UKG (Uji Kompetensi Guru): Opini Seorang Anak Guru

UKG (Uji Kompetensi Guru): Opini Seorang Anak Guru menjadi salah satu postingan di blog sederhana dan masih sangat newbie ini. Bukan untuk menambah kekisruhan tetapi sekedar opini untuk bahan renungan saya pribadi tentang kondisi guru yang ada di Indonesia saat ini.

“Lha, kok dites lagi? Sudah lolos sertifikasi ya sudah. Itu artinya sudah berkompeten, dunk!” Celoteh salah seorang teman pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar. Awalnya saya tidak ikut dalam perbincangan itu, akan tetapi karena kehebohan teman tersebut menjadikan saya sedikit banyak mendengar celoteh demi celoteh tentang suka-duka akan UKG.

Apa itu UKG? UKG itu sendiri adalah singkatan dari Uji Kompetensi Guru. Ujian ini merupakan bentuk remedial test bagi guru-guru yang sudah lolos sertifikasi sebelumnya. UKG ini sendiri dilaksanakan untuk menguji kembali komptensi guru yang jumlah sekitar 1.020.000 orang guru yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia.

Pro dan Kontra akan Uji Kompetensi Guru ini terdengar riuh. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Begitulah memang kehidupan, tidak selamanya sesuai dengan keinginan kita. Boleh jadi kita setuju tetapi belum tentu orang lain juga ikut setuju. Masing-masing punya dalih dan tidak dapat dipersalahkan secara mutlak.

Sebagai seorang anak guru, almarhum Ayah saya dulu adalah guru di salah satau sekolah menengah atas (SMA) di Kabupaten Maros, saya sendiri memikirkan kira-kira opini dari mendiang Ayah saya tentang Uji Kompetensi Guru tersebut. Kalau saya mencoba berargumen, pendapat mendiang Ayah saya jika masih hidup adalah setuju dengan Uji Kompetensi Guru ini. Mengapa? Sebab kompetensi guru layak untuk menjadi sesuatu yang harus menjadi nilai lebih dari seorang guru. Seorang guru dalah panutan, pendidik dan juga sumber ilmu. Jadi, perlu adanya pengembangan yang dilakukan secara terus menerus untuk menunjukkan bahwa benar-benar sosok guru itu pantas untuk disertifikasi. Lumayan dana yang diperoleh oleh guru-guru yang sudah disertifikasi, meski masih saja terdengar suara-suara sumbang bahwa dana itu masih tidak mampu mencukupi kebutuhan pokok sang guru dan keluarganya. Mengingat perkembangan zaman dan teknologi sudah semakin canggih dan lagi-lagi materi bermain di dalamnya.

Kembali pada Uji Kompetensi Guru tadi, meski banyak yang kontra dengan sistem ini, apalagi sistem pendaftarannya Online, sudah sebaiknya dijadikan bahan untuk tetap ber-positif thinking. Kalaupun ada yang berargumen kalau UKG ini hanyalah untuk membuang-buang dana Pemerintah saja dan sebaiknya dialokasikan kepada sektor yang membutuhkan, itu juga tidak salah. Masing-masing punya hak dalam menyampaikan pendapatnya. Sistem pendaftaran yang online membuat sebagian guru menjadi kisruh karena tidak semua benar-benar menguasai IT dengan baik, tetapi kembali lagi bahwa Kompetensi guru adalah mengikuti perkembangan zaman dengan memanfaatkan kekinian yang ada.

Sumber: analisadaily.com

Pada intinya, Uji Kompetensi Guru ini mengajak para guru atau mungkin istilah tegasnya menurut saya adalah menantang para guru agar benar-benar memberikan sumbangsih yang terbaik sesuai dengan bidang ilmu yang dimilikinya. Jika tohkemudian di balik kegiatan ini ada unsur untuk menjatuhkan eksistensi guru dalam berkiprah, biarkan saja asalkan guru tetap pada fungsinya semula dengan terus memajukan potensi, pengetahuan diri serta mengembangkan kualitas di zaman yang sarat dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Yah, mungkin opini ini terlalu mengambang, tetapi itulah argumen yang keluar dari alam pikiran saya dan memaksa jemari saya untuk terus menari di atas keyboard hingga menutup tulisan ini dengan kalimat:

Guru Bagiku adalah Pelita

Disaat Aku Buntu Guru Selalu Membantu

Disaat Aku Bertanya Guru Selalu Menjawabnya

Aku Cinta Guru-Guru Indonesia…

One Response to “UKG (Uji Kompetensi Guru): Opini Seorang Anak Guru”
  1. Binar says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *