Dear, Ramadhan

Dear, Ramadhan

Menghitung hari menyambutmu dengan gembira. Tetapi masih ada keraguan apakah aku masih terpilih dalam mengikuti setiap rutinitas yang biasanya kulakukan sebulan penuh. Namun tak salah kan jika aku terus berharap?

Oh iya, sudah menjelang tahun ketiga aku tak menyambutmu bersama sosok Ayah. Yah, lagi-lagi mungkin kamu bosan mendengar keluhku karena seperti tak percaya kalau saat ini tak lagi punya Ayah. Namun inilah aku. Selalu tidak pernah bisa melupakan kebahagiaan tilawah, sahur bahkan berbuka puasa bersama Ayah di saat Ramadhan tiba.

Memang saat ini sudah ada sosok pria baru yang menggantikan posisi Ayah di sampingku. Tetapi tetap saja rasanya berbeda ketika dibangunkan sahur oleh Ayah sendiri. Bahkan suara Ayah membangunkan sahur kerap kali seperti nyata. Menyentuh ubun-ubunku dengan doa agar tidak mudah terlelap setelah sahur hingga mendoakan agar terus semangat mengkhatamkan al Quran.

Ramadhan

Adakah beberapa Ramadhan-ku yang telah lalu menyisakan pahala yang patut kubanggakan dan kubawa menghadap-Nya? Ataukah hanya kamuflase semata? Untuk itu bimbing aku untuk benar-benar mengharapkan kedatanganmu dengan segenap kepasrahan dan kecintaan luar biasa kepada-Nya.

Ajari aku untuk senantiasa berkata yang baik, berpikir yang positif bahkan menjaga seluruh indera dari hal-hal yang menggugurkan pahala puasa serta ibadahku lainnya selama engkau bersamaku. Hal itu pula yang kuharapkan mampu menjagaku untuk tetap menjaga dan mengendalikan diri setelah dengan berat hati melepasmu pergi dan bertemu dengan Ramadhan yang berbeda lagi kelak.

Ramadhan…

Aku tahu tak pantas rasanya menginginkan yang besar padahal seringkali aku terlena dengan maksiat di sekelilingku. Tetapi bukankah DIA begitu Agung, hingga sebesar apapun khilaf hamba-Nya tetap saja bisa diampuni jika benar-benar bertaubat?

Ramadhan…

Rangkul aku dalam kehangatan berkah serta keluasan hati untuk menerima segenap kewajiban serta kerelaan hati untuk meninggalkan apa yang seharusnya memang dilarang. Jangan tinggalkan aku sebagai hamba yang hanya mendapat lapar dan haus saja atau mungkin jauh dari memahami nilai-nilai puasa dan keberadaan Ramadhan itu sendiri.

Aku merindukanmu

Ijinkan aku bertemu denganmu dan akan kuperbaiki Ramadhan-ku kali ini, Insya Allah

Marhaban yaa Ramadhan…

Dear, Ramadhan

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
4 Responses to “Dear, Ramadhan”
  1. cputriarty says:
  2. Lidya says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *