Review Buku The Dreamers: Setiap Kita adalah Pemimpi

Setiap manusia diberikan kehendak untuk bermimpi dan juga berusaha untuk mewujudkan mimpi tersebut. Entah itu satu, dua atau mungkin mimpi di setiap terbangun menghirup udara sejuk di pagi hari. Terserah pada sang pemimpi. Mimpi memiliki pekerjaan bagus, lulus kuliah, menikah dengan orang shaleh/shalehah, jadi penulis terkenal, berkeliling dunia gratis dan masih banyak lagi impian lainnya.

Review Buku The Dreamers: Setiap Kita adalah Pemimpi

Judul: The Dreamers
Penulis: Alvian Abdul Jabar
Penyunting: Andri Agus Fabianto
Desainer Sampul: Kat Ieen
Penerbit: Wahyumedia
Tebal/Ukuran: iV+144 halaman/12,7 x 19 cm
ISBN: 979-795-738-1

Begitu halnya dengan Aje, Tedy, Fadil, dan Egi. Empat pria yang bersahabat satu sama lain. Persahabatan mungkin bukan perkara baru di dunia hubungan manusia terhadap sesama. Hadirnya seorang sahabat setidaknya mampu memberikan warna tersendiri dalam pencapaian mimpi-mimpi hidup. Bahkan tidak jarang justru kehadiran sahabat yang mampu menjadi bahan bakar agar semangat mewujudkan impian terus berkobar.

The Dreamers karya Alvian AJ a.k.a @AhSpeakDoang ini memberikan nuansa tersendiri dari beragam plot novel yang ada. Dibuat dengan kisah nyata menjadikan novel ini tidak membawa pembaca hanya sekedar berkhayal mempunyai sahabat sedemikian rukun dan tak terpisahkan meskipun raga tak saling bersua. Merasakan dengan nyata kehadiran sahabat yang benar-benar nyata adanya. Merasakan kegelisahan, saling memahami bahkan saling menasehati satu sama lain menjadi nutrisi dalam sebuah persahabatan.

Novel yang mengajak dengan slogan “Percayalah dengan mimpimu” secara tidak langsung memberikan inspirasi kepada kaum muda agar tidak pernah berputus asa pada harapan dan impian. Asalkan diusahakan dengan cara dan di jalan yang benar, semua akan terwujud dengan cara-Nya. Sebab pada hakikatnya mimpi dan harapan dijawab Tuhan dengan cara yang tak pernah disangka sebelumnya oleh setiap hamba-Nya.

Aje, Tedy, Egi dan Fadil. Sahabat yang memiliki kesamaan dalam latar belakang ekonomi namun berbeda dalam mimpi masing-masing. Sebab hanya kemampuan diri untuk berusaha mewujudkan mimpi yang tidak akan sama satu sama lain. Semua memiliki jalan masing-masing. Hingga sangat wajar jika ada masa dimana harus sendiri karena memahami perjuangan sahabat lainnya mengejar mimpi.

Entah kini Egi, dan Tedy telah menjadi apa. Yang jelas, aku kangen banget sama mereka (Hal. 81).

Bahkan sangat terenyuh ketika mendapati bagian dimana Fadil menemui mimpinya dengan cara yang begitu indah menurut-Nya. Mimpi yang sama sekali tak serumit dan seistimewa Aje, Egi dan Tedy. Yah, sesuai dengan mimpi yang telah dituliskan pada sebuah batu besar. Mimpi yang menyimpan harapan besar dari Aje, Tedy, Egi dan Fadil sendiri.

Aje, penulis, dalam menuliskan novel The Dreamers dengan 4 (empat) bab ditambah dengan lampiran kultwit akun @AhSpeakDoang yang tidak lain milik penulis sendiri. Gaya bahasa yang digunakan sederhana dan tidak perlu mengernyitkan kening karena berjibaku dengan sejumlah kata-kata sastra yang begitu berat. Mengalir layaknya perbincangan sehari-hari.

Berbicara soal kelemahan dalam novel ini sendiri antara lain terletak pada kurang pengembangan dalam mendeskripsikan setting. Lebih banyak dialog pendek dan terkesan berulang-ulang dengan bahasa yang sederhana bahkan cenderung masih kaku untuk menggali kedalaman gaya bahasa yang biasanya terdapat dalam karya-karya dalam lingkup novel. Bahkan kesalahan dalam pengetikan terlihat pada beberapa bagian dan ada juga “sesuatu” yang seperti tidak terkatakan karena boleh jadi terpotong atau tertindih dengan kata selanjutnya.

Namun kembali lagi bahwa pada intinya manusia tak ada yang sempurna, bukan? Dan yang lebih penting bahwa penulis memiliki semangat mewujudkan mimpinya dengan adanya novel The Dreamers ini. Satu langkah pasti menuju mimpi sudah perlahan ditempuh. Daripada tak melakukan sama sekali.

Dan saya menyarankan novel The Dreamers ini dibaca bagi yang baru akan atau sedang menyulam mimpi-mimpinya.

Dari 5 bintang, ada 3 bintang untuk novel inspiratif ini

Review Buku The Dreamers: Setiap Kita adalah Pemimpi

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
4 Responses to “Review Buku The Dreamers: Setiap Kita adalah Pemimpi”
  1. cute abis says:
  2. Lidya says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *