Kau Bukanlah yang Terbaik Untukku

“Seneng kali yah, kalo aku punya jodoh mirip Dude Herlino”, lontar Ufe di sela-sela pertemuan kami hari ini.

“Wedew, jangan mimpi kamu Fe”, tanggap Al sinis.

“Ih, kamu kok bilang gitu?”, tanya Ufe mengernyitkan keningnya.

“Hehehe… ga’ kok Fe. Aku cuma tidak ingin kamu berkhayal terlalu tinggi Fe”, jawab Al dengan tersenyum sambil menggandeng tangannya agar Ufe faham.

Ufe kemudian tersenyum sambil memberikan isyarat bahwa ia sudah mengerti maksud Al yang sebenarnya. Maksud Al hanyalah mencegah Ufe untuk tidak bermimpi yang tidak masuk akal, sebab Ufe memiliki kebiasaan yang buruk jika apa yang diinginkannya tidak tercapai. Sikap nekatnya tidak pernah bisa hilang ketika hatinya sedikit saja tersakiti.

***

Berawal dari percakapan itulah yang mengingatkan Al kembali tentang sebuah pengalaman yang sungguh penuh makna untuk hidupnya sekarang. Sejak duduk dibangku SMA, Al selalu menginginkan menikah dengan sosok yang sangat sempurna. Tinggi, putih, hidung mancung, punya lesung pipit, rambut setengah berombak dan berbadan sedikit kekar. Sungguh sosok yang hanya bisa didapatkan dari sebuah dongeng. Dongeng tentang pangeran yang gagah perkasa menjemput putri yang cantik jelita seantero jagad raya.

***

Kisah Al bermula dari perkenalannya dengan seseorang di sebuah pengajian kampus. Al bertemu dengan Reta, sang aktivis kampus saat itu. Al yang sudah dasarnya mudah melebur dalam suatu komunitas, akhirnya akrab dengan Reta. Hingga pada suatu hari Reta banyak bercerita tentang kehidupannya. Dan yang paling menarik menurut Al adalah ketika Reta bercerita bahwa ia punya paman yang masih lajang dan sedang mencari istri.

Reta bercerita kalau Pamannya bekerja di negeri seberang (jauh dari Indonesia). Sang paman, sebut saja Alex, membutuhkan pasangan agar menemaninya bekerja diluar negeri. Segala kelebihan Alex diceritakan oleh Reta kepada Al. Seluruh kriteria fisik yang menjadi idaman Al dimiliki oleh Alex. Dan sejak saat itu Al pun harus mengakui bahwa getaran rasa ingin menyukai dan menjadi wanita yang dicari Alex, itu ada dalam hatinya.

Komunikasi demi komunikasi akhirnya terjalin. Al sebenarnya sudah memahami bahwa hubungan yang seperti ini seharusnya tidak ada. Sebab, akan sangat mempengaruhi syaithan untuk menggoda lebih dahsyat lagi. Dan Al-pun mengakui saat itu dirinya benar-benar terhanyut oleh rasa yang mungkin dinamakan Cinta.

Hari demi hari berlalu. Hubungan Alex dengan Al semakin menunjukkan sebuah keseriusan. Alex mengutarakan isi hatinya lewat Reta untuk disampaikan kepada Al. Al semakin sering salah tingkah sendiri ketika mendapatkan sms-sms yang sedikit bernuansa merah jambu. Wajar saja jika Al demikian. Ketika perasaan sudah disentuh, maka segalanya nampak indah. Al benar-benar memantapkan hatinya untuk siap menjadi wanita yang akan ditunjuk Alex sebagai istri.

***

Ketika semua nampak pada keseriusan yang nyata, Al memberanikan dirinya menyampaikan maksud Alex kepada ibunya. Tentu saja ibunya sangat bahagia ketika itu. Betapa tidak? Al sudah termasuk wanita yang berumur tetapi belum saja menikah. Setelah mendengar cerita Al soal Alex yang ingin melamarnya, maka ibunya memberitahukan Al agar menceritakannya kepada yang lebih tua di keluarga, yaitu neneknya. Neneknya Al disegani dari seluruh anggota keluarga. Bahkan segala keputusan harus sepengetahuan beliau. Maklumlah, neneknya adalah salah satu manusia yang lahir di era peperangan. Jadi, wajar saja jika demikian menurut Al.

“Kapan Alex melamar?”, tanya nenek Al

“Akhir Juli, nek’, jawabku

“Baiklah kalau begitu. Kita tunggu saja kedatangannya”, tegas nenek Al

Al hanya mengangguk dan kemudian melanjutkan pekerjaan yang harus diselesaikannya saat itu.

***

Hari berganti hari. Bulan berganti tahun. Sesuatu yang menyakitkan harus mampir dalam kehidupan Al. Sesuatu yang tidak pernah difikirkan sebelumnya. Bahkan, tidak pernah bermimpi sekalipun akan mendapatkan masalah seperti ini. Yah, Alex ternyata mengingkari janjinya untuk datang melamar Al. Semua persiapan yang telah dibuat oleh Al, meskipun masih dalam tahap pembenahan diri, terpaksa harus hancur di tengah jalan. Semuanya menjadi benar-benar sebuah masalah yang sangat menyakitkan.

Alex ternyata dikabarkan telah menikah dengan seseorang di negeri tempat Alex bekerja. Wanita yang telah dinikahi Alex adalah sosok wanita yang tidak asing bagi Al. wanita itu adalah Naya. Naya adalah wanita yang sudah Al anggap seperti saudara sendiri. Hanya saat itu Al dan Naya harus terpisah karena sebuah urusan dan dunia yang berbeda. Al harus mengikuti keinginan orang tuanya untuk kuliah di Indonesia saja, sementara Naya harus bergembira karena keinginannya sekolah di luar negeri bisa dijalaninya.

Al masih tidak percaya. Al masih terus mencari cara agar Reta dan Alex bisa dihubungi saat itu. Hingga terjadi percakapan seperti berikut:

“Reta, benar Alex nikah dengan Naya?,” tanya Al sambil menangis di ponsel.

“Hmmm… tanyakan langsung saja Al. Saya tidak bisa bilang apa-apa,” jawab Reta acuh tak acuh.

“Ya Rabby… Reta kamu ini kok tega banget ma aku? Kenapa kamu ga’ kabarin aku?’, terjang Al dengan sejumlah pertanyaan sambil menangis.

“Maaf Al. Saya tidak tahu”, tegas Reta sambil menutup ponselnya.

Al benar-benar tidak faham dengan semua yang terjadi dengannya saat itu. Lelaki yang sudah merupakan keinginannya sejak SMA harus menikah dengan wanita yang tidak asing baginya. Betapa hancur hati Al ketika itu. Fikiran yang sudah menerjang jauh ke depan membina rumah tangga dengan segenap tatanan diri telah dilakukannya. Rasa malu pada ibu dan neneknya semakin membuat Al sakit. Membayangkan betapa kebahagiaan mereka ikut hancur bersama kejadian pahit ini.

Kini hanya air mata yang berjatuhan terus-menerus membasahi bantal yang sedari tadi dipeluknya. Membayangkan betapa Naya begitu bahagia mendapatkan jodoh yang sempurna dari segi fisik seperti Alex. Namun, semua telah terjadi. Suratan takdir mengatakan bahwa hari itu Alex menikah dengan Naya. Mereka disatukan olehNya dengan segenap limpahan rahmat yang Allah miliki. Dan Al sepertinya benar-benar terpukul beberapa lama.

***

Setelah peristiwa menyakitkan ini terjadi pada Al, terlalu banyak hal yang Al bisa petik dari kejadian ini. Kesalahan kecil yang dilakukan di masa lalu bersama dengan Alex membuahkan peristiwa tragis seperti ini. Dari awal perkenalan mereka memang seharusnya tidak dengan saling menghubungi lewat ponsel saja, akan tetapi saling bertemu yang ditemani dengan pihak ketiga sebagai saksi.

Namun, semuanya sudah menjadi nyata. Nasi sudah jadi bubur kata orang bijak. Al harus meyakini bahwa semua yang ditakdirkan oleh Allah pasti sanggup Al hadapi. Al hanya bisa menerimanya dengan lapang dada. Sekuat apapun Al mengejar Alex, maka Allah akan lebih kuat menentukan yang terbaik untuk Al. Kisah Al kemudian mengembalikan kita semua pada suatu bait yang seharusnya dijadikan pegangan oleh setiap kita, bahwa Laki-laki yang baik akan mendapatkan wanita baik-baik, begitupun sebaliknya.

Untuk Al, hapus air mata dan traumamu. Raih hari esok yang masih misteri. Sudah pasti kalau memang Alex bukan yang terbaik untukmu… Shabar dan teruslah berdo’a.

5 Responses to “Kau Bukanlah yang Terbaik Untukku”
  1. Majalah Masjid Kita says:
  2. nur mutia juliani says:
  3. VhuThu says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *