Hari Blogger Nasional: Are You a Really Blogger?

Hari Blogger Nasional: Are You a Really Blogger? – Bingung mau nulis apa. Semuanya dengan tema ini pada nulis benefit blog yang sudah didapatkan. Bahkan prestasi yang katanya bejibun pun sudah ditulis dan dipamerkan dengan tujuan orang lain termotivasi. Eh nggak tahu juga deh kalau ada niat di balik itu. Asal nggak sampai ke ranah “merusak diri” saja. Ya, seperti kalimat Bugis yang berbunyi: puji ale makkasolang. Artinya? Let’ googling!

Kita flashback sejenak ya. Saya mulai nge-blog tahun 2008. Tetapi, baru mendapatkan “kebahagiaan” di tahun 2011. Jadi, perjalanan saya untuk mencapainya membutuhkan waktu yang lama. Mungkin pada saat itu saya sambi dengan kuliah S2 sehingga tidak meluangkan waktu full untuk belajar lebih waktu itu. Namun akhirnya saya terbangun di tahun 2011 setelah bertemu dengan beberapa inspiring people di dunia blogging. Bahkan di antara mereka sudah ada yang berpulang ke sisiNya. Just guest them!

Tahun 2011 sampai sekarang, banyak hal yang berubah seiring waktu. Mulai dari passion nge-blog yang semakin menjamur, hingga saling sikut-sikutan demi blog-nya ngebul. Memang ada yang seperti itu? Ada dong. Just check your blogging society! Dan inilah yang membuat saya terkadang diam sembari di pikiran bertanya: are we really a blogger? Ataukah hanya sekadar “menulis di blog”. Duh, ditoyor rame-rame nggak ya, hehe.

Atmosfer blogging pun menjadi berubah. Saya masih ingat dulu kita nge-blog itu benar-benar santai tetapi serius. Yang bisa mengajari yang belum bisa. Yang paham SEO, tidak sungkan-sungkan share ilmunya bahkan sampai membantu sampai benar-benar nge-SEO. Dan saya mengalami masa itu sehingga tulisan saya pun akhirnya bisa terbaca di page one. Kerjasama backlink luar biasa kala itu. Tetapi sekarang, kadang blogwalking tetapi nggak di-blogwalking-in balik. Makanya saya pun berprinsip, akan blogwalking ketika di blogwalking duluan. Jahat? Hmm… nggak juga, haha. Bagi saya itulah yang terbaik daripada saya harus menanti komentar di blog dengan pikiran negatif.

Semakin tua usia blogging, kondisi orang-orang pun beragam. Terlihat mana yang benar-benar teman dan mana yang berteman karena ada kepentingan. Bahkan sekarang ada yang tadinya teman sudah tidak pernah lagi mengajak ke event hanya karena pernah menolak kerjasama untuk satu event. Di sini saya merasa, ah jadi blogger sungguh banyak cobaan hatinya.

Kondisi ini pun sering jadi tema pembicaraan saya dengan suami. Hingga suami pun memberi masukan bahwa menjadi blogger tidak melulu harus mengikuti semua event. Daripada mengikuti semua tetapi memupuk omongan negatif orang-orang yang notabene masih satu naungan komunitas blogger. Hidup kalau punya musuh pasti nggak tenang. Jadi berjalanlah sewajarnya. Mau tutup kuping juga nggak mungkin lha wong telinga ada dua.

Ya, sering saya ikut nasehat suami, tetapi kadang juga ngeyel. Nah pas kepentok, yaa tanggung sendiri rasanya, haha.

Iya, suami yang saya peroleh karena nge-blog. Dan jujur inilah benefit yang sungguh tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ya iyalah, saya hanya blogger desa yang merantau ke kota, eh bisa dapat jodoh. Kalau benefit lainnya, hmm… cukup jadi memori di kepala saja. Atau setidaknya nanti disampaikan pada kalangan orang-orang yang baru belajar nge-blog supaya termotivasi.

Hmm… masuk dunia milenial, blogging juga menyesuaikan. Tadinya hanya tulisan plus foto penunjang, sekarang harus bisa utak-atik editing photo plus video. Eh satu lagi, infografis. Konon, kelebihan postblog dengan skill tersebut jadi nilai tambah sendiri. Pembaca semakin banyak katanya. Bahkan dilirik agensi semakin besar. Apakah betul seperti itu? Lantas, bagaimana dengan yang tulisannya bagus tetapi tidak bisa desain, video editing dan sebagainya? Kalah? Belum tentu. Kalau tulisannya mampu dicerna dengan baik, ringan plus memang sedang dibutuhkan oleh penggiat dunia maya, pasti dong tetap banjir pembaca atau viewers. Jadi, keep writing itu yang lebih penting kalau saya pribadi. Ngga setuju? Silakan.

So, sekuat apapun persaingan dunia blogging saat ini, saya masih bersyukur karena ada saja email yang masuk. Meskipun tidak tiap hari, tetapi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan saya sebagai ibu dari satu orang anak. Mungkin saya menanti lomba blog berhadiah rumah. Ya, my wishlist yang paling atas untuk saat ini. Kalau ada, kasih kabar ya, hehe…

Be yourself! Karena semakin banyak membaca blog orang, memang akan semakin terlihat beragam style cara menulis. Namun, bukan berarti harus menghilangkan jati diri. Karena menjadi orang lain itu tersiksa lahir batin. Seriously. Jika style-mu serius, ya dibuat serius aja. Begitu juga kalau kocak. Tetapi tetap harus punya “isi” saja dalam tulisan. Begitu kata para blogger senior yang saya jumpai.

Yuk, keep blogging. Dapat sesuatu atau nggak dari nulis, just let it flow. Karena percaya saja, rezeki tidak akan kemana. Meskipun saya manusia biasa yang kadang merasa ah enaknya jadi si A, sejak jadi blogger menang terus. Enaknya jadi si B, karena blogging dia bisa kemana-mana, dan lain sebagainya yang kadang terlintas di kepala. Tetapi setelah merenung kembali dengan melihat effort yang saya lakukan selama ini dan ingat tujuan saya diciptakan, kembali tenang lagi. Kata Bu Septi P. Wulandari di sebuah seminar, rezeki memang harus dicari tetapi bukan berarti menghalalkan segala cara. Apalagi sampai mengubah prinsip hidup yang tadinya sudah benar menjadi keliru. Kemuliaan-lah yang harus dicari sesungguhnya. Karena itu jadi modal untuk tanggung jawab kelak di sana. Duh, berat banget ya kalau sudah dibahas mendalam…

Well… intinya tetap menulis. Karena nyawa sebuah blog adalah tulisannya…

Selamat Hari Blogger Nasional

8 Responses to “Hari Blogger Nasional: Are You a Really Blogger?”
  1. Nurulrahma says:
  2. Tatit says:
  3. Nining says:
  4. Inayah says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *