Perubahan Iklim bukan lagi masalah baru. Justru saat ini menjadi perbincangan karena dampaknya semakin hebat dan meningkat. Hal tersebut telah menjadi bahan penelitian para ahli klimatologi. Dan yang lebih mirisnya lagi, perubahan iklim saat ini karena keseimbangan alam yang berubah tidak terlepas dari campur tangan manusia sebagai pengendali sumber daya di bumi.

Definisi Perubahan Iklim

Mungkin tidak banyak yang mengetahui atau mungkin lupa definisi perubahan iklim itu apa. Secara umum jika menyebut perubahan iklim maka akan terpikir tentang perubahan cuaca yang sifatnya tidak menentu. Padahal iklim dan cuaca memiliki kondisi yang berbeda. Hal tersebut dapat dilihat dari dua definisi yang dikeluarkan oleh Gibbs (1987)[1]:

Cuaca adalah Keadaan atmosfer yang dinyatakan dengan nilai berbagai parameter, antara lain suhu, tekanan, angin, kelembaban dan berbagai fenomena hujan, disuatu tempat atau wilayah selama kurun waktu yang pendek (menit, jam, hari, bulan, musim, tahun) sedangkan Iklim itu sendiri adalah Peluang statistik berbagai keadaan atmosfer, antara lain suhu, tekanan, angin kelembaban, yang terjadi disuatu daerah selama kurun waktu yang panjang.

Letak perbedaannya ada pada waktu terjadinya perubahan. Perubahan iklim itu sendiri menunjukkan adanya perubahan kondisi fisik maupun struktur atmosfer. Efek perubahan iklim mencakup tatanan keseimbangan alam yang meliputi seluruh wilayah di bumi ini tak lagi seindah dulu. Bukan tidak mungkin, proses alam yang terjadi karena adanya kerusakan keseimbangan komposisi penyusun hingga peradaban manusia yang semakin hari membuat alam menjadi tak seimbang menjadi penyebab perubahan iklim terjadi. Bagaimana mungkin manusia ikut andil dalam perubahan iklim di bumi ini?

Penyebab Perubahan Iklim Tidak Jauh dari Ulah Manusia

Pengetahuan tentang perubahan iklim semakin banyak saya ketahui ketika duduk di bangku kuliah. Mata kuliah Kimia Lingkungan yang dijadikan hanya 2 (dua) SKS ternyata belum cukup untuk membuka mata para mahasiswa akan perubahan iklim. Pembahasan yang masih umum tidak ada “sentakan” untuk sadar bahwa saat ini perubahan iklim sudah semakin mengkhawatirkan.

Perubahan Iklim dan Peradaban Manusia
Lihatlah apa yang telah kita perbuat
Sumber: FB Norwin

Banyak contoh penyebab perubahan iklim yang tanpa sadar sudah ada di depan mata, diantaranya adalah:

  • Pemakaian Mesin Pendingin, Lemari Es atau Air Conditioner (AC) dengan kandungan CFC (chlorofluorocarbon) yang kemudian disamakan sebagai freon, padahal tidak semua freon itu berbahan CFC. Nah, CFC inilah kemudian memiliki beberapa turunan senyawa yang sangat berbahaya.
  • Emisi gas CO2 (Karbondioksida) bersumber dari transportasi. Dan menurut hasil penelitian dari Clean Air Asia (CAA) peningkatan emisi CO2 mencapai angka 5,26 ton miliar ton yang bersumber dari bidang transportasi.[1]
  • Munculnya Efek dan Gas Rumah Kaca akibat akumulasi gas CO2 yang semakin banyak sebagai wujud pemanasan global
  • Pemakaian Polimer dalam jumlah di ambang batas. Bisa dilihat hampir seluruh produk yang dibuat oleh indutsri besar saat ini menghasilkan berupa barang jadi dengan bahan kemasan plastik. Memang daur ulang plastik dapat dilakukan tetapi jumlah produksi jauh lebih besar dibandingkan output dari industri daur ulang produk-produk tersebut.
  • Kurangnya daerah resapan air akibat proyek pembangunan semakin digalakkan sementara tidak memperhitungkan ANDAL atas pendirian bangunan tersebut, yang penting hasil memuaskan dan untung besar.
  • Kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat (paling fatal ke sungai) merupakan hal yang selau mendapat teguran, baik langsung maupun tidak langsung (baca: pengumuman “Dilarang Buang Sampah”). Tetapi aturan sepertinya dibuat memang untuk dilanggar. Jumlah sampah yang terbuang ke sungai tidak seimbang dengan biota air yang dapat menguraikan sampah tersebut. Di tambah lagi dengan jenis sampah berupa plastik menjadi dominan, yang sudah sangat jelas diketahui jika ada proses penguraian tertentu yang dapat dilakukan untuk bahan tersebut.
  • Dan masih banyak lagi penyebab lainnya. Secara umum, perubahan iklim tidak jauh-jauh dari adanya pencemaran lingkungan di segala aspek seperti udara, tanah, air dan juga suara. Komponen-komponen tersebut tak lagi stabil sehingga terjadi perubahan iklim yang dirasakan dampaknya sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang panjang.

Dampak Perubahan Iklim Secara Global

  • Persediaan air berkurang untuk sekitar 50 juta jiwa karena menghilangnya gletser di Andes.
  • Hasil panen akan mengalami kenaikan harga akibat iklim yang tidak menentu
  • Munculnya penyakit diare, malaria dan juga gizi buruk yang menyebabkan kematian sedikitnya 300 ribu jiwa.
  • Jalan-jalan dan bangunan menjadi rusak di wilayah Kanada dan Rusia karena mencairnya lapisan es di bagian utara bumi
  • Ekosistem laut dan darat menjadi punah
  • Arus teluk menjadi semakin lemah

Dampak yang disebutkan di atas dapat terjadi hanya karena adanya kenaikan suhu 1o saja. Dan penelitian terbaru mengatakan bahwa jika suhu bumi meningkat sekitar 5-6o, maka emisi gas rumah kaca semakin meningkat dalam tingkat yang tak wajar. Lalu, bagaimana jika kemudian suhu bumi terus-menerus meningkat di atas 6o tersebut? Boleh jadi tak ada lagi kehidupan.

Perubahan Iklim dan Peradaban Manusia
Banjir SulSel 2013
Sumber: makassartribunnews.com
Perubahan Iklim dan Peradaban Manusia
Banjir Thailand
Sumber: laskar-suzuki.com

 

Mitigasi dan Adaptasi sebagai Solusi Menghadapi Perubahan Iklim

Mitigasi itu sendiri adalah usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya perubahan iklim dengan mengurangi  emisi gas rumah kaca (green house gases). Salah satu upaya untuk menekan emisi gas rumah kaca tersebut adalah Deforestasi dan Degradasi Hutan, biasanya dikenal dengan REDD. REDD menekan emisi gas rumah kaca dengan meningkatkan cadangan karbon hutan, konservasi dan mengelola hutan agar lebih lestari dibanding sebelumnya.

Cara lain untuk mengurangi emisi gas rumah kaca adalah dengan memperbaiki gaya hidup yang sifatnya menyeluruh, tidak pada satu soosk individu saja. Selain itu, pembangunan yang tidak menghasilkan kadar karbon tinggi.

Setelah mitigasi, ada adaptasi. Adaptasi itu sendiri merupakan bentuk sikap atau pola hidup dalam menghadapi perubahan iklim yang terjadi. Adapun beberapa adaptasi yang sedang digalakkan, baik individu maupun kelompok adalah sebagai berikut:

  • Adaptasi untuk Mengubah Pola Makanan

Pola makan sehari-hari sebaiknya sudah harus menjadi perhatian khusus. Sadar atau tidak, kebiasaan mengkonsumsi daging justru menjadi salah satu penyumbang emisi CO2 tinggi. Bahkan menurut peneliti iklim dan makanan WWF, Tanja Dräger de Teran, mengatakan bahwa CO2 akan ditekan sekitar 9 juta ton jika dalam sepekan hanya ada satu hari digunakan untuk mengkonsumsi daging. Berkenaan dengan hal tersebut, secara otomatis angka kematian akibat penyakit jantung dan kolesterol dapat ditekan sedemikian rupa. Hal ini berlaku bagi seluruh manusia di muka bumi. Yah, lagi-lagi “kampung tengah” (baca: perut) harus menjadi sesuatu yang perlu diseimbangkan.

Perubahan Iklim dan Peradaban Manusia
No Meat
Sumber: http://www.luuux.com/node/3053316
  • Adaptasi dengan Menggunakan Transportasi Non Bahan Bakar

Mungkin salah satu bentuk adaptasi ini masih banyak yang menyepelekan. Namun, jika disadari dengan baik dan telaah yang mendalam, maka emisi gas rumah kaca dapat dikurangi dengan menekan jumlah kendaraan bermotor setiap hari yang berlalu–lalang di jalan. Semakin hari akumulasi CO2 semakin meningkat. Untuk itu transportasi non bahan bakar menjadi salah satu alternatif adaptasi dengan perubahan iklim

Perubahan Iklim dan Peradaban Manusia
Ayo Bersepeda.
Sumber: http://barkyrzone.wordpress.com/2008/08/27/b2w-day-2008/
  • Aparat Pemerintah Desa bersama Petani dan Nelayan Beradaptasi akan Informasi Perubahan Iklim melalui Media Elektronik Radio

Petani dan nelayan sudah selayaknya melakukan adaptasi tentang adanya perubahan iklim dengan mencari berbagai sumber informasi valid. Aparat pmerintah desa sudah seharusnya menyebarkan informasi-informasi kepada petani dan nelayan terhadap kondisi iklim sebenarnya untuk mencegah kegiatan pertanian dan perikanan terganggu akibat iklim yang berubah. Terganggunya kegiatan tersebut akan mempengaruhi laju perekonomian yang ujung-ujungnya berdampak juga pada kehidupan petani dan nelayan tersebut.

Hadirnya Lembaga yang Peduli dengan Perubahan Iklim

  • Oxfam hadir sebagai sebuah konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuh gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan. Salah satu program yang dilakukan Oxfam adalah climate change campaign. Oxfam bersinergi dengan berbagai pihak dalam mengatasi perubahan iklim yang terjadi. Contoh konkrit yang pernah dilakukan Oxfam di Pesisir Teluk Benggala. Oxfam membantu masyarakat disana, khususnya wanita-wanita janda, yang harus kehilangan mata pencaharian sebagai nelayan akibat adanya perubahan iklim. Masyarakat di sana menuntut untuk diberikan keadilan terhadap apa yang mereka alami. Hadirnya Oxfam mampu membangkitkan lagi semangat hidup wanita-wanita janda yang ada disana untuk terus bertahan dan beradaptasi dengan adanya perubahan iklim tersebut. Dan masih banyak lagi kampanye kepedulian yang dilakukan Oxfam dalam rangka beradaptasi akan perubahan iklim yang terjadi.
Perubahan Iklim dan Peradaban Manusia
Cuplikan Web Oxfam – Climate Change Campaign
Sumber: oxfarm.org

 

  • Goethe Institute merupakan universitas di Jakarta yang memiliki program peduli perubahan iklim. April 2011 lalu, saya pernah mengikuti event yang dikelola lembaga ini dalam rangkan ikut peduli terhadap penyebab dan dampak perubahan iklim. Tema “Iklim-Budaya-Perubahan” diusung dengan menghadirkan film-film dokuemnter tentang dampak perubahan iklim. Film yang ditayangkan memperlihatkan betapa dampak perubahan iklim justru lebih dirasakan oleh masyarakat yang sama sekali tidak melakukan tindakan merusak lingkungan. Beberapa wilayah yang menjadi korban harus survive demi kelangsungan hidup. Tak hanya satu film tetapi beberapa film dengan dampak perubahan iklim yang beragam. Film tidak bersifat komersil dan hanya diperuntukkan bagi komunitas yang peduli akan perubahan iklim yang semakin nyata terjadi.
  • Masyarakat Kalimantan Tengah yang bekerja sama dengan WWF terus melestarikan wilayah yang dikenal “Taman Nasional Sebangau”. Taman ini menjadi aset untuk mempertahankan ekosistem hutan mangrove dengan beberapa jenis tanaman yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan Kalimantan pada umumnya. Bahkan, masyarakat sekitar menggencarkan kerja sama dengan berbagai pihak dari luar negeri untuk ikut berpartisipasi dalam hal publikasi keunikan ekosistem di sana.

Perubahan Iklim itu nyata. Jika kemudian saya, Anda dan kita semua masih berpikir cara terbaik untuk mencegah dan mengatasi perubahan iklim, mungkin sudah waktunya untuk bertindak secara nyata dan tentu saja dengan hati.

Referensi:

[1] http://id.shvoong.com/exact-sciences/astronomy/2242065-pengertian-perubahan-iklim/

Achmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Penerbit: ANDI Yogyakarta.

http://iklim.dirgantara-lapan.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=79

http://www.dw.de/konsekuensi-mahal-perubahan-iklim/a-16467217

http://www.dw.de/lindungi-iklim-dengan-tidak-makan-daging/a-16385691

http://mamka-blog.blogspot.com/2012/01/pengertian-adaptasi.html

http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/apa-itu-redd/

http://oxfamindonesia.wordpress.com/oxfam-at-a-glance/

Facebook
Twitter

Related Posts

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *