Penguat Langkahku

Aku mengenalnya sejak 2008 lalu. Waktu itu aku melihat sosoknya yang berjalan pelan menuju segerombolan mahasiswa yang sedang menanti keputusan. Ya, keputusan akan ruang yang akan dipakai oleh perkuliahan pertama. Maklum, jadwal perkuliahan magister yang akan berlangsung selama 2 tahun mengalami sedikit kesimpangsiuran di hari pertama masuk.

Langkahnya pelan dan menyapa dengan sopan. Awalnya aku berpikir dia sedang mencari jadwal untuk perkuliahan sang anak. Ternyata tidak. Justru dirinyalah yang akan menjalani perkuliahan. Aku pun sedikit heran, usia yang sudah sepadan dengan Ibuku masih semangat seperti itu menuntut ilmu apalagi tidak jauh darinya kulihat sosok lelaki dan dua orang anak kecil terlihat seperti menunggu. Keluarga yang mantap dalam pendidikan, anggapku saat itu.

Waktu terus berjalan. Tak terasa menjadi bersahabat dengannya. Tak hanya saya yang merasa nyaman dengan hadirnya. Hampir semua penduduk kelas angkatan kami pun merasa kurang nyaman mengikuti perkuliahan jika sang Ibu absen. Terkadang memang sang Ibu harus mengambil jatah absen (maksimal 2 kali selama satu semester per mata kuliah). Semua untuk mengemban tugas sebagai guru mata pelajaran kimia di sebuah sekolah negeri. Cuti belajar tidak diberikan kepadanya dari pihak sekolah, karena ilmu dan tenaganya masih sangat dibutuhkan untuk meng-handle kelas III IPA yang mendekati UN saat itu.

Bergaul dengan Ibu ini memberikan kenyamanan tersendiri. Aku baru bisa merasakan kehangatan sosok Ibu ketika berinteraksi dengannya. Apalagi ketiga anaknya sangat dekat denganku. Jadi, jika ke rumahnya aku seperti pulang ke rumah sendiri. Tak hanya ramah. Pendengar yang baik adalah juga sifatnya. Jika aku sedang dirundung masalah atau ada kegalauan di hati dan pikiran, nasehat dan solusinya terkadang membuatku merasa tak sendiri. Bahkan ketika situasi rumah sedang tidak kondusif, pintu rumahnya selalu terbuka untukku meskipun hanya untuk melepaskan penat (tidur) dan juga memenuhi tambahan energi tubuh (makan).

Tangannya tidak pernah ragu untuk membelaiku saat kepala kurebahkan dalam pangkuannya. Kerongkonganku tidak pernah kering dengan minuman apa saja ketika bersamanya. Selalu saja memberi tawaran manis sehingga mulutku meneguk segelas kopi, teh ataukah minuman lain yang disiapkannya. Terkadang aku berada di rumahnya berhari-hari. Selain untuk menghilangkan “panas di kepala” karena persoalan hidup, di rumah itu juga sering menjadi tempat untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah.

Jika orang luar yang melihat, rumahnya memang sedikit tidak sehat karena langsung berhadapan dengan pasar tradisional. Tetapi tetap saja kusarankan tidak men-judge karena melihat luarnya saja 😀 Rumah itu yang menjadi tempatku mengumpulkan segenap impian yang membutuhkan benang agar bersatu sama lain. Sosok yang berada di dalam rumah itu mampu membuatku berpikir bahwa suami dan anak bukan halangan untuk memupuk cita-cita. Aku yang waktu itu memang masih sendiri dan mencari jati diri menganggap semua nasehatnya sebagai bekalku di kehidupan nyata di depanku.

Dialah sosok yang memantapkan langkahku saat aku ragu untuk memilih apa yang seharusnya kupilih. Di saat aku berada dalam situasi yang sulit, ditinggal Ayah tercinta dan Ibu ingin aku bekerja agar punya pendapatan sendiri dengan berbekal lembaran ijazah pendidikan tinggi, hanya dia yang terus memberika ketenangan dan pandangan-pandangan positif akan hidup. Dia tak pernah meminta apa-apa dariku dengan semua yang telah diberikannya padaku, hanya berharap aku bisa berhasil menjadi perempuan, istri dan juga ibu. Sebab jenis kelamin yang dinugerahkan Tuhan ini benar-benar amanah yang besar. Banyak hal yang bisa membawa pada kebahagiaan tetapi bisa saja hanya satu hal yang menjerumuskan diri pada kesengsaraan abadi.

Entah saat ini dia sedang sibuk apa. Aku kehilangan kontak sama sekali. Menghubunginya di dunia maya (facebook) pun mustahil karena dia bukan penggiat dunia maya. Realitas kehidupan yang di hadapannya membuatnya sudah terlalu sibuk dengan itu. Namun, bagaimanapun dia di sana, kuharap selalu sehat dan bahagia. Suatu saat mungkin aku bisa membalas dengan membawanya ke rumahku dan menjamunya dengan pelayanan terbaik yang kupunya. Sementara ini, aku hanya bisa berdoa agar Tuhan membalas kebaikannya.

Untukmu yang ada di sana, Selamat Hari Ibu…

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
One Response to “Penguat Langkahku”
  1. Dwi Puspita Nurmalinda says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *