Prompt#6: Black

Noura menggeliat berusaha lepas dari security. Sebelum pintu benar-benar tertutup, dia masih sempat berbalik dan berteriak, “Saya sudah mencari Anda bertahun-tahun, Tuan Black. Tiga hari lalu saya melihat facebook Anda dan menemukan kisah yang sama seperti yang selalu diceritakan Ibu saya.”

Menangis sesenggukan di balik pintu besi penjara. Tak pernah percaya tubuh mungilnya akan berdiam pada bilik sempit dan dingin itu. Nekat menyusup ke wilayah militer hanya untuk bertemu Tuan Black, Ayahnya. Penasarannya memuncak ketika usia sudah mengajari Noura untuk bertindak. Tidak lagi seperti bayi yang hanya tenang dan nyaman di atas pangkuan sang Ibu. Tetapi, tindakan Noura terlalu ceroboh. Aksi memasuki ruang inti militer yang dikenal sebagai tempat Tuan Black tercium aparat security.

Prompt#6: Black

credit

Tiga hari sebelumnya…

Dulu, hidupku tak seperti ini. Damai, tenteram dan bahagia. Memiliki istri cantik nan rupawan serta calon bayi yang masih dalam kandungan. Kehidupan berjalan sesuai harapan kami sebelum membina mahligai rumah tangga. Kini, aku kehilangan jejak istri yang kusayangi. Anak yang dikandungnya saat ini mungkin sudah besar. Semua menjadi hitam bak neraka saat terjadi perang antar suku. Pilu.

Aku merindukan mereka. Tetapi tak tahu mereka masih bertahan hidup ataukah ikut menjadi korban petaka. Tak ada jejak.

Mr. Black in Army

“Oh, Tuhan. Tuan Black inikah Ayahku?” Tanya Noura dalam hati. Noura masih saja hanya bisa diam sembari menatap dalam pada untaian kata demi kata yang dituliskan Tuan Black dalam note facebook. Tulisan itu sangat mirip dengan cerita Ibunya.  

Sudah bertahun-tahun Noura mencari keberadaan Ayahnya. Bukan untuk membalas dendam karena tak mendampingi Noura bersama Ibunya. Tetapi saat ini Noura butuh sosok Ayah. Ingin sekali Noura bermanja pada sosok gagah perkasa dan berhati penyayang. Sosok yang tak banyak bicara tetapi cepat tanggap dalam bertindak. Tak pernah menyakiti bahkan Ibunya tak pernah ingat sosok Ayahnya memainkan tangan ketika marah. Diam dan merenung kemudian memaafkan bahkan meminta maaf. Itulah yang paling berkesan dikenang Ibu Noura akan sosok Ayahnya.

“Noura, sudah malam. Tidurlah.” Suara Ibu Noura terdengar dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka.

“Iya, Bu. Sebentar lagi. Oiya, besok saya ingin ke suatu tempat rahasia. Kalau sudah sore aku belum pulang artinya aku menginap di tempat teman. Boleh yah, Bu.” Peluk Noura sambil menunjukkan wajah memelas pada Ibunya.

“Baiklah.”

Noura sudah tenang. Perjalanan besok sudah mendapat restu Ibunya, bertemu Ayah…!

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
21 Responses to “Prompt#6: Black”
  1. hana sugiharti says:
  2. Nunung Nurlaela says:
  3. jiah says:
  4. rinibee says:
  5. Istiadzah says:
  6. Vanisa Desfriani says:
  7. Diah Kusumastuti says:
  8. RedCarra says:
  9. Helda says:
  10. fatwaningrum says:
  11. nurusyainie says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *