Saat Dia Harus Pergi

Tahun 2010 adalah tahun dimana cobaan jiwa datang secara beruntun. Terhitung sejak bulan September, keluarga mulai disapa takdir kehilangan anggota keluarga. Di mulai dari kepergian kakek, ayah dari Mama. Sakit yang sudah lama diderita akhirnya harus pergi di bulan September 2010. Suasana Ramadhan saat itu menjadi semakin menggetarkan jiwa. Apalagi pada saat itu, lelaki yang paling kucintai sejak aku mulai mengenal dunia, Papa, juga terbaring sakit sejak April 2010.

Penyakit yang entah darimana asalnya, muncul dan mengoyak ketenangan seluruh anggota keluarga kecil kami. Tubuh yang tadinya kekar dan penuh semangat harus berangsur-angsur kurus dan tampak seperti tulang diselimuti kulit. Papa sakit keras. Komplikasi tumor kelenjar limfoma dan gagal ginjal stadium 4, sukses membuat hati tak tenang.

Di saat suasana masih diselimuti duka, dua hari kemudian, Om dari Mama meninggal dunia secara mendadak. Tak sakit ataupun dirawat lama, berita duka itu sontak membuat keluarga besar kami kaget. Padahal saat kematian kakek, beliau masih sempat datang melayat meskipun menurut sebagian keluarga, beliau nampak berbeda dari biasanya. Sikapnya tenang dan hanya menunduk terus. Firasat itu baru bisa dirasakan saat berita kematiannya sudah terdengar. Duka pun kembali menyelimuti kami.

Kematian memang tidak pernah diketahui kapan datangnya. Sampai berita akan kematian selanjutnya pun harus kami dengar kembali. Istri dari Om Mama yang meninggal juga ikut berpulang. Hanya berselang beberapa hari di bulan yang sama, September 2010, tiga anggota keluarga harus pergi untuk selamanya. Jantung dan hati benar-benar diuji agar tetap tegar dan ikhlas menghadapi cobaan yang diberikan Tuhan.

Fokus perhatian sejak kejadian tersebut akhirnya tertuju kepada Papa. Papa benar-benar dijaga agar tidak shock mendengar berita kematian tersebut. Bahkan kematian tante dari Mama tersebut sengaja tidak disampaikan. Khawatir Papa kepikiran dan akhirnya menjadikan penyakitnya semakin parah. Namun, Tuhan memang Maha Segalanya. Usaha kami sejak April hingga Oktober 2010 harus berakhir pada keputusan bahwa Papa harus pergi untuk selamanya.

Ya, 13 Oktober 2010 tengah malam, giliran Papa yang berpulang. Sakit? Iya, sakit sekali. September-Oktober 2013 harus kehilangan 4 (empat) anggota keluarga yang kami sayangi. Sebagai anak tertua dan paling dekat dengan Papa, sungguh bukan pekerjaan mudah dengan kenyataan tersebut. Apalagi kondisi saya sedang menyelesaikan perbaikan tesis karena penelitian sudah rampung dikerjakan. Waktu dimana saya butuh semangat dan nasehat Papa, justru berganti dengan perjuangan untuk ikhlas dengan kenyataan yang harus saya hadapi.

Sampai sekarang, saya masih merasa Papa masih ada meskipun sudah mengikhlaskannya. Karena saya tahu sakit yang Papa rasakan sungguh terasa berat. Dan saya sangat memahami bahwa usia yang semakin tua memang sudah kekurangan tenaga untuk menanggung rasa sakit tersebut. Ya, komplikasi penyakit yang tidak ringan memang.

Entah ikhlas saya berada pada level berapa saat ini. Karena sejauh yang saya ketahui, ikhlas bukan pekerjaan semudah membalikkan telapak tangan. Silakan bayangkan kehilangan yang datang bertubi-tubi. Keikhlasan sebesar apa yang bisa menguatkan saya hingga masih bisa tetap move on meskipun separuh jiwaku sudah tenang di alam sana. Dan saya pun berdoa agar kelak kami dipertemukan di surga-Nya.

Saat Dia Harus Pergi

Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVE AWAY TENTANG IKHLAS

5 Responses to “Saat Dia Harus Pergi”
  1. Lidya says:
  2. Idah Ceris says:
  3. ade anita says:
  4. syukur says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *