Membaca Digital Story Kak Bimo

Masih dalam rangkaian #Sipakatau yang diselenggarakan oleh AM a.k.a Paccarita. Jika sebelumnya sudah menjelajah pada dua blog, kali ini adalah blog yang ketiga. Dan lagi-lagi saya harus kepo dengan blog anak muda. Yuk, mari kita berkenalan dengan Kak Bimo.

Sosok blogger yang tergabung dalam Komunitas Blogger AM satu ini rupanya mengelola banyak blog. Hal itu tertulis dari kolom “Tentang” yang juga menceritakan perjalanan nge-blog si Kak Bimo. Yang paling membuat kagum adalah saking cintanya dengan kuliah, maka Kak Bimo bergabung dalam tim untuk mengelola web/blog kampus. Sungguh mahasiswa yang patut dicontoh karena memanfaatkan waktu untuk hal bermanfaat.

Baiklah, kita mulai “sedikit serius” membaca setiap cerita di blog Kak Bimo. Oiya, sebelum lanjut lagi, saya sempat tidak menemukan blog ini karena link URL yang diberikan kekurangan satu huruf. Yang tadinya http://bimoaji[dot]blogspot[dot]com, ternyata yang valid adalah http://bimoajii.blogspot.com. Nah, dari sinilah awal dari pertanyaan saya, mengapa “i” harus dua? Kalau dijawab suka-suka, ya sama juga karena saya suka-suka bertanya, hehe… Soalnya, terkesan kesalahan dalam mengetik karena harusnya “i”-nya satu, tetapi harus diketik jadi dua. Mudah-mudahan ada alasan yang mencerahkan saya nantinya.

Bimo Aji

Masuk ke tampilan homepage. Saya sangat bahagia sekali. Seperti bertamu di sebuah rumah yang isinya tertata rapi. Ya, Kak Bimo sepertinya orang yang suka dengan kerapian. Tidak banyak banner di sidebar, bahkan hanya mengisinya dengan Popular Post, Profil, Arsip dan satu banner yang merupakan event mengenai kepedulian akan satu hal sepertinya.

Artikel. Semua artikel yang ditulis memang merupakan cerita Kak Bimo. Hal-hal yang dialami dan diamati sendiri oleh Kak Bimo menjadi bahan postingan di blog ini. Saya sangat terkesan pada artikel Bahasa Gaul Orang Makassar. Sejumlah kata yang “hanya” beredar di wilayah Makassar dan sekitarnya. Menjadikan Makassar dan sekitarnya memiliki khas tersendiri dan mudah dikenali. Sejumlah kata yang terkadang sulit untuk dijelaskan bagaimana menggunakan kata-kata tersebut kepada orang di luar Makassar. Dan masih banyak lagi artikel tentang Makassar yang ditulis dengan topik yang berbeda.

Semakin menelusuri blog Kak Bimo, kecurigaan saya terbukti setelah mendapati artikel tentang “Solo”. Dari awal saya sudah curiga kalau Kak Bimo bukan asli Makassar. Tahu kenapa? Nama yang dipakai Kak Bimo justru mengisyaratkan pada anak yang dilahir tanah Jawa. Dan memang benar dugaan saya, Kak Bimo justru berasal dari Solo yang entah melakukan apa di Makassar 😀 Namun sayang sekali tidak ada cerita banyak soal “Solo” di blog ini. Hanya Makassar dan itupun masih banyak objek/topik yang belum ditulis oleh Kak Bimo.

Jumlah tulisan di blog inipun baru ada 23 postingan sejak 2014. Hal ini boleh jadi karena Kak Bimo juga sibuk mengurusi blog lain. Alangkah baiknya jika sama-sama dibenahi sehingga tetap terjaga dan jauh dari sarang laba-laba (*lirik diri sendiri).

Saran saya untuk Kak Bimo, lebih banyak lagi menulis tentang Makassar dan juga Solo. Banyak hal yang bisa dibandingkan antara keduanya. Mulai dari kuliner, tempat wisata sampai pada kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang “pasti” memiliki perbedaan satu sama lain. Karena saya senang membaca keanekaragaman hal mengenai kota-kota besar yang ada di Indonesia.

Semoga Kak Bimo tetap cinta dengan Makassar meskipun lahir di tanah Solo. Dan semoga bisa bertemu di Makassar bulan Juli, hehe… #mudiklebaran

13 Responses to “Membaca Digital Story Kak Bimo”
  1. Lidya says:
  2. Ryan says:
  3. Salman Faris says:
  4. Idah Ceris says:
  5. Anisa AE says:
  6. leny says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *