Perempuan Inspiratifku (Part 1): Ibu

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.

Bicara soal sosok inspiratif apalagi perempuan, selama setahun ini saya menjatuhkan pilihan kepada “Ibu”. Ibu, begitu panggilan untuk sang ibu mertua. Sosok yang memberikan banyak pelajaran selama setahun ini. Meskipun tak setiap hari bersua dengan beliau, tetapi selalu ada quality time saat berkunjung ke rumahnya, kampung halaman suami saya.

Memang saya baru mengenal beliau sudah setahun ini. Sejak hari pertama menjadi menantu sudah terlihat bagaimana sosok Ibu yang sebenarnya. Tidak sama dengan beberapa ibu mertua (riset kecil-kecilan) yang hanya bersikap baik di awal-awal saja karena untuk mencari kesan baik dan bijaksana.

Ibu memang tidak bisa berjalan tanpa bantuan alat. Namun Ibu tak pernah meninggalkan sholat lima waktu. Tubuh yang gemuk membuatnya memang sedikit sulit bergerak tetapi tidak menjadikan alasan untuk terus berbaring dan berpangku tangan pada anak-anaknya. Ibu bahkan selalu mengatakan jika dirinya “bisa”. Semangat itu yang membuat Ibu sehingga bisa terus menikmati hari-hari dengan aktivitas sebagai ibu rumah tangga.

Perempuan Inspiratifku (Part 1): Ibu

Memasak. Suatu keahlian tersendiri dari ibu. Masakan khas Jawa Timur sangat pandai dibuatnya. Bahkan tangan yang pernah kaku karena penyakit stroke ringan tak pernah berhenti untuk terus bergerak. Meracik sayuran, bumbu hingga memperhatikan detail bahan yang akan digunakan dalam masakan. Dan menurut lidah saya, sama sekali baru pertama kali merasakan masakan Jawa asli, paling suka dengan nasi pecel dan gado-gado buatan ibu. Bumbunya pas, pedasnya mantap hingga nasi sebakul tidak cukup jika menuruti hawa nafsu untuk makan.

Tak pernah memaksakan kehendak. Kelima anak ibu sama sekali tidak pernah dibebankan dengan keinginan ibu. Ibu memberikan kebebasan kepada kelima anaknya untuk memilih jalan hidup masing-masing. Asalkan mereka semua masih berpegang teguh pada jalan agama dan falsafah Jawa. Ibu tidak ingin nantinya dituntut (meskipun tidak mungkin terjadi) oleh anak-anaknya ketika mereka memilih jalan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Sebab yang menjalani adalah mereka sendiri. Ibu hanya sebatas pemberi nasehat dan sekaligus semangat untuk tidak berpatah semangat.

Tak banyak meminta. Jika sebagian besar orang tua selalu mengharapkan imbalan dari anak-anaknya, baik itu berupa materi maupun non-materi, justru Ibu jauh dari hal demikian. Bahkan setiap kali ada anaknya yang ingin memberikan uang, ibu mengatakan: “Kebutuhanmu sudah terpenuhi semua?”. Hal tersebut sangat bertolak-belakang dengan beberapa ibu yang belum apa-apa sudah berharap sesuatu dari anaknya kelak. Apalagi jika baru saja anak diterima kerja, sudah mengungkapkan mau ini mau itu.

Tak suka mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya. Lagi-lagi saya mengatakan bahwa tidak sedikit orang tua, ibu, yang selalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Mulai dari keuangan hingga kepada cara mengasuh anak. Memang nasehat orang tua itu sangat berguna dan dapat dijadikan pelajaran. Namun, bukan berarti bahwa rumah tangga nanti akan berjalan karena perintah dari orang tua. Nah, kalau ibu mertua saya ini sama sekali memberikan tanggung jawab penuh kepada kepala rumah tangga masing-masing anaknya. Jika ada masalah ibu tak sungkan memberikan nasehat atau sedikit solusi untuk bahan pertimbangan.

Hmmm… itu sedikit cerita saya tentan ibu mertua. Saya belajar bagaimana menjadi pribadi yang baik. Apalagi sekarang punya rumah tangga sendiri. Kelak juga akan memiliki generasi. Setidaknya sifat ibu mertua menjadi inspirasi untuk kini dan masa depan.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
10 Responses to “Perempuan Inspiratifku (Part 1): Ibu”
  1. benwicak says:
  2. cputriarty says:
  3. Lina W. Sasmita says:
  4. Shaela Mayasari says:
  5. Bunda Imma says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *