Ketika Perjuangan Terbentur Skala Prioritas

Cerita di Balik Blog

Pilihan pada Skala Prioritas – Kali ini saya ditantang untuk menuliskan bagaimana behind the scene pada sebuah postingan blog yang saya buat. Eh, saya ngaku-ngaku ditantang nih apa gimana ya sama Mbak Uniek? ^_^ Ditantang atau nggak, tetapi saya merasa tertantang. *duh makin njlimet aja rasanya.

Lanjut, ah…

Semua orang punya metode dan tips tersendiri dalam menciptakan sebuah postingan blog yang cetar membahana. Apalagi jika diperhadapkan pada situasi akan menulis dalam rangka lomba atau menerima sebuah tawaran job review. Kreativitas dan tulisan beda dari yang lain harus diciptakan agar memikat pembaca dan khususnya juri.

Tak tanggung-tanggung, seluruh tenaga dan waktu dipergunakan seoptimal mungkin agar hasil postingan jadi maksimal. Dan bagi saya sendiri pun demikian. Meskipun hasil yang saya dapat tak selalu membuahkan bahagia karena mayoritas hasil posting sudah cukup ambil bagian sebagai “penggembira”. Tetapi jika ditanya bagaimana saya melahirkan sebuah postingan dan bagaimana sehingga postingan saya bisa publish? Yuk, simak cerita saya berikut:

  • Memastikan Si Kecil Sudah Tidur Pulas

Hal ini, jujur saya katakan, sebagai salah satu ujian terbesar saya sekarang. Hadirnya si kecil semakin menantang saya untuk memenej waktu sebaik mungkin. Sebab, jika tidak demikian maka blog saya tidak akan pernah ada isinya. Apalagi jika menerima tawaran job review atau sejenis dengan hal tersebut, maka mau tidak mau, tetap harus posting. So, jalan satu-satunya adalah menanti si kecil tertidur pulas di MALAM HARI.

Salfa Tidur

Saking tidak mau jauh dari bundanya

 

Salfa Tidur Pulas

Selalu menantinya tertidur pulas agar bisa tenang menulis

Bagaimana dengan siang hari? Sejauh ini saya belum bisa merasakan nyaman menulis di siang hari, meskipun si kecil sedang asyik bermain. Sebab, saya harus standby di samping si kecil saat bermain karena di situlah saya berkomunikasi dan memperkenalkan hal-hal baru padanya. Dan yang paling jadi alasan serius adalah saya ikut tertidur saat mengajak si kecil tidur siang. Ya, itu juga sebagai cara saya mengembalikan tenaga karena di saat malam hari saya begadang untuk menulis. *semoga bang Haji Roma tidak marah saya begadang karena nge-blog ada gunanya ^_^

  • Membaca Referensi

Saya takut jika apa yang saya tuliskan tidak berdasar. Meskipun sekedar opini pribadi, tetap saja butuh referensi sebelum membuat argumen ini itu. Sangat tidak lucu jika tulisan yang kita tulis justru bakal menyesatkan atau hanya “sekedar” bahan bacaan sambil lalu. Nah, untuk mewujudkan hal tersebut, saya harus punya kuota internet yang lumayan untuk browsing hal-hal yang berkaitan dengan apa yang akan saya tulis. Jika kebetulan kuota sedang menipis, barulah beralih ke buku-buku atau bertanya pada teman yang expert di bidangnya.

  • Postingan yang Kekal Abadi

Saya masih ingat obrolan dengan suami:

“Ma, kalau menulis sesuatu di blog jangan curhat terus. Buat postingan yang kekal abadi meskipun blog-nya sudah lama nggak di-update.

“Kekal-Abadi? Seperti apa?”

“Ya, ibarat membuat masjid. Setiap waktu/hari orang memerlukannya karena untuk menunaikan ibadah. Jadi, buatlah postingan yang orang lain juga membutuhkannya. Bukan sekedar memindahkan apa yang ada di kepala atau mungkin sekedar “senang-senang” saja.”

***

Ya, bersuamikan seorang pejuang untuk menjadi IMers handal memang sedikit banyaknya memberikan saya wawasan. Blog tidak hanya sekedar menjadi “tumpahan” rasa dan ide. Kalau bisa menjadi jalan untuk mendapatkan “sesuatu yang lebih” dari blog, why not? Namun, untuk itu harus banyak effort lagi untuk mengetahui metode dan tips yang digunakan agar postingan menjadi kekal abadi di mata search engine. Kalau pun tidak membuat postingan kekal abadi tersebut, setidaknya tulisan yang dibuat mendatangkan banyak pembaca dan bisa mengambil hikmah dari apa yang ditulis. Dan tentu harus mengikuti pedomannya.

Duh, kalau soal yang satu ini memang tidak akan cukup waktu 24 jam duduk di depan laptop atau komputer. Bagaimana mau 24 jam, lha wong dari si kecil bangun sampai tidur lagi sungguh tidak ada kesanggupan membuka perangkat gadget, *lap keringat*

Sangat beruntung jika kalian masih bisa sebebas merpati. Ciptakan peluangmu untuk berbuat lebih banyak dan sukses di dunia maya. Entah itu menjadi blogpreneur atau internet marketer.

  • Stok Foto

Postingan tanpa gambar rasanya seperti sayur tanpa garam. Ibarat membaca diktat kuliah dengan narasi panjang. Kalau pun ada gambar itupun berupa grafik, hehe… Stok foto pun membuat saya lega jika mayoritas hasil jepretan sendiri.

The Photographer

Salah satu usaha saya membuat objek menjadi cantik di dalam foto

Rasa postingan jadinya nendang kalau menggunakan foto. Nah, untuk mendapatkan foto sebuah objek yang akan dijadikan bahan postingan, saya pun harus sabar menggunakan gadget yang ada saja. Soal penataan objek yang difoto, semua kembali pada kesempatan dan fasilitas pendukung foto. Jika kesempatan dan fasilitas saling mendukung, maka saya bisa membuat hasil foto saya jadi manis. Setidaknya manis dalam pandangan mata saya pribadi.

***Just info… mungkin masih ada yang ingat foto-foto saya soal “Sekolah Kandang Sapi”. Kekuatan foto benar-benar sangat dahsyat. Lewat foto yang saya posting di blog ternyata bisa sedikit membantu dalam bentuk dana ke sekolah tersebut. Hal ini dikarenakan banyak blogger, pembaca online dan dari kalangan lain yang terenyuh dan mau menyisihkan rezekinya demi pembangunan sekolah tersebut. Tetapi, sedikit yang tahu jika saya bersusah payah menjelaskan pada pihak sekolah bahwa tujuan dari saya mencantumkan foto-foto sekolah tersebut. Saking butanya mereka soal blog dan dunia maya.***

Hmmm… memang poin-poin yang saya sampaikan di atas sangat ideal jika melakukannya tiap hari. Blog akan selalu update setiap hari sehingga tak ada kata absen nge-posting. TETAPI… jika kemudian di dalam kenyataan kondisi tidak memungkinkan (baca: anak tiba-tiba rewel, atau intinya halangan datang dari anak), maka blog pun mengandalkan dukungan dari postingan-postingan yang telah lalu sebagai alat pancingan bagi pengunjung blog.

Itu ceritaku soal blog ini yang sudah kurawat sejak 2011 lalu. Banyak suka duka dalam merawatnya. Dan suatu saat akan lebih maksimal lagi hasil yang diperoleh dari nge-blog. Bagaimana dengan kisah di balik blog kamu? Ayo di-share  sambil ikutan Giveaway Cerita di Balik Blog

6 Responses to “Ketika Perjuangan Terbentur Skala Prioritas”
  1. Lidya says:
  2. dian JA says:
  3. febriyan says:
  4. Lusi says:
  5. Pungky says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *