It’s Time to Move On

Aku memilih istirahat dari pekerjaan menjadi tenaga pengajar di perguruan tinggi karena persoalan keadilan saja. Jika saja seluruh tenaga dan kemampuan berpikir serta kreativitas kurang dihargai, apakah masih harus bertahan? Sementara kebutuhan hidup semakin banyak dan nyata di depan mata. Lantas apakah aku harus bertahan atau malah hidup di bawah penghidupan orang-orang yang seakan hanya mengasihani? Tidak. Bukan karena itu salah tetapi karena itu tidak manusiawi.

Sebenarnya, aku memutuskan istirahat awalnya bukan karena kemauanku. Aku mau tetap mengajar dan mengabdikan ilmuku tetapi setelah berembuk dengan suami, berbicara dari hati ke hati serta mencari solusi, akhirnya didapatlah sebuah keputusan yang berat bagiku. Aku tidak mendapat izin untuk kembali mengajar. Bukan hanya persoalan jarak yang akan memisahkan aku dan suami tetapi aku juga bekerja tetapi penghargaan atas tenaga dan pengorbanan ilmuku tidak mendapat kejelasan sebuah apresiasi.

Berhari-hari aku diam seribu bahasa. Menangis dan menangis menjadi pekerjaanku. “Sayang banget sekolah tinggi-tinggi tetapi menganggur di rumah.” Ucap seorang teman saat mengetahui bahwa saat ini aku istirahat dari pekerjaanku menjadi tenaga pengajar di sebuah perguruan tinggi negeri di Kalimantan. Belum lagi jika ada teman SMA yang sudah sukses menjadi PNS mengatakan: “Amma, nggak sayang sama ijazahmu? Apakah kamu lupa? Sejak SD hingga SMA kamu dikenal sebagai anak yang pintar bahkan sudah mendekati jenius. Tidak pernah bisa mengalahkan peringkatmu di kelas. Selalu saja di ranking pertama. Kok sekarang kamu bilang nggak kerja?” Rentetan pertanyaan seperti itu yang selalu membuatku menangis. Namun tidak pernah kutunjukkan kepada mereka yang bertanya. Aku hanya tertawa tanpa menjawab namun mencoba mengalihkan pembicaraan. Padahal dibalik telepon aku sudah menahan linangan air mata yang sudah siap tumpah.

Memang benar semua yang dikatakan oleh mereka. Aku sudah susah payah membesarkan cita-citaku dengan terus tekun dalam menuntut ilmu hingga ke Strata Dua. Perjalananku untuk mendapatkan ijazah S-1 hingga S-2 tidak mudah. Jalan berliku hingga harus membayarnya dengan keletihan, air mata bahkan materi. Namun kini semua seakan sia-sia. Aku semakin sesak jika melihat lembaran ijazah yang kupunya tetapi saat ini tak ada gunanya. Bahkan kondisi tubuhku semakin menurun. Aku kembali sakit-sakitan karena memikirkan nasibku. Belum lagi kupikirkan amanah mendiang Ayah yang belum kupenuhi untuk menjadi dosen PNS. Bayangan Mama dengan wajah kecewa plus marah selalu menghantuiku. Aku sebagai kakak tertua yang seharusnya jadi panutan adik-adikku seakan hancur. Apalagi jika bertemu teman-teman SMA lagi dan menanyakan soal pekerjaanku seperti mimpi buruk yang harus kuhadapi setiap saat tak terduga.

Melihat aku yang semakin terpuruk bahkan sesekali sakit membuat suamiku tidak tinggal diam. Beragam nasehat dengan lembut diberikannya. Bahkan pelukannya semakin membuatku ingin teriak bahwa betapa tidak adilnya nasibku sendiri. Suami selalu memberiku semangat untuk bangkit dan memberiku aktivitas menangani online shop agar tidak larut dalam kesedihan. Tetapi semua seperti sia-sia karena aku melakukannya dengan membawa rasa kecewa tentang diriku sendiri saat itu. Hingga suatu saat mataku kembali terbuka. Aku membaca sebuah tulisan seseorang yang terkenal pandai di kampusnya memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Wanita itu memilih mendidik anak-anaknya di rumah dibanding bekerja. Bagi dirinya cukup suami saja yang bekerja. Kalau pun dirinya harus bekerja paling tidak bisa dilakukan di rumah saja. Banyak cerita yang menginspirasiku saat itu.

It's Time to Move On

Sumber Gambar: jakartaweekend.com

Sejak saat itu aku mulai sadar bahwa aku harus bangkit. Aku kemudian mencoba untuk tekun dalam mengelola ­blog-blog yang sengaja aku dan suami monetize untuk menghasilkan dollar demi dollar. Hasilnya, aku malah bisa membantu keuangan keluarga sehingga masih stabil dalam menapaki ujian rumah tangga. Yang paling membuat asik ketika mengikuti kompetisi blog dan menang. Hadiahnya juga lumayan, mulai dari uang hingga barang elektronik jutaan rupiah. Kesibukanku akhirnya semakin banyak. Belum lagi jika ada pertemuan dengan beberapa komunitas kepenulisan yang aku ikuti. Aku banyak belajar hidup dari beberapa anggota yang juga memilih menjadi ibu rumah tangga dibanding bekerja di luar. Toh, berbakti pada suami tetapi tetap bisa beraktivitas dan mengembangkan kemampuan selain mengajar ternyata mengasyikkan.

Mengenai amanah mendiang Ayah, aku hanya berserah pada-Nya. Dia yang Maha Tahu apa yang terbaik untukku. Dan inilah yang terbaik untukku saat ini. Tetap bertahan meski belum menjadi apa yang aku inginkan tetapi memberikan manfaat kepada orang banyak, meskipun tidak secara langsung. Orang pintar tak hanya sebatas bisa menjadi dosen PNS tetapi pintar menempatkan dirinya sesuai dengan kondisi di sekitarnya. So, It’s time to move on.

*Cerita ini diikutkan dalam CHIC Blog Competition 2013

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2 Responses to “It’s Time to Move On”
  1. Ety Abdoel says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *