Perjalanan ke Malang yang Tak Terencana

Perjalanan ke Malang yang Tak Terencana – Sudah dua kali mengunjungi kota Malang, selalu saja ada cerita istimewa yang tersimpan. Padahal tadinya hanya menerima ajakan saudara yang ingin melegalisir ijazah di sebuah kampus swasta terkemuka di Malang.

Perjalanan ke Malang yang Tak Terencana

Seperti perjalanan sebelumnya, kendaraan bus mini menjadi pilihan. Maunya sih naik kereta, tetapi jalurnya terlalu jauh karena harus memutar arah dengan melewati beberapa kabupaten. Bus mini yang terpilih pun sedikit berbeda denga yang pertama kali saya tumpangi, bukan ELF, begitu sebutan jenis mobilnya. Sialnya, tidak ada AC pula. Saya langsung berpikir keras perjalanan kurang lebih memakan waktu 2 hingga 3 jam tersebut akan seperti apa dengan panasnya suasanan di bus mini. Belum lagi kursinya tidak terbuat dari bahan kain. Jadi sesekali harus memperbaiki posisi duduk karena bokong seperti terseret dengan sendirinya ketika bus mini bergerak.

Tak hanya memikirkan kondisi saya. Salfa yang juga ikut dalam perjalanan tak terencana itu pun sebenarnya tidak tahan jika suasana sekelilingnya sumuk (baca: panas). Bagian dahi dan lehernya akan cepat memberikan reaksi bintik-bintik kecil merah yang akan mengganggunya dalam perjalanan. Jadi, saya harus selalu yakin tubuhnya tidak berkeringat yang berlebihan. Salah satunya adalah memakaikannya baju yang nyaman. Dan beruntungnya, perjalanan menuju Malang tidak begitu memeras keringat di dalam perjalanan. Soalnya, suasana sejuk Malang sudah menutupinya. Meskipun matahari terik, tetap saja tidak merasa kegerahan di dalam bus mini. Salfa juga pulas tidurnya di pangkuan.

Sesampainya di Malang, saya langsung mengikuti saudara ke kampusnya. Sedikit terburu-buru karena mengejar tanda tangan pihak berwenang dalam legalisir ijazah. Sembari menunggu, saya pun kembali diajak berjalan-jalan kota Malang.

Kurang sah katanya kalau ke Malang tetapi tidak mencicipi bakso atau pentol. Senang bukan main karena memang saya masuk dalam deretan meatball lover di dunia ini. Di benak saya sudah penuh dengan cerita teman-teman yang sudah ke Malang kalau bakso di kota ini enak. Bahkan kurang afdhal jika tidak tambah 2 atau 3 porsi. Dan memang benar, bakso di Malang enak’e puolll… kenyalnya pas, rasanya gurih dan pastinya banyak ragam olahan yang menjadi teman makan bakso.

Memang sih kami makan bukan di warung Bakso Presiden yang terkenal itu. Tempat kami makan bernama Bakso Kirun yang ada di ujung Jl. Bandung. Tiap biji pentol dihargai Rp. 2.000,- sedangkan untuk olahan lain berupa gorengan, siomay dan juga tahu, perbijinya dihargai Rp. 1.000,-. Harga yang cocok dengan rasa dan size pentol yang lumayan besar. Dan saya sudah sangat kenyang makan yang hanya menghabiskan Rp. 12.000,- untuk tiap porsinya. Awalnya saya tidak percaya karena rasanya mangkok saya penuh dengan pentol dan gorengan. Saya kaget plus senang. Kenyang tetapi dompet tidak goyang.

Setelah menikmati bakso Malang, saya menemani saudara lagi ke salah satu outlet sepatu terkenal. Sayangnya, brand sepatu tersebut tidak ada di kota Surabaya, tempat dimana saya berdomisili dengan suami. Lumayan cuci mata menurutku. Dan tempatnya pun tidak jauh dari lokasi dimana saya makan bakso tadi. Masuk ke outlet, saya harus menahan diri untuk berbelanja. Bukan pelit sih, tetapi sebelumnya saya sudah membelanjakan voucher secara online. Kalimat “belum perlu” selalu saya tanamkan dalam hati dan pikiran agar tidak tergoda dengan model sandal dan sepatu terbaru.

Bagaimana perjalanan saya selanjutnya? To be continued…

NB: Karena tidak terencana, foto-foto hasil perjalanan pun hanya bisa direkam dalam memori kepala 🙁

6 Responses to “Perjalanan ke Malang yang Tak Terencana”
  1. suzie icus says:
  2. diah siregar says:
  3. Lidya says:
  4. @nurulrahma says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *