Cerita Setelah Lebaran: Waktu yang Tidak Akan Kembali

Cerita Setelah Lebaran: Waktu yang Tidak Akan Kembali – Lebaran 1438 H sudah berlalu. Kini menyisakan aktivitas liburan yang masih tersisa. Meskipun sudah ada pegawai pemerintah memulai aktivitas di kantor. Anak-anak yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SD-SMP-SMA pun masih menikmati beberapa hari lagi sebelum bertempur lagi di dunia akademik. Dan tempat wisata yang masih saja belum sepi pengunjung.

Lebaran tahun ini memang saya diberi rezeki oleh Allah sehingga bisa pulang ke Maros (wilayah Makassar dan sekitarnya). Alhamdulillah masih diberi umur panjang sehingga bisa bertemu dengan Mama, tiga adik saya serta keluarga lainnya yang masih stay di Maros dan Makassar. Bahagia rasanya karena 2 tahun baru bisa bertemu mereka lagi. Bahkan teman-teman SMP-SMA yang sudah lama sekali tidak bertemu, saya masih bisa bersua beberapa dari mereka.

Namun, lebaran kali ini saya mengambil banyak hikmah dari kepergian salah seorang sahabat baik saya di bangku SMA. Ya, kepergiannya menurut saya sangat mendadak karena sama sekali tidak tahu jika beliau sakit sepekan sebelum menghembuskan nafas terakhir. Padahal, saya dan beberapa teman yang tergabung dalam satu grup WhatsApp pun menyayangkan soal kondisi beliau yang tidak di-share. Ah, tetapi memang sudah jalannya seperti itu. Allah paling tahu menempatkan pelajaran baru untuk saya dengan kondisi di sekeliling.

Teman saya ini memang 10 tahun sudah menderita penyakit Hepatitis. Tetapi saya sendiri mendapat informasi paling akhir bahwa beliau sudah sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala. Selama itu pula saya tak lagi mendapati kabar bahwa sakitnya seringkali datang dan mengharuskannya dirawat di RS lagi dan lagi. Dan menurut dokter yang merawat (menurut cerita suami beliau), teman saya ini termasuk orang dengan kondisi fisik yang kuat. Karena penyakit yang sudah sangat parah ini bisa dijalaninya hingga bertahun-tahun. Sementara secara umum, ada yang tidak sanggup mencapai waktu setahun saja.

Ya, waktu yang tidak akan kembali mempertemukan saya dengan beliau. Ingin rasanya bertemu dan menanyakan kondisinya serta memohon maaf jika sekiranya ada masalah atau perasaan tidak enak selama menjadi teman saya. Namun, satu lagi yang membuat saya bersyukur, beliau tidak pernah dendam bahkan selalu memaafkan duluan kesalahan orang-orang sekitarnya, apalagi teman-teman yang dianggapnya sudah seperti saudara sendiri. Dan kami memang satu grup pagarumbang yang membahas masalah-masalah pribadi yang saling memicu nostalgia dan motivasi untuk bangkit dan pastinya tidak lupa dengan Allah.

Beliau memang sudah tiada. Di bulan Ramadhan yang dirinya menanti malam ganjil, menghembuskan nafas terakhirnya. Saya percaya beliau husnul khatimah dengan segala kisah ke-sholeh-an yang dimilikinya. Saya sendiri malu dan benar-benar harus duduk termenung dan memikirkan seberapa banyak waktu yang telah saya lewati dan terbuang percuma.

Kini, suami dan anaknya sangat berharap pada kami, selaku sahabat baik beliau, agar tidak putus doa untuknya di sana. Saya benar-benar kehilangan sosoknya, tetapi semangat kesederhanaan dan keramahannya membuat saya yakin, beliau akan menjadi salah satu yang akan mencari saya kelak jika tidak terlihat di surga.

Lebaran kali ini memang tidak lagi bertemu dengan beliau. Tetapi insya Allah tetap sambung silaturahim dengan ibu serta keluarganya. Karena keluarga beliau sudah seperti keluarga kami juga. Waktu tidak akan pernah kembali, hikmah kepergian beliau sungguh membuat saya semakin berpacu dengan waktu untuk menabung bekal kehidupan kekal di sana.

One Response to “Cerita Setelah Lebaran: Waktu yang Tidak Akan Kembali”
  1. Yati Rachmat says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *