Sayangku Tak Hanya Sehari

Hmmm… saat ini mungkin sudah banyak yang mempersiapkan hadiah spesial. Entah itu cokelat, permen atau mungkin boneka untuk orang yang disayangi. Supermarket, toko-toko kecil hingga toko yang khusus berjualan kado ramai dikunjungi untuk berlomba-lomba memberikan yang terbaik untuk pasangan, orang tua atau mungkin sahabat. Semua itu dilakukan untuk memperingati Hari Kasih Sayang.

Mungkin saat ini cafe sudah full booked oleh orang-orang yang tengah mempersiapkan romantic dinner, sibuk merancang party kejutan buat orang-orang terkasih bahkan mempersiapkan kue tart yang bernuansa pink dan cinta. Namun, yang menggelitik saya sejak tadi malam: Kok, hari kasih sayang cuma sehari?  Apakah hari lain kasih sayang itu mengendap? Ah, entahlah. Pastinya sayangku tak hanya sehari. Ada berbagai cara menunjukkan rasa sayang setiap hari dan tidak harus menunggu sebuah hari untuk mengungkapkannya. Tetapi semua kembali kepada diri masing-masing. Toh semua berhak memilih mana yang baik dan benar, terlepas pada persoalan kebenarannya sesuai dengan kepercayaan yang dianut.

Sayangku Tak Hanya Sehari

Hmmm… sampai saat ini saya masih sangat sayang dengan mendiang Papa Usman Karateng. Meskipun jasadnya tak lagi bisa memelukku, bercanda denganku, mengantarku ke dokter hingga selalu membelikan buku-buku bermanfaat, tetap tidak akan lekang oleh beda alam yang memisahkan kami. Rasa sayang itu akan tumbuh selamanya hingga kemudian akan dipertemukan lagi pada alam berikutnya.

Memang saat ini sudah ada sosok pria yang menjadi pendamping hidupku – Insya Allah menjadi jodohku dunia akhirat dariNya. Namun, jujur saja bahwa kasih sayang seorang Ayah kepada anaknya tidak akan pernah bisa disamakan dengan kasih sayang suami kepada istrinya. Serupa tapi tak sama. Semua itu tidak menjadi alasan untuk tidak menyayangi suami sebab bagi hidupku, dialah pahlawan yang menyelamatkanku dari ke-kurang tahu-an akan hakikat hidup ini. Darinya saya belajar memaknai hadirnya “kenikmatan” yang diupayakan dengan perngorbanan tenaga, pikiran dan juga waktu. Selalu memberitahu, baik jelas maupun tersirat, tentang apa yang sebenarnya harus ditambah atau dihilangkan dari cara saya berpikir, bertindak hingga meluapkan perasaan (senang maupun sedih). Suami saya juga yang mengajarkan betapa indah hidup dengan sederhana namun kebutuhan jasadiyah dan ruhaniyah selalu tercukupi. Meskipun terkadang sebagai manusia biasa merasa tak sabar dan mengeluh akan kehidupan yang diberikan Tuhan.

Hmmm… sayangku tak hanya sehari. Banyak rasa yang bisa kuberikan kepada siapa saja yang benar-benar ingin berbagi dan berjalan bersama untuk terus belajar menata hidup. Jika saja waktu memiliki tanda untuk kemudian mengucapkan rasa sayang itu, biarkanlah tercipta dari sikap dan tetap tumbuh di hati.

Sayangku tak hanya sehari…

Selalu ada meskipun ruh dan jasad tak lagi di sini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *