Putu Cangkiri’, Kue Khas Bugis-Makassar

Tak pernah terukur rasa syukur yang begitu besar karena lahir dari kota Maros yang mayoritas bersuku Bugis-Makassar. Kota yang tak jauh dari ibukota Propinsi Sulawesi Selatan, Makassar, ini adalah kota dengan beragam situs-situs eksotis. Tak jarang situs-situs tersebut diidentikkan dengan Makassar secara umum. Tak hanya situs, Maros juga punya banyak keanekaragaman kuliner seperti kue-kue dan masakan khas yang sayang dilewatkan ketika berkunjung ke Sulawesi Selatan.

Salah satu yang ingin saya angkat kali ini adalah Putu Cangkiri’. Kalau ingat masa kecil dulu, Putu Cangkiri’ adalah kue wajib yang ada di meja makan sebagai menu sarapan. Karena bahannya dari tepung beras ketan yang dicampur gula merah dan gurihnya kelapa muda sudah mampu mengganjal perut di pagi hari. Saya pun tak pernah absen mencari Putu Cangkiri’ ini jika mudik ke kampung, Maros.

Jika berkunjung ke Sulawesi Selatan, Putu Cangkiri’ tak hanya bisa ditemukan di Maros. Daerah-daerah dengan suku yang sama, Bugis-Makassar, menjadikan Putu Cangkiri’ sebagai salah satu kuliner oleh-oleh. Jadi kadang menemukan kue ini di pusat-pusat penjualan makanan khas Sulawesi Selatan.

Definisi Putu Cangkiri’

Dari namanya saja sudah menggunakan bahasa daerah. Putu Cangkiri’ ini terdiri atas dua suku kata, yaitu:

Putu; panganan dari beras ketan

Cangkiri’; bahasa Bugis dari kata “cangkir”

Jadi Putu Cangkiri’ ini adalah panganan dari ketan yang bentuknya menyerupai bagian bawah cangkir jika posisinya diletakkan terbalik.

Jenis Putu Cangkiri’

Putu Cangkiri’ biasanya dibuat dengan dua varian rasa, yaitu manis dengan gula merah dan gula putih. Jika menggunakan gula merah, maka otomatis warna Putu Cangkiri’ juga merah begitupun ketika menggunakan gula putih (gula pasir).

Putu Cangkiri', Kue Khas Bugis-Makassar

Putu Cangkiri’ Gula Merah

Harga Putu Cangkiri’

Soal harga Putu Cangkiri’ini tidak seragam. Tergantung di daerah mana membelinya. Karena saya sering mendapatkannya di daerah PTB Maros, maka harga yang saya dapatkan, saat mudik terakhir tanggal 29 September 2013, adalah Rp. 1.500,-/biji. Kalaupun ada kenaikan harga rasanya tidak akan jauh berbeda.

Putu Cangkiri’ Semoga Tak Pernah Punah

Kue tradisional atau kue khas memang mengalami dilema saat perkembangan dunia kuliner semakin maju. Namun, bukan berarti bahwa kue-kue khas seperti Putu Cangkiri’ ini dibiarkan tergerus oleh masuknya ragam kuliner yang lebih modern. Sebab, kesederhanaan dalam bahan, bentuk dan proses pembuatannya yang menjadi daya tarik tersendiri. Karena lidah yang merasakan kenikmatan Putu Cangkiri’ tak akan pernah bohong untuk selalu merindukan hadirnya. Saya pun berharap setiap mudik ke kampung kue ini selalu ada dan mudah didapatkan.

Sulawesi Selatan sebagian besar adalah penghasil kelapa dan gula merah. Bahan-bahan tersebut, yang digunakan dalam pembuatan Putu Cangkiri’, bisa dimaksimalkan. Selain itu, Putu Cangkiri’ bisa menjadi bisnis kuliner yang berkembang lebih pesat karena tak membutuhkan modal yang besar. Dan jika ingin memodifikasi dari segi rasa dan warna, saya rasa sah-sah saja agar Putu Cangkiri’ tetap menjadi kue khas yang terus ada.

Proses Pembuatan Putu Cangkiri’

Untuk proses pembuatan kue Putu Cangkiri’ saya tampilkan dalam bentuk video di bawah ini. Video ini diambil saat Ibu Minang (nama penjual) sudah mulai menjajakannya di daerah PTB Maros. Sangat mudah dah cepat. Alat dan bahan yang digunakan juga sangat sederhana.

Huaaahhh… rasanya lidah ini makin tak sabar untuk mudik lagi untuk menikmati Putu Cangkiri’ bersama dengan pesona PTB di malam hari. Dan terima kasih untuk Kak Opan yang membantu sehingga video ini sudah bisa dilihat di youtube ^_^

Warung Blogger

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
6 Responses to “Putu Cangkiri’, Kue Khas Bugis-Makassar”
  1. Lidya says:
  2. Riski Fitriasari says:
  3. Hardy says:
  4. Opan says:
  5. eka fikry says:
  6. syukur says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *