Blogging

Money Flower: Drama Korea Keluarga yang Sarat Pelajaran Hidup

Money Flower: Drama Korea Keluarga yang Sarat Pelajaran Hidup – Banyak yang mungkin lupa bahwa saya adalah satu penyuka drama Korea sejak di bangku SMA. Hanya saja memang tidak begitu Nampak karena berusaha mengimbangi diri saja. Khawatir juga kalau terlalu cinta banget hingga akhirnya bikin saya sakit, hehe. Iya, saya bisa sakit jika memikirkan sesuatu sampai terlalu mendalam dan serius. Contohnya,  saya kadang memikirkan kapan bisa meet up dengan Lee Jong-suk dan Jang-hyuk. Kalau saya tidak manage, bisa sakit. Karena saya akan memikirkan bagaimana cara saya ke Korea tanpa dana, haha.

Back to the topic…

Mengapa memilih Money Flower? Ya, tentu saja karena ada kaitannya dengan “keluarga”. Sebuah potret kehidupan keluarga yang sangat kompleks. Sebuah keluarga yang menurut saya sudah hancur namun bertahan karena ambisi tahta dan harta. Saya jadi banyak berkaca dalam keluarga yang hampir semuanya terjun dalam dunia bisnis keluarga. Harta seperti kebanyakan orang yang ada di sekitar kita bahwa perusahaan keluarga memang seharusnya dijaga oleh keluarga itu sendiri selagi memang memiliki skill di dalamnya.

Hanya saja di dalam drama yang menjadikan Jang-hyuk sebagai aktor utama ini, banyak sekali pemandangan yang harus dijadikan bahan untuk tidak dilakukan dalam keluarga. Salah satunya adalah iri, cemburu dan persaingan tidak sehat. Sejatinya keluarga adalah orang-orang yang mendukung tanpa pamrih karena suksesnya keluarga juga dirasakan oleh semua pihak.

Namun, namanya manusia yang dibekali akal pikiran dan nafsu, menjadikan setiap jiwa manusia akan merasakan hal berbeda. Ada yang woles saja dengan berjalan sesuai rules, tetapi ada juga yang berupaya licik demi memuaskan kebutuhan dan ambisi pribadi semata. Dan cara inilah seharusnya membuka mata kita sebagai manusia berakal untuk dihindari bukan malah dicontoh.

Lalu, jika yang Nampak hal buruk, adakah pelajaran positif yang bisa dipetik dari drama Korea Money Flower ini? Banyak. Beberapa hal yang bisa dipetik dalam drama ini adalah

  • Saudara adalah saudara. Posisikan mereka sesuai dengan kedudukannya.
  • Jangan anggap remeh anak yatim piatu, sebab sejatinya mereka juga punya hak sama dengan kita. Justru sangat mulia ketika memanusiakan anak yatim yang memang sudah kita ajak masuk ke dalam hidup keluarga kita.
  • Jika ada masalah, komunikasikan! Lagi-lagi membahas masalah komunikasi. Ya, siapapun anggota keluarga berhak untuk mengajukan pendapat. Perlu didengar dan perlu dibantu untuk mencarikan solusi jika memang sedang ada dalam masalah. Bukan malah menekannya dengan tujuan manfaat bagi diri sendiri.
  • Segala sesuatu yang dimulai dari sebuah hal yang buruk, maka otomatis hasilnya akan tidak baik. Seperti dalam drama ini, niat baik kepada keluarga yang hanya berorientasi materi semata, maka nantinya akan mendapat banyak rintangan bahkan materi diperoleh namun ketenangan batin jauh dari dalam diri.

Tokoh utama dalam Money Flower memang terlihat tegas, keras bahkan diam-diam menghanyutkan. Dirinya mencoba bersabar dan menahan segala dendam amarah yang tidak mampu dilampiaskan karena status dirinya. Bahkan dianggap sebagai benalu di keluarga kaya raya. Padahal dirinya adalah putra sulung dari pemegang kekuasaan tertinggi dalam keluarganya.

Dendam yang lama-kelamaan dipendam akan keluar bagai letusan gunung. Mengagetkan semua pihak dan sangat mungkin membuat orang disekitarnya akan merasakan dampaknya. Orang-orang yang selama ini jahat kepadanya akan jauh merasakan sakit. Ya, seperti itulah hidup ini. Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai, bukan?

Ah, saya benar-benar berkaca betapa uang itu tidak punya saudara. Karena hadirnya bisa merusak hubungan harmonis jika berada di tangan-tangan orang yang dalam dirinya sudah bermasalah. Jadi, sudah seberapa aman keluarga kita dari hubungan yang tidak sehat?

Leave a Reply

Instagram