Blogging Suara Hati

Berharap Usia Berkah untuk Guru yang Telah Berjasa

Berharap Usia Berkah untuk Guru yang Telah Berjasa – Tak terasa sudah berjalan 15 tahun meninggalkan masa SMA. Masa dimana semua kenangan indah ada di sana. Tetapi tak akan lengkap juga tanpa kenangan pahit. Namun, yang membekas sampai sekarang adalah bagaimana sosok guru memberikan ilmunya hingga bermanfaat seperti sekarang.

Sebut saja tiga bidang yang paling saya sukai waktu SMA, Bahasa Inggris, Matematika dan pastinya Kimia. Namun, bukan berarti bahwa pelajaran lain bukan hal yang indah. Bukan seperti itu. Hanya saja ketiga bisa di atas, mewakili passion saya sampai sekarang.

Bahasa Inggris

Banyak guru yang berjasa di sini. Paling utama adalah alm. Bapak saya sendiri. Beliau guru yang paling pandai dengan ketegasan yang benar-benar membuat saya kagum. Andai dulu saya mengenal Dilan, maka saya pun akan bilang ke teman-teman: “Belajar Bahasa Inggris sama Bapak itu berat. Biar saya saja.” Haha. Dan beberapa mantan siswa bapak juga berpendapat demikian. Tetapi toh Alhamdulillah banyak yang berhasil menjadi pejabat bahkan beberapa yang sudah memimpin kota Maros (kota kelahiran saya).

Selain bapak, ada guru-guru yang statusnya juga sudah almarhum/almarhumah. Mereka sangat berjasa sekali. Dan saya merasa menyesal karena belum membalas kebaikan mereka selain mendokan semoga husnul khatimah…

Guru Bahasa Inggris yang masih hidup juga menurut kabar masih mempertahankan style mengajarnya masing-masing. Namun bukan berarti tidak meng-upgrade ilmu yang sesuai dan dibutuhkan oleh siswa kelak.

Matematika

Baper. Bisa jadi deh setelah menulis artikel soal ini kemudian saya kepikiran akan masa lalu, eaaa. Soalnya dulu pernah terkecoh dengan guru Matematika yang kusangka single eh nggak tahunya sudah punya istri dan hamil besar waktu itu. Asli kayak sinetron banget, haha. Dan dengar-dengar dari teman di kampung, guru saya satu ini semakin menanjak karirnya. Hmm… seangkatan saya yang baca artikel ini please keep silent ya, haha.

Kalau di SMP, sedihnya karena guru saya juga sudah berpulang. Kalau ingat bapak satu ini, saya selalu ingat dengan motor vespa dan mistar panjang berwarna mustard. Asli saya takut sekali tidak mengerjakan PR. Dan salah satu cara saya agar bisa mengikuti pelajarannya dengan baik adalah meminta untuk les sebagai tambahan. Modus? Terserah sih… hehe.

Kimia

Kalau bidang satu ini baru saya dalam sejak duduk di bangku SMA. Guru yang menginspirasi saya di sini adalah tidak lain sahabat alm. Bapak sendiri. Beliau pun sekarang sudah meninggal, lebih dahulu disbanding bapak saya. Meskipun beliau bukan lulusan S-1, tetapi kemampuannya di bidang kimia tidak diragukan. Bahkan dosen-dosen saya dulu di Makassar katanya berguru dari bapak ini.

Sayangnya saya hanya sesekali menjenguk beliau saat kuliah dulu karena kondisi jarak. Dan kalau ingat cerita alm. Bapak, beliau meninggal setelah bapak datang menjenguknya di rumah sakit. Entah apa yang disampaikan oleh beliau kepada bapak. Karena setelah pulang dari rumah sakit, bapak duduk merenung lama sekali. Mungkin saking dekatnya mereka. Ya, bapak menganggap beliau sebagai saudara kandung sehingga ketika datang ke rumah, mama pun akan “masak besar” untuk menyambut.

***

Begitulah kisah saya akan guru. Mereka semua kebanyakan sudah tiada. Jika ditanya ingin bertemu atau tidak, maka jawaban saya tentu ingin sekali, khususnya alm. Bapak saya. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan kepadanya tentang kondisiku saat ini. Ingin kutumpahkan segala kerinduan pada alm. Bapak. Andai saja itu bisa…

Realita:

Bahasa Inggris saya saat ini digunakan untuk mengajar kursus online, menulis artikel bahasa Inggris dan pastinya mengajarkannya ke Salfa. Alhamdulillah Salfa juga senang cas cis cus dengan bahasa ini.

Matematika saya saat ini digunakan untuk mengajar anak, orang-orang di luar sana yang bingung dengan PR Matematika

Kimia saya saat ini digunakan lebih kepada mempelajari takaran resep masakan dengan bahan-bahan tertentu, percobaan atau eksperimen sederhana dengan anak.

Leave a Reply

Instagram