Cerita Anak SMA: Aku Bisa Matematika karena Jatuh Hati akan Gurunya

Cerita Anak SMA: Aku Bisa Matematika karena Jatuh Hati akan Gurunya adalah kisah yang sengaja saya angkat untuk dijadikan bahan renungan. Tidak hanya untuk teman seangkatanku (2000) tetapi adik-adik yang kini juga masih duduk dan akan duduk di bangku SMA.

Sebagaimana yang diketahui bahwa masa SMA adalah masa dimana sebuah kenangan yang tidak pernah lekang oleh waktu. Meskipun konsentrasi ilmu saya adalah Kimia, tetapi untuk pelajaran Matematika, saya juga masih memiliki pemahaman untuk mengerjakan soal-soal Matematika dari tingkat SD hingga SMA. Saya tidak mengatakan diri saya pintar tetapi saya bisa Matematika. Meskipun ada beberapa pokok bahasan dalam Matematika yang rumusnya masih tidak terhapalkan, tetapi jika melihat kembali rumusnya, soal yang menyangkut pokok bahasan tersebut masih bisa saya kerjakan.

Kemampuan itu sebenarnya digenjot oleh mendiang Ayah tatkala saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Setiap hari saya sudah merasakan yang namanya “begadang” untuk mengerjakan soal-soal Matematika bahkan diselingi dengan bercakap bahasa Inggris. Hmmm… kalau zaman anak sekarang yang mau dibuat seperti itu bakalan protes dan protes.

Awalnya saat itu saya tidak terima dalam hati tetapi mendiang Ayah selalu menjanjikan hadiah jika saya bisa menjawab semua soal yang Ayah berikan. Jadi motivasi saya belajar saat SD adalah hadiah. Naik ke jenjang SMP ternyata Ayah tidak berhenti dengan metode pengajarannya yang seperti itu. Ayah membuat kerja sama dengan semua guru Matematika di SMP hingga jika saya tidak mengerjakan PR, maka mereka tidak segan-segan menghukum saya di kantor untuk mengerjakan PR tersebut 2x lipat di rumah. Hasilnya, saya menjadi juara II terbaik keluar dari SMP karena nilai saya baik, khususnya Matematika.

Nah, masuk ke SMA hingga terukir cerita anak SMA. Kasusnya sudah berbeda. Ayah tidak lagi menggenjot saya dalam belajar sebab kesadaran saya sendiri yang akhirnya membuat saya kemudian belajar sendiri. Rasanya aneh ketika setiap hari tidak membuka buku apalagi tidak menjawab soal-soal Matematika. Ditambah lagi saya punya paman yang selalu melatih saya dalam soal-soal Matematika. Jadi, sebagian besar cerita anak SMA saya habis dengan soal-soal.

Cerita anak SMA saya jadi semakin bermakna lagi ketika harus jatuh hati dengan guru Matematika. Namun jatuh hati yang saya lakukan bukanlah seperti cerita anak SMA lainnya yang jatuh hati hingga menggalau. Jatuh hati ini kemudian semakin memaksa adrenalin saya untuk belajar lebih giat karena guru Matematika saya selalu menyebut-nyebut nama siswa yang suka dengan Matematika apalagi yang nilainya bagus. Semakin guru Matematika seperti itu, soal-soal kemudian saya kerjakan tanpa disuruh lagi. Bahkan, bab-bab Matematika yang belum dipelajari saya sudah menjawabnya. Hasilnya guru saya senang dan nilai saya bagus. Bahkan saking jatuh hatinya, rasanya ingin pelajaran Matematika saja setiap hari, hehehehe…

Hasil dari jatuh hati saya sebagai bumbu cerita anak SMA kali ini menjadikan saya saat ini sering diminta adik-adik baik SMP maupun SMA untuk membantu mereka untuk menjawab soal Matematika. Apalagi sekarang saya kemudian bergabung sebagai tentor Matematika di sebuah bimbingan belajar.

Hmmm… itulah sedikit cerita anak SMA yang memanfaatkan konsep jatuh hati untuk menjadi semangat belajar. Itu ceritaku, mana ceritamu??? 😀

Facebook
Twitter

Related Posts

4 Responses

  1. Keren.
    Malah saya belum sempet nulis cc : Om Gempur 😀
    😆 Ampuuunn hhee

    Koment diatas ciiieeeyyy… asix – asix.. 😀
    Mantap Oiii..
    Tapi klo saya kok malah guru matematika laki, jadi mlh benci waktu itu.
    tapi Guru Kimia 😀 udah cantik ayuu.. belum nikah lagi. behhh….

    #Keep spirit. keren tulisannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *