Kisah THR dalam Hidupku

Kisah THR dalam Hidupku – Punya banyak anak, banyak rezeki. Kalimat ini konon sangat terbukti ketika hari raya di depan mata. Anak-anak yang sudah memahami makna “berbagi” di hari raya akan menantikannya seperti sebuah momen penting sebaga ajang harapan untuk mewujudkan harapan terhadap sesuatu. Ya, di hari raya anak-anak sangat menanti banyak yang memberikan lembaran rupiah demi rupiah agar bisa membeli ini dan itu.

Hanya saja, tidak semua orangtua memahami bahwa uang yang diperoleh anak-anak saat itu bisa dijadikan ajang pembelajaran. Setidaknya ada satu pesan untuk berhemat dan tidak sekadar memuaskan keinginan si anak saja. Memang sih hari raya datang sekali setahun, tetapi bukan berarti bahwa semuanya bisa dilakukan tanpa kontrol.

Nah, tidak terlepas juga anak saya yang memang masih balita. Tahun ini adalah hari raya kedua si kecil bisa memperoleh THR (baca: amplop lebaran). Bahkan uang yang diperoleh tahun sebelumnya masih ada sebagian. Tidak habis dibelanjakan semua. Padahal bisa saja saya menggunakannya untuk membeli diapers atau keperluan lainnya. Alasannya apa? Hanya ingin menyimpan jejak bagi si kecil bahwa meskipun usia balita, tetap saja ada yang memberi dan harus dikelola dengan baik. Plus menjejak kenangan bahwa perjalanan hari raya dari tahun ke tahun selalu berubah. Dan saya sempat menuliskannya juga dengan judul Salfa dan Angpau Lebaran.

Bagaimana dengan THR Saya Sendiri?

Sebenarnya saya geli sendiri dengan istilah THR. Lho kenapa? Karena saya bukan orang yang bekerja sebagai karyawan kantoran atau instansi pemerintah. Dimana kerja keras setiap hari selama 11 bulan kemudian diberikan “bonus” dengan nama THR (Tunjangan Hari Raya).

Seorang ibu rumah tangga, bonus tambahan uang jelang hari raya yang diberikan oleh suami adalah hadiah tersendiri. Namun, tidak harus saya nanti setiap tahun karena bergantung pada kondisi ekonomi pada saat itu. Hanya saja, kami berusaha setiap tahun harus berbagi dengan yang lain, paling minimal (dan memang diharuskan) adalah keluarga terdekat sendiri. Seperti saudara kandung, ponakan dan yang lainnya, baik itu dari pihak saya atau suami. Sehingga kami men-setting setiap tahun mampu memberikan THR.

Berbeda ketika sebelum menikah dan Bapak masih ada. Selalu ada sejumlah uang yang diberikan oleh Bapak karena saya berhasil menjalankan target tertentu selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Bahkan jumlahnya di luar ekspektasi saya.

Nah, itu sedikit kisah saya soal THR. Bagaimana dengan kamu? Dapat berapa banyak lebaran tahun ini?

2 Responses to “Kisah THR dalam Hidupku”
  1. Dama Vara says:
  2. Yati Rachmat says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *