Review Buku Ketika Cinta Punya Rasa: Cokelat, Cita-Cita dan Cinta

Review Buku Ketika Cinta Punya Rasa: Cokelat, Cita-cita dan Cinta akhirnya bisa juga saya posting di blog ini. Yah, kali ini sebuah novel yang mengangkat cokelat sebagai pemanis dan juga penawar luka.

Review Buku Ketika Cinta Punya Rasa: Cokelat, Cita-Cita dan Cinta

Judul: Ketika Cinta Punya Rasa
Penulis: Endang SSN
Editor: Abdul Latif
Desainer Sampul: Oesman Muhammad
Penerbit: Zettu
Tebal/Ukuran: 244 halaman/13 x 19 cm
ISBN: 978-602-7735-93-4
Ketika cokelat mampu memberikan solusi pada setiap kegundahan jiwa dan juga hal yang tak selalu sama dengan keinginan. Cokelat juga mampu memberikan ruang tersendiri dalam membenamkan pikiran yang sudah terlanjur tersulut oleh argumen pribadi yang seketika timbul karena prasangka. Semua ternetralisir dengan manisnya cokelat meski ada rasa “tak biasa” yang menyeruak di balik setiap kali melumatnya dengan penuh rasa.

Endang SSN, penulis dari novel Ketika Cinta Punya Rasa, mengangkat cerita yang biasa namun dikemas secara luar biasa. Kehidupan yang tak jarang menjadi salah satu skenario bagi penggiat kampus dan pejuang cita-cita mulia. Kehidupan seorang mahasiswi yang berjuang menyelesaikan harapan sang Ayah yang tak seirama dengan cita-cita sungguh bukan perkara mudah. Cokelat yang mampu memaniskan kelelahan dan menorehkan kekuatan hati. Seperti yang terjadi pada Denisa, mahasiswi dengan kemampuan akademik di atas rata-rata selalu ditemani dengan cokelat. Cokelat menjadi teman yang memberinya udara segar, ketika idealisme-nya tak sejalan dengan keinginan sang Ayah.

Denisa beruntung memiliki Lala, sang sahabat yang menjadi tempat kedua untuknya bercerita apapun yang dialaminya. Terpisah jarak dengan sahabat tak memberikan celah akan renggangnya persahabatan justru motivasi yang menguatkan satu sama lain. Meskipun Lala sedikit lebih beruntung daripada Denisa akan cita-cita yang begitu mudah diraih tanpa halangan berarti. Sebaliknya Denisa, berawal dari keterpaksaan hingga berujung perkenalan dengan lelaki jenius bernama Bagas.

Untuk hati Bagas, nyanyian cinta Denisa mengalun indah meskipun berawal dari kebencian dan prasangka. Namun tak ada seorang pun yang mampu menerka, cinta itu jatuhnya pada siapa. Begitu juga Denisa yang melabuhkan lirik-lirik cinta pada sebuah nyanyian harapan yang tak terucapkan. Bahkan menerima kenyataan jika jarak harus menjadi bagian dalam cintanya. Benarkah Bagas yang dituju Denisa?

Ketika cinta punya rasa, jiwa akan mengerti bagaimana bersyukur atas indahnya. Jarak hanya detik yang berdetak lebih lama tetapi detak tak akan berubah walau detik memenjarakan raga.

Novel yang dikemas dengan 15 Bab ini masing-masing menawan rasa penasaran. Kejadian tak terduga kerap muncul di novel ini. Dan ini menjadi nilai lebih sehingga tak berani menerka inti dari setiap bab yang dituangkan. Yah, Ketika Cinta Punya Rasa membawa angan pada situasi akademik yang penuh lika-liku (baca: kampus). Di sana pula cinta bisa bermula dan berakhir. Bahkan terhenti di sebuah persimpangan.

Jika kamu penikmat cokelat dan mengatakan suka dengan cokelat, coba rasakan nikmatnya dengan mengunyah pelan-pelan bersama alur kisah dalam novel Ketika Cinta Punya Rasa ini. Overall, saya beri 4 dari 5 bintang untuk novel ini.

Note:

Hmmm… tak pernah bosan menanti setiap cerita yang dituliskan sang novelis bernama Endang SSN ini. Kesibukan di luar sana ternyata tak mematikan imajinya menuai karya. Sederhana namun bermakna. Ringan namun tersirat banyak harapan. Semoga terus berkarya buat penulisnya. Dan terima kasih untuk novel Ketika Cinta Punya Rasa ini. Pelengkap koleksi buku yang bermanfaat. Dan selalu siap jadi reviewer karyanya 😀

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3 Responses to “Review Buku Ketika Cinta Punya Rasa: Cokelat, Cita-Cita dan Cinta”
  1. Lidya says:
  2. shania farhani says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *