Pasar Tradisional yang Masih Jadi Kebutuhan

Pasar Tradisional yang Masih Jadi Kebutuhan

Pasar Tradisional yang Masih Jadi Kebutuhan – Keberadaan pasar memang sangat penting dalam sebuah kehidupan bermasyarakat. Infrastruktur satu ini, tak hanya penting bagi pedagang, tetapi juga bagi pembeli. Semakin banyaknya pasar modern yang bermunculan (baca: mall) sejatinya tidak serta-merta membuat orang meninggalkan pasar tradisional. Keberadaannya masih menjadi kebutuhan. Sebab tidak semua yang terjajakan di etalase mall bisa tersedia di pasar tradisional, begitupun sebaliknya.

Pasar Tradisional yang Masih Jadi Kebutuhan

Contoh sederhananya saja adalah ketika akan membeli ayam kampung yang masih hidup, sabuk kelapa kering yang akan dijadikan bahan bakar atau mungkin jajanan (baca: kue) yang khas seperti getuk lindri, cenil, puro dan aneka jajanan pasar lainnya. Apakah bisa ditemukan di mall? Tentu saja hal ini mustahil, kecuali jika memang ada mall baru yang akan dibangun dengan konsep yang persis dengan pasar tradisional. Dan saya tidak membayangkan betapa ramainya mall tersebut dengan suara khas ayam.

Nah, pasar tradisional menjadi tempat yang paling pas untuk mendapatkan hal-hal tersebut di atas. Kalau saya sendiri karena sementara ada di Kertosono, Nganjuk saat ini, Pasar Gede Kertosono jadi tempat favorit membeli keperluan primer. Baik itu berupa sandang dan pangan. Alasannya sangat sederhana, harga yang jauh lebih murah namun kualitas masih bisa bersaing dengan produk yang ada di mall. Seperti contohnya baju anak saya. Jika saya belanja di mall, uang seratus ribu rupiah bahkan hampir tidak cukup untuk membeli 2 pieces baju. Setidaknya harus siap dana sekitar lima ratus ribu rupiah. Sementara di pasar tradisional, uang seratus ribu, saya sudah bisa mendapatkan 6-7 pieces baju. Bajunya pun berupa dress tanpa lengan. Soal bahannya pun masih sangat nyaman dipakai oleh anak saya.

Sebenarnya, di Kertosono ini ada beberapa pasar, yaitu:

  • Pasar Templek; pasar yang sudah buka jam 4 dini hari dan selesai beroperasi jam 9 pagi (bisa masuk lewat jl. Duku)
  • Pasar Gede; pasar utama yang ada di wilayah Kertosono, Jl. GatotSubroto.
  • Pasar Hewan; pasar yang menjajakan jenis hewan apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat, namun akan ramai di hari Wage (penanggalan Jawa). Terletak di kelurahan Pandantoyo, Kec. Kertosono

Ketiga pasar tersebut, yang paling jauh dari kediaman saya adalah Pasar Hewan. Saya pun jarang ke pasar tersebut karena kebutuhan saya sudah terpenuhi di Pasar Gede, pasar yang menjadi tumpuan perekonomian di daerah ini. Dan kalau ditanya lagi mengapa saya harus ke pasar? Jawaban saya:

  • Harga murah, namun tidak berarti semua barang berkualitas murahan
  • Mudah dijangkau dari rumah
  • Bisa melakukan transaksi tawar-menawar harga
  • Bisa mengembalikan barang jika ternyata tidak pas dipakai oleh yang bersangkutan, asalkan dilakukan deal dulu dengan pedagang
  • Banyak barang yang tidak dijual di mall, ada di pasar tradisional
  • Lengkap
  • Banyak pilihan (variatif)
  • Mengambil bagian dalam memajukan ekonomi daerah

Jadi, pasar tradisional di tengah kemajuan jaman tidak akan pernah mati. Sebanyak apapun mall yang dibangun, pasar tradisional masih jauh lebih menarik.

Oiya, soal sejarah pasar tradisional yang sudah saya sebutkan di atas, sayang sekali saya belum mendapatkan sumber atau narasumber terpercaya. Soalnya, tidak adanya media yang mengangkat soal hal ini. Jangankan media online seperti website dan blog, media cetak seperti surat kabar yang beredar di wilayah ini pun jarang ada yang menuliskannya.

Kalau kamu, suka ke pasar? Beli apa saja? Share yuk pengalamanmu!

Facebook
Twitter

Related Posts

18 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *