Reportase

Cara Mudah Mengisi Kemerdekaan dengan Konten Positif di Media Sosia

Cara mudah mengisi kemerdekaan dengan konten positif di media sosial sudah seharusnya dipahami oleh siapa saja saat ini. Apalagi dunia digital sudah menjadi kehidupan yang harus dijalani. Jika lengah, maka bersiap untuk tergerus zaman dan akhirnya tertinggal karena tidak semua orang akan peduli.

Dalam konteks kemerdekaan yang sudah 75 tahun dicapai oleh Indonesia, ternyata tidak semua memaknainya dengan benar. Bebas melakukan apa saja sesuai kehendak hati tanpa pikir panjang efek yang akan terjadi, semuanya hanya untuk satu kata, “tenar”.

Padahal, kemerdekaan yang dimaksud pastinya tetap dalam batas wajar dan selalu taat akan hukum yang berlaku. Dan disinilah pentingnya kecerdasan literasi digital agar tetap berjalan sesuai norma meskipun ikut menikmati kekinian zaman yang semakin seru.

Beruntung karena masih ada yang peduli dengan pentingnya pemahaman literasi digital. Salah satunya adalah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang disingkat KPPPA, membuat sebuah webinar via Zoom yang bertajuk: “Mengisi Kemerdekaan dengan Konten Positif”

Dengan segala keterbatasan gawai yang saya miliki, menyimak materi yang dipaparkan oleh 3 narasumber cukup membuat semangat untuk menciptakan konten-konten positif kembali menguat. Lalu, bagaimana cara membuat konten positif untuk mengisi kemerdekaan itu?

Stay tune, terus ya!

Cara Membuat Konten Positif dan Keren ala Amy Kamila

Karena harus mengisi kemerdekaan dengan konten positif, maka pastinya kemudian ada tanya dalam hati yang bergejolak:

Konten positif itu seperti apa sih?
Konten yang saya buat, keren atau tidak?

Nah, Amy Kamila selaku narasumber pertama pada webinar tersebut menyebutkan bahwa konten positif dan keren itu pasti diawali dari ide yang dikaji lebih dalam dan dituliskan, bukan sekadar diendapkan dalam pikiran semata.

Apalagi jika ada niat untuk menjadikan sebuah konten itu viral, maka sudah pasti untuk meyakinkan terlebih dahulu bahwa konten tersebut positif dan bisa membuat orang berperilaku positif juga. Jika sebaliknya, pasti akan kembali kepada siapa yang membuat konten tersebut di awal.

Nah, untuk itu penting untuk mengolah ide yang diperoleh, baik itu berupa gambar, tulisan atau video sehingga tak sekadar menjadi konten yang siap dibagikan, tetapi juga memiliki rasa, makna dan pastinya manfaat pada siapa saja yang melihat. Tentukan juga target dari konten yang dibuat.

Berjuang di Era Social Media ala Ani Berta

Setelah memahami konten seperti apa yang harus dibuat, maka selanjutnya adalah bagaimana menjadikan konten tersebut sebagai media juang untuk mengisi kemerdekaan. Karena setelah konten sudah dalam status publish, maka sudah seharusnya digerakkan untuk:

  • Perang melawan hoax
  • Mengawal informasi
  • Amunisi Edukasi

Lalu, harus seperti apa sehingga terwujud perjuangan seperti poin disebutkan di atas? Maka sudah selayaknya kita segera memperkuat konten personal dengan positive tones, seperti menjauhi perdebatan, memberikan spirit dan juga motivasi agar terdorong berbuat lebih baik.

Konten yang disajikan pun sebaiknya mengandung wawasan, tutorial bahkan sebuah input dari tokoh tertentu yang memiliki pengaruh terhadap masyarakat luas.

 

“Indonesia Darurat Literasi,” kata Kang Maman Suherman

Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Mbak Amy dan Mbak Ani mengenai konten positif, maka Kang Maman pun menyuarakan bahwa memang Indonesia sedang berada pada titik darurat literasi.

Maka beliau merangkum dengan merumuskannya dalam 5R, yaitu:

  • IqRa’. Dalam Al-Qur’an hal ini sudah diulang 13x. Tatafakkarun, Tadabbarun. Maka penulis yang baik selalu membaca ulang sebelum posting.
  • Research. Selalu riset menggunakan DATA. Datanya bukan katanya. Perhatikan apa yang dibicarakan. Apakah itu kenyataan atau sekadar pernyataan.
  • Reliable. Tingkat kesalahan 0. Yang artinya, kita harus melihat secara keseluruhan.
  • Reflecting. Lihat dari segala sudut. Perkaya sudut pandang kita. Semua agama pasti mengajarkan keberagaman.
  • WRite: Tulislah. Itu perlu. Untuk menjadi penerang. Manusia diciptakan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Cahaya bagi umat manusia yang lainnya.

Bahkan jika saya ingin menambahkan, menulis itu penting untuk mengikat ilmu yang kita ketahui. Selain itu, penting juga menerapkan Komunikasi, Kolaborasi, Kreativitas dan Kreatif Berpikir (4K). Cerdas itu tak hanya soal numerik, finansial, budaya dan baca tulis saja karena saat ini juga dibutuhkan cerdas dalam literasi digital.

***

Well, cara mengisi kemerdekaan dengan konten positif di media sosial memang terlihat mudah. Namun, sekali melangkah pada anak tangga yang keliru, maka jejak digital tidak akan pernah bisa dihapus begitu saja. Maka, kalau bukan sekarang untuk meng-upgrade diri agar cerdas literasi digital, lalu kapan lagi?

Leave a Reply

Instagram