ada yang sudah layaknya seperti sahabat dengan sang Mama. Tetapi, sedikit berbeda dengan aku. Aku sejak kecil memang sudah sangat dekat dengan sosok Papa. Hingga persoalan pribadi saja semua ditumpahkan ke Papa. Solusi bahkan nasehat untuk seorang anak wanita selalu diberikan Papa. Hampir setiap detik di setia aku berinteraksi dengannya.

Sejak kecil Papa sudah mendidikku menjadi anak yang cinta akan belajar. Selalu saja menjanjikan hadiah dan juga jalan-jalan ke kota ketika nilai saya bagus dan mendapatkan peringkat. Walhasil, perjuangan Papa tidak sia-sia. Menjadi murid yang tidak dapat dipandang sebelah mata dari segi akademik membuat aku justru bersyukur dan semakin mencintai Papa.

April 2010. Kesabaran dan ketabahan aku dan keluarga diuji. Papa sakit dengan penyakit yang tidak biasa. Komplikasi tumor kelenjar limfoma, gagal ginjal stadium 4 dan prostat menjadikan Papa harus berjuang melawan semua itu. Sakit? Ya… Papa merasakan kesakitan yang amat luar biasa katanya. Aku masih ingat kata-kata mendiang Papa:

“Nak, baru kali ini saya merasa sakit. Selama 23 tahun saya mengajar, baru kali ini saya benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal, sekolah dan murid-murid pasti sudah banyak yang menunggu Papa kembali bekerja.” Ucap Papa sambil memainkan alat infus yang sudah akrab dengannya kala itu.

Namun, Papa ternyata adalah manusia baik. Kesabarannya menjalani setiap liku hidupnya menjadikan Papa tidak berumur panjang. Usia 57 tahun adalah lama waktu yang Tuhan berikan kepadanya. Singkat, hanya setengah abad lebih. Terasa cepat Papa pergi. Meninggalkan aku yang saat itu masih benar-benar membutuhkan semangatnya dalam menghadapi “ujian sidang strata dua”. Tetapi, 13 Oktober 2010 silam, Papa benar-benar sudah tiada. Aku yatim bersama ketiga adikku yang lainnya.

Aku menjadi cinta dengan Papa karena kesabaran dan kejujurannya. Bagaimanapun orang berbuat jahat kepadanya, Papa masih mau menolong orang itu. Jujur? Ya… aku akui itu. Meski jasadnya kini tak lagi mampu kurengkuh dengan tanganku, aku masih ada cinta dan doa yang menemaninya disana, Insya Allah.

Tulisan ini akhirnya aku ungkapkan juga dalam rangka mengikuti Lomba Menulis Blog 4 Tahun di Blogdetik: Selalu Ada Cinta milik mbak Julie.

6 Responses to “Cinta yang Tak Pernah Surut Untukmu, Papa”
  1. julie says:
  2. Dewi Ika Sari says:
  3. Nada Marsudi says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *