Blogging

Ambisi Membutakan Mata Hati

Ambisi Membutakan Mata Hati mungkin cocok untuk istilah yang terjadi pada sebuah cerita tentang Lagak Lagu Kebo Ijo. Meskipun pada dasarnya cerita itu sudah terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya, Lagak Lagu Kebo Ijo dan Ken Arok juga terjadi di masa kini.

Ambisi Membutakan Mata Hati

Lagak Lagu Kebo Ijo dan Ken Arok juga terjadi di masa kini. Kalimat ini mengundang persetujuan saya. Mengapa? Sebab kehidupan saat ini sudah tidak steril dari yang namanya ambisi. Baik ambisi itu lahir dari dalam maupun karena ada faktor dari lingkungan sekitar.

Saya sebagai salah satu manusia ciptaanNya punya cerita tentang ambisi seorang wanita untuk menjadi kaya raya.

Wanita itu bernama Lola. Di usianya yang masih sangat muda dirinya dipersunting oleh pria sederhana dan berasal dari keluarga yang kurang dari segi material. Namun, sang pria, Joko, bekerja di sebuah perusahaan yang sangat megah hingga akhirnya Joko-pun mendapatkan penghasilan yang lebih dari cukup. Sang istri, Lola, akhirnya sangat bahagia dengan semua itu hingga terus-menerus memaksa suaminya bekerja dan bekerja.

Suatu ketika sang suami bertanya kepada Lola, “Sayang, aku sakit. Aku tidak bisa ke kantor.” Mendengar hal itu Lola menjadi murka. “Pokoknya, Papa tidak boleh sakit dan harus bekerja. Titik.”

Karena tidak ingin cari ribut dengan istrinya, Joko kemudian bekerja meski kemudian sakit. Lola tidak memberikan uang kepada Joko untuk berobat karena mengumpulkannya agar semakin kaya raya. Sampai untuk makan sehari-haripun sangat diirit dan seadanya padahal uang untuk membeli makanan yang lezat dan bergizi. Lagi-lagi tujuannya hanyalah untuk kaya.

Ambisi untuk menjadi kaya tersebut telah membuatnya lupa akan kesehatan suami dan keluarganya. Anak-anaknya diberi makan sekali sehari dan berselang satu hari harus berpuasa. Benar-benar kehidupan yang aneh menurut sebagian tetangganya.

Kaya raya menjadi ambisi, kini hanya tinggal kenangan. Karena suaminya, Joko, jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Sumber mata pencaharian satu-satunya kini tidak ada lagi. Bahkan anak-anak yang dahulu dekat dengannya kini semua pergi meninggalkannya karena sifat buruknya yang serakah dan ambisius. Semua uang yang dikumpulkannya harus membayar utang demi utang karena dirinya telah berani meminjam uang di bank dengan bunga yang sangat tinggi. Semuanya untuk melengkapi ambisi dengan membeli mobil, perabot rumah, emas dan segala jenis perhiasan yang harganya ratusan juta. Lola sekarang sendirian dan berlagak seperti orang gila akibat masih menganggap dirinya kaya.

Sangat miris memang melihat kondisi manusia yang ada sekarang. Ambisi dunia yang semakin hari semakin bertambah membuat manusia tidak berhenti bergerak. Padahal Tuhan meminta kita untuk mencari bekal di dunia ini untuk ambisi selamat di akhirat. Tetapi, justru malah ambisi sebaliknya.

Ambisi membutakan hati dan tidak mengenal siapa saudara, suami atau anak-anak. Semua disamaratakan untuk mewujudkan ambisi demi ambisi yang terus menghiasi pikiran setiap hari. Lupa dengan kewajiban dan janji kita dengan Tuhan bahwa menjadi hambaNya yang bertakwa dan menjalankan segala perintahNya dibiarkan berlalu begitu saja. Semua hanya demi sebuah ambisi.

Artikel  ini untuk menanggapi artikel BlogCamp berjudul Lagak Lagu Kebo Ijo tanggal 24 Juni 2012

Gagal itu Hadiah dari Tuhan

2 Comments

Leave a Reply

Instagram