Inovasi Pelindo III dengan Pesatnya Perkembangan Smart-Green Port Terminal Teluk Lamong

Automated Stacking Crane

Inovasi Pelindo III dengan Pesatnya Perkembangan Smart-Green Port Terminal Teluk Lamong – Siapa sangka jika kemudian saya sebagai warga biasa bisa berkunjung ke Terminal Teluk Lamong. Sebuah terminal yang merupakan anak perusahaan milik PT. Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau dikenal dengan Pelindo III. Terminal yang sejak 2011 lalu sudah dibangun secara bertahap sebagai perkembangan dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Jika sebelumnya saya sudah berkunjung ke Terminal Nilam (melihat Tangki Timbun) dan Terminal Peti Kemas Surabaya (melihat arus peti kemas), kali ini sungguh beruntung bisa melihat langsung Terminal Teluk Lamong yang digadang-gadang sebagai terminal laut di Pulau Jawa dengan konsep smart-green port.

Perkembangan Teluk Lamong Sejak Beroperasi 2014

Sejak tahun 2011, pembangunan Terminal Teluk Lamong yang sudah mulai beroperasi tahun 2014 ini pun menunjukkan angka yang significant. Konsep smart-green port menjadi pusat perhatian karena di terminal ini hanya fokus pada arus ekspor-impor peti kemas dengan komoditas pakan dan pangan (food and feed).

Terminal Teluk Lamong Pelindo III Surabaya
Doc.Pri: Terminal Teluk Lamong Surabaya

Terminal Teluk Lamong memiliki daya tarik tersendiri bagi pelaku ekspor-impor barang skala internasional sehingga diakui oleh Dothy, selaku Direktur Utama Terminal Teluk Lamong, Terminal Teluk Lamong mampu menjadi tempat pelayanan bongkar muat dengan efisiensi tinggi. Tahun 2016 arus peti kemas yang terjadi mencapai 243.245 TEUs dan meningkat hingga 200% karena di tahun 2017 mencapai 493.071 TEUs.  

Teluk Lamong sebagai Smart-Green Port

Tak hanya dengan peningkatan arus produksi dan kinerja yang naik pesat, Terminal Teluk Lamong tidak lupa dengan tujuan awal yaitu menjadi smart-green port di Indonesia. Sehingga Terminal Teluk Lamong hanya menangani arus curah kering sekali lagi ditekankan hanya untuk komoditas pangan dan pakan. Melayani jasa bongkar muat peti kemas dan curah kering dilakukan dengan peralatan modern, Terminal Teluk Lamong pun dikenal sebagai “terminal pintar” yang mendongkrak perekonomian di Indonesia.

Automated Stacking Crane
Doc. Pri: Automated Stacking Crane

Tidak hanya itu, menyandang sebagai green port, pastinya Terminal Teluk Lamong tidak menggunakan bahan bakar selain tenaga listrik. Hal ini untuk mengurangi adanya emisi gas buang. Yaa namanya saja green pastinya ramah lingkungan gitu deh…

Menelisik Lebih Dalam Fasilitas Terminal Teluk Lamong

Berjalan jauh ke Terminal Teluk Lamong tidak membuat saya merasakan lelah. Justru yang ada adalah kekaguman luar biasa akan inovasi Pelindo III dalam hal efisiensi logistik. Eskalasi produksi dan kinerja Terminal Teluk Lamong sejak pembangunannya di awal 2011 lalu, berkembang pesat dengan ketersediaan fasilitas dan peralatan modern plus ramah lingkungan.

Di Terminal Teluk Lamong inilah kita temukan adanya 10 blok Container Yard dengan kapasitas 756.000 TEUs yang dilengkapi dengan ASC, Automated Stacking Crane, sebuah alat semi otomatis yang bergantung pada arus listrik. Kecepatan kerja alat ini mampu bekerja 2,7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan RTG, Rubber Tire Gantry.

Blok Container Yard Terminal Teluk Lamong
Doc. Pri: Blok Container Yard Terminal Teluk Lamong

Kinerja alat modern ini dikontrol langsung di atas menara ASC. Dengan menggunakan stik dan komputer, karyawan yang sedang shift bekerja harus memastikan seluruh peti kemas terkontrol dengan baik. Panjang dermaga Terminal Teluk Lamong yang mencapai 500 meter ini dilengkapi dengan 10 unit Ship to Shore Crane yang daya angkatnya mencapai 45 box/jam. Bisa dibayangkan bagaimana efiseinsi kinerja alat yang ada di Terminal Teluk Lamong ini. Saya sendiri yang menyaksikannya pun hanya bisa terperangah ketika berada di atas menara.

Menyaksikan mesin-mesin bekerja otomatis tentu saja pengalaman berharga tak terlupakan. Pelindo III sudah membantu saya aware bahwa di pelabuhan tidak semata-mata hanya ada kapal besar tetapi ada aktivitas yang selama ini tidak terlihat oleh mata orang awam seperti saya. Apalagi saat melihat bagaimana petugas di menara memastikan tidak ada peti kemas yang mengalami trouble untuk diangkut.

Fasilitas Modern Terminal Teluk Lamong untuk Operasional Curah Kering

Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas bahwa di Terminal Teluk Lamong melayani bongkar muat barang curah kering. Sehingga peralatan dan fasilitas yang ada pun disesuaikan. Terdapat 2 unit Grab Ship Unloader (GSU) yang kapasitasnya 2.000 ton/jam digunakan untuk membongkar muatan yang berasal dari kapal menuju conveyor sepanjang 900 meter. Conveyor inilah yang dimanfaatkan sebagai jembatan muatan curah kering langsung menuju gudang penyimpanan untuk menghindari adanya antrian truk di dermaga.

Menara Kontrol ASC Terminal Teluk Lamong
Doc. Pri: Tampak Petugas yang Sedang Mengontrol Crane yang Mengangkut Container

Ya, selama ini kita tahu bahwa truk-truk besar selalu menjadi problematika tersendiri ketika melakukan arus bolak-balik dari dan menuju pelabuhan untuk mengangkut barang hasil bongkaran dari kapal. Dengan adanya conveyor, masalah tersebut bisa ditekan.

Kontainer yang Sedang diangkut ASC
Doc.Pri: Kontainer sedang diangkut ASC yang Disaksikan dari Menara Kontrol

Terminal Teluk Lamong juga menyediakan fasilitas gudang dan silo yang masing-masing digunakan untuk komoditas tepung dan komoditas kacang-kacangan. Luas area sekitar 10 Ha, sudah bisa dipastikan mampu memuat hingga 200.000 ton untuk dua komoditas barang tersebut.  

Arus Truk Angkut Kontainer Dari dan Menuju Kapal
Doc. Pri: Arus Truk Angkut Kontainer Dari dan Menuju Kapal di Terminal Teluk Lamong

Pembangunan Fly Over untuk akses Terminal Teluk Lamong ke Jalur Lingkar Luar Barat (JLBB) Surabaya

Pelindo III tidak berpuas diri dengan hadirnya Terminal Teluk Lamong sebagai smart-green port saja, tetapi terus membutkikan bahwa di Terminal Teluk Lamong masih terus mengalami perkembangan dan pembangunan. Saat ini sedang fokus dalam pengembangan fly over dengan tujuan mempercepat pengiriman arus barang, lokal maupun regional, dari dan menuju pelabuhan. Selain itu, bisa menurunkan angka kemacetan lalu lintas di jalan raya karena fly over ini terhubung langsung dengan jalan tol, Romokalisari.

Menurut Dothy sendiri yang diwakili oleh Bapak Reka Yusmara, selaku Corporate Communication Section Head PT Terminal Teluk Lamong, mengatakan bahwa pembangunan fly over diharapkan selesai tahun 2030 dan saat ini juga berharap masuk sebagai 5 eco-friendly multipurpose terminals operator di ASEAN tahun 2020 mendatang.

Setiap prestasi dan inovasi Pelindo III di Terminal Teluk Lamong ini, tidak lain dan tidak bukan tujuan dari setiap pembangunan yang terjadi di Terminal Teluk Lamong adalah memberikan kontribusi terbaik bagi arus logistik nasional Indonesia.

Mari kita saksikan ke depannya inovasi terbaru apalagi dari Pelindo III untuk mengusung smart-green port dari Terminal Teluk Lamong ini.

***

Dokumentasi Pribadi Hasil Kunjungan ke Terminal Teluk Lamong

Mungkin ada yang ingin melihat bagaimana kondisi Terminal Teluk Lamong sebagai Smart-Green Port yang sudah saya tuliskan di atas. Berikut adalah video singkat yang sempat terekam dalam kamera saya:

 

Facebook
Twitter

Related Posts

18 Responses

  1. Artikelnya bagus. perkenalkan saya dari aceh sedang research tentang implementasi smart port di Indonesia. adakah referensi lain dalam bentuk artikel yang bisa di-sharing?. terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *