Hilangkan Ketegangan di Atas Air

Takut air banyak. Ya, salah satu fobia yang harus saya lawan sejak usia SD. Air memang sangat bermanfaat bagi kehidupan. Bahkan tubuh pun dibangun oleh lebih banyak air dibandingkan dengan unsur penyusun lainnya. Semua orang tahu itu, bukan?! Namun, jika keberadaannya melimpah, jangan pernah tanya, kenapa saya bisa tiba-tiba pucat.

Hari itu, saya diperkenalkan kepada salah seorang teman dosen (sudah senior) yang sedang mengambil studi program doktor. Beliau seorang laki-laki yang begitu penuh semangat meskipun usia masih sudah tidak lagi bisa dibilang muda, tetapi juga tidak begitu tua 😀 *maunya apa sih, hehehe…

Sang bapak waktu itu ingin meneliti tentang ekowisata konservasi hutan rawa gambut yang ada di Taman Nasional Sebangau. Sudah tahu belum TN Sebangau itu dimana?! Saya waktu itu benar-benar “buta” karena berpikir menjangkau wilayah tersebut dari kota Palangka Raya hanya akan ditempuh dengan jalur darat. Entah itu menggunakan mobil atau bus. Dan ternyata saya salah besar.

Letak Taman Nasional Sebangau saja ada di antara Sungai Sebangau dan Sungai Katingan, tentu saja akan menggunakan transportasi air untuk mencapainya. Inilah kalau tidak ada inisiatif bertanya dan juga tidak memanfaatkan kecanggihan informasi dan teknologi. Otomatis, perlengkapan yang “harusnya” dibawa dan digunakan saat perjalanan, sama sekali tidak terpikirkan.

Dari kota Palangka Raya, harus menempuh perjalanan sekitaran 1 jam menuju dermaga yang terletak di daerah Kereng Bangkirai. Dari dermaga menuju Taman Nasional pun ternyata tidak sebentar. Memerlukan waktu ± setengah jam menggunakan perahu motor. Dan waktu itu, saya dan sang bapak harus agak lebih lama karena terhambat oleh surutnya air. Belum lagi si nahkoda perahu motor harus mencari jalan pintas (tidak melewati sungai besar) karena jaraknya akan semakin lama dan bisa terhambat dengan ramainya transportasi yang juga hilir mudik menuju TN Sebangau tersebut.

Diam seribu bahasa. Itulah yang saya alami. Sebenarnya sejak menginjakkan kaki di dermaga, mulut saya sudah terkunci rapat. Hanya diam dan melempar pandangan ke segala arah. Yang terlihat hanya bentangan air yang banyak. Di stulah saya sudah merasakan ketegangan yang selalu berusaha saya sembunyikan dengan mencoba duduk dan menghafalkan segala macam do’a agar diselamatkan. Lebay?! Nicht! Itulah cara saya mengatur nafas yang sejatinya sudah tidak beraturan karena melihat perahu motor yang tidak begitu besar. Bahkan di dalam benak saya muncul pikiran-pikiran jelek ketika berada di datas perahu motor tersebut. Tetapi dengan hembusan nafas yang berat, mencoba meminta perlindungan dariNya agar semua itu tidak terjadi.

Di atas perahu motor, diam, kaku, wajah pucat dan berpegang erat kiri kanan menjadi gambaran kondisi saya bagi semua orang yang melihat. Pasti itu! Saya saja sudah bisa membayangkannya sendiri. Belum lagi si nahkoda mulai menjalankan perahu motor dengan kecepatan yang begitu tinggi. Jadi sangat wajar ketakutan semakin menenggelamkan saya pada kekhawatiran yang amat sangat dalam perjalanan. Ingin sekali rasanya menghubungi teman atau siapa saja untuk menghindari ketegangan tetapi sayang sekali SIM Card yang saya gunakan bukan Smartfren, jadinya signal sangat tidak bagus untuk berkomunikasi by phone di atas perahu motor yang menyusuri sungai rawa gambut. Makin manyun , deh!

Sekitar sepuluh menit perjalanan, saya kemudian disapa oleh sang bapak. Beliau kembali menceritakan hal-hal yang harus saya kerjakan saat tiba di lokasi. Karena di sana akan ada turis asing yang menjadi objek sang bapak, saya diminta menyiapkan pertanyaan dengan bahasa inggris tentunya. Selama proses mendengar “ceramah” sang bapak, saya teringat kalau di tas ada kamera. Terlintas begitu saja untuk memanfaatkan kamera tersebut untuk mendokumentasikan pemandangan sekitar sebagai bentuk menghilangkan ketegangan.

Selfie di Perahu Motor

Yah, menyentuh kamera dan selfie akhirnya mampu membuat saya bisa “tersenyum” akhirnya. Meskipun bidikan masih tidak sempurna, sudah membuatku bahagia. Namanya juga selfie dalam keadaan tegang, hasilnya pun jadinya “tegang”, hehehe…

Perahu Motor Menuju TN Sebangau

Rombongan turis dari Brazil yang juga ikut ke TN Sebangau (perahu bagian belakang)

Sesampainya di lokasi, adrenalin saya kembali diuji. Saya harus melihat pemandangan indah dari ketinggian lagi, menara yang dibangun di samping kantor TN Sebangau. Menara di mana bagian bawahnya semua air. Aduuuh, rasanya ingin pingsan saja waktu itu, tetapi tetap harus di jalani karena bagian dari kontrak saya dengan sang bapak. Hasilnya, saya bisa sampai dan menikmati pemandangan dari atas. Dan tidak lupa foto lagi sebagai penghilang ketegangan. Ah, rasanya seperti mau jatuh, pusing dan sebagainya menjadi satu.

Foto di atas Menara

Foto di atas Menara

Namun, semua itu saya nikmati. Eits, perjalanan saya kala itu adalah perjalanan terakhir dengan status lajang, lho! 😀 Soalnya beberapa hari kemudian saya dipinang oleh pria yang tidak pernah saya duga sebelumnya. So, menaklukkan ketegangan di atas air sepertinya berlanjut dengan ketegangan lain di pelaminan, hehehe…

 Banner Lomba Selfie Story

14 Responses to “Hilangkan Ketegangan di Atas Air”
  1. susanti dewi says:
  2. Adi says:
  3. Oline says:
  4. Oline says:
  5. Lidya says:
  6. Suzie Icus says:
  7. Mas Nuz says:
  8. as says:
  9. Afifah says:
  10. leny says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *