Bicara soal uang, sungguh hal yang sangat sensitif. Apalagi jika sudah berubah status menjadi istri yang mengurus rumah tangga dan ditambah dengan kehadiran buah hati. Pusing tak jarang menjadi penyakit yang menyerang saat bergelut dalam pekerjaan mengelola keuangan keluarga. Bukan hanya karena pemasukan yang “boleh jadi” kurang tetapi juga karena pengeluaran membengkak dari jumlah biasanya. Dan ini perlu penanganan khusus agar penyakit pusing tersebut tidak lagi menggerogoti sehingga keluarga tetap tenang dan damai.

Sebagai perempuan yang sudah menikah hampir 3 tahun serta baru dikaruniai anak usia 2,5 bulan, mengatur keuangan keluarga adalah pekerjaan susah-susah gampang. Tak jarang masih dipengaruhi oleh life style ketika masih berstatus single. Tentu saja shock sesekali menimpa diri saya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu saya harus berani mengambil langkah agar tetap bisa menikmati hidup tanpa embel-embel life style berlebihan setelah berkeluarga.

Mengelola keuangan keluarga diperlukan pengetahuan yang memadai serta kemauan tinggi sehingga dapat berjalan sempurna. Apalagi ada banyak mimpi yang harus diwujudkan dalam kehidupan berumah tangga, misalnya mobil impian, rumah idaman serta masa tua yang sejahtera.

Pendapatan suami yang bukan pegawai pemerintahan ataupun karyawan swasta menantang saya dalam mengelolanya agar tetap cukup setiap hari, setiap bulan hingga seterusnya. Terkadang uang yang masuk berada di atas pendapatan rata-rata perbulannya tetapi kadang juga di bawahnya. Jadi tak heran jika suami melihat kening kadang berkerut karena harus mengubah pola pengeluaran kembali.

Nah, berikut ada beberapa langkah-langkah mengelola keuangan keluarga dengan bijak yang saya terapkan, yaitu:

Membuat Skala Prioritas

Dalam kehidupan tentu ada-ada saja yang dibutuhkan. Namun, pasti ada yang menjadi kebutuhan pokok dan penting untuk diwujudkan terlebih dahulu, dibandingkan kebutuhan lainnya (kebutuhan yang sejatinya hanyalah perwujudan dari keinginan).

Mempersiapkan Dana Insidentil

Hidup ini tidak selamanya senang atau bahagia saja. Terkadang Tuhan menguji dengan cobaan hidup seperti sakit, kecelakaan atau bahkan kematian yang benar-benar tidak terduga. Ujian-ujian tersebut tidak pernah diketahui kapan datangnya, bukan? Otomatis membutuhkan biaya tentu saja. Jadi dana-dana insidentil memang perlu dipersiapkan.

Dana insidentil ini bisa juga dikatakan sebagai tabungan atau simpanan rutin. Ada yang mungkin mempercayakannya kepada Bank atau jasa penyimpanan lainnya seperti Sun Life Financial. Jadi tergantung mana yang membuat nyaman dan mudah dalam menjalankannya.

Mengatur Pos-Pos Pengeluaran Uang
Mengatur Pos-Pos Pengeluaran Uang

Karena saya saat ini mengurus bayi, tentu banyak yang berpikir bahwa pengeluaran akan semakin membengkak. Yah, memang di bulan pertama bayi saya lahir, pengeluaran benar-benar membengkak karena harus membayar biaya rumah sakit untuk persalinan yang di luar dugaan. SC menjadi pilihan karena alasan medis. Intinya, memiliki anak adalah anugerah tetapi bisa menjadi bencana jika tak pandai dalam pengelolaannya. Nah, untungnya saya sudah melakukan manajemen penyimpanan dana untuk keperluan insidentil.

Padahal sejak hamil, saya selalu berharap dan yakin persalinan akan berjalan secara normal tetapi kehendak Tuhan sangat berbeda dengan kenyataan. Andai saja tak menyisihkan dana untuk keperluan insidentil, tentu kebahagiaan akan kelahiran seorang anak akan diganggu oleh kebingungan dalam menyiapkan dana yang jumlahnya tidak sedikit. Meskipun di satu sisi, kami yakin Tuhan akan senantiasa memberikan limpahan rezeki pada anak kami.

Memberi ASI Saja, ASI Lagi dan ASI Terus

Mungkin ini juga adalah hal sensitif. Sebab tidak semua perempuan yang sudah memiliki anak mampu memberikan full ASI secara eksklusif sampai 2 tahun. Kalaupun ada yang berjuang, paling tidak sampai usia 6 bulan saja. Hal ini tidak perlu diperdebatkan karena memang kondisi dan situasi yang tidak bisa disamakan antara satu perempuan dengan perempuan lain.

Tetapi, bagi saya sendiri, ASI adalah salah satu jalan saya dalam mengelola keuangan keluarga dengan bijak. Saya tidak diperhadapkan pada persoalan biaya untuk membeli susu formula (sufor) dengan harga yang tidak murah untuk saat ini. Apalagi sekarang sudah banyak bertebaran jenis-jenis sufor dengan daya tarik keunggulan masing-masing. Saya cukup berkonsentrasi terhadap asupan bahan makanan yang bergizi agar ASI saya tetap lancar. Toh, makanan bergizi tak harus mahal.

Perlengkapan Bayi dan Mainan

Kemampuan dalam mengelola keuangan juga bisa dilakukan pada bagian ini, menyiapkan perlengkapan bayi dan mainan untuk hiburan. Sebisa mungkin hanya melakukan pengeluaran untuk barang-barang yang memang urgent dibutuhkan untuk bayi dengan usia yang masih bulanan. Tak bisa dipungkiri bahwa anak pertama adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa, apalagi kami mendapatkannya tidak begitu cepat setelah menikah. Butuh waktu hampir 2 tahun karunia tersebut baru diberikan Tuhan.

Salfa memang pengertian
Salfa memang pengertian

Tetapi hal ini bukan menjadi alasan untuk saya dan suami berbelanja keperluan bayi yang berlebihan. Sebab pertumbuhan bayi sangat cepat. Jadi sayang sekali jika membeli barang-barang bayi yang harganya mahal tetapi tak dipakai lama. Dan kami sangat bersyukur, pada bagian ini pengeluaran bisa kami tekan karena rekan dan saudara ada yang memberikan perlengkapan bayi lumayan banyak sebagai hadiah.

Membatasi Keinginan (yang Terkadang Bertopeng dengan nama Kebutuhan) Tambahan untuk Kepuasan Batin

Jika sebelum dan di awal menikah saya sering ke bioskop untuk menikmati film-film terbaru, saat ini hal tersebut dikurangi. Bukan pelit tetapi berhemat untuk keperluan lain yang lebih penting. Urusan menonton film bisa tergantikan dengan menulis di blog atau membaca buku di rumah sambil mengurus si kecil.

Jika biasanya refreshing ke pusat perbelanjaan (mall) setiap akhir pekan, kali ini diubah minimal sekali sebulan. Kecuali jika ada acara-acara edukasi seputar dapur, perempuan atau lainnya yang diadakan di mall, maka refreshing tersebut bisa saja lebih dari sekali sepekan. Namun, kembali lagi dilihat besar kecilnya manfaat pada diri saya sendiri dan keluarga. Jangan sampai hanya sekedar ber-euforia dan setelah acara selesai yang dihasilkan hanya letih bahkan pengeluaran tambahan karena tergoda berbelanja sesuatu di mall.

Jika biasanya makan di warung makan hampir ditambah dengan mengkonsumsi makanan junk food (baik delivery order atau datang langsung ke outlet-nya), kali ini sebisa mungkin lebih memilih makan di rumah dengan hasil masakan sendiri (terkadang juga diberi dari ibu mertua). Untuk acara makan di luar, bisa diatur misal sekali sebulan, tergantung situasi dan kondisi yang mendukung pada saat itu.

Dari kesemuanya memang membutuhkan pengorbanan untuk hasil yang maksimal. Bijak dalam mengelola keuangan bukan berarti harus pelit, bukan? Hanya saja perlu mempersiapkan kehidupan mendatang. Memang sih usia tidak bisa ketahui dengan pasti. Tetapi tak akan pernah rugi jika kita siap dan semuanya diatur dengan baik untuk mencapai kebahagiaan bersama dalam keluarga.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Sun Anugerah Caraka Kompetisi Menulis Blog 2014

Pilihan sub-tema: Bijak Mengelola Keuangan Keluarga

Sun Anugerah Caraka

Facebook
Twitter

Related Posts

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *