Maag yang Sudah Menyapa Sejak SMA

Maag yang Sudah Menyapa Sejak SMA – Siapa sih yang tidak mengenal penyakit maag? Boleh dibilang penyakit ini lebih sering menyapa anak-anak usia sekolah, khususnya SMA ke atas. Lho kok bisa? Yap, alasannya sangat klasik, di usia tersebut anak-anak lebih mementingkan dunia pelajaran dibanding sekadar mengisi lambung mereka. Belum lagi jika jadwal ekstrakurikuler di sekolah yang padat, jadwal mengisi lambung (baca: makan) pun menjadi seperti agenda yang langka.

Maag yang Sudah Menyapa Sejak SMA

Asal Mula Saya Terkena Maag

Kondisi tersebut ternyata pernah saya alami. Maag yang tadinya biasa saja bisa membuat saya harus bedrest hingga 1 bulan di kamar tanpa sanggup melakukan apa-apa, meskipun itu hanya sekadar duduk untuk say hello pada teman yang menjenguk atau mengunyah makanan. Yap, sudah begitu parah sampai harus bolak-balik di USG.

Just intermezzo… dulu waktu di USG saya deg-degan lho. Serasa seperti orang hamil saja waktu itu. Apalagi dokternya bercanda dengan kalimat seperti: “Alhamdulillah untung nggak hamil.” Duh, kalimat itu bagi saya yang sedang merasakan nyeri di lambung seperti diserang gas air mata. Berasa garing aja lelucon seperti itu. Belum lagi memang saat itu menstruasi saya sedang tidak lancar karena sudah 3 (tiga) bulan nggak datang bulan. Hadeh…

Menjalani rutinitas sebagai penderita penyakit maag memang sangat meletihkan dan membuat bosan sampai di ubun-ubun. Sebulan harus melupakan hiruk-pikuk dunia kampus, tidak menonton TV bahkan keadaan di halaman rumah pun entah seperti apa selama sebulan. Sejauh pandangan mata hanya bingkai foto, kalender, dinding kamar, jendela dengan tirai berwarna putih plus pintu yang tidak pernah tertutup. Berdiri di lantai kamar pun rasanya seperti akan mati. Ngilu bin perih rasanya perut saya saat menjadikan telapak kaki menjejak di lantai kamar. Maka solusinya kembali rebahan dan mencoba mengeluarkan suara agak nyaring agar mama, papa atau adik mendengar dan mengambilkan apa yang saya inginkan. Benar-benar seperti mau mati rasanya saat itu. Saking perihnya, terasa perut kosong dan seolah-olah hanya ada lambung saja yang terus-menerus perih.

Almarhum papa sudah berusaha sekuat tenaga mencari cara agar maag saya segera sembuh. Beliau sangat tidak rela mata kuliah terbengkalai karena ujian tengah semester sudah tidak lama lagi. Jarak rumah ke kampus pun membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam sehingga tidak mungkin baginya untuk ke kampus setiap hari menggantikan posisi saya. Maka jadilah semua tugas dikirim teman-teman lewat SMS atau langsung menghubungi papa untuk disampaikan keada saya. Ada juga teman-teman kampus berbaik hati yang datang ke rumah menjenguk sekaligus memberikan informasi tugas yang harus saya kerjakan sebagai tiket masuk ujian. Huft, kalau mengingat masa itu, rasanya nggak ingin terulang lagi.

Nah, penyakit maag yang saya alami sejatinya sudah sejak SMA terlihat tanda-tandanya. Jujur saya akui sejak masuk SMA, makan siang sangat jarang saya lakukan. Bahkan jika tidak mendengar mama marah-marah atau tante dan nenek mengambil senjata pamungkas (sapu lidi untuk dihentakkan di kaki saya), saya mungkin sudah tidak mengenal makan siang dan makan malam. Rasanya kenyang terus ketika menghadapi buku-buku pelajaran. Rasa penasaran akan soal-soal membuat lidah jadi tidak berselera. Apalagi kalau sudah berhadapan dengan Matematika, duh tangan seperti nggak rela berhenti corat-coret hanya untuk makan.

Kebiasaan seperti itu yang menjadikan maag akhirnya menjadi penyakit yang selalu menggerogoti sejak SMA. Masa kuliah menjadi puncaknya karena harus benar-benar tumbang tak bertenaga. Bahkan saya pernah pingsan saat turun di angkot menuju kampus dan diselamatkan oleh pasangan yang memiliki warung makan di pinggir jalan. Mereka dengan ikhlasnya menolong saya dan menghubungi teman dekat saya. Mengapa bukan orang tua saya? Karena kebetulan di ponsel saya saat itu nama mereka tidak lazim menggunakan kata bapak atau ibu, tetapi menggunakan bahasa Jerman, yaitu Vater untuk bapak dan Mutter untuk mama.

Sejak kondisi maag yang sudah sangat kronis tersebut, saya pun berusaha mencari sesuatu yang bisa menyembuhkan sembari memperbaiki pola makan lagi. Benar-benar ketat hingga semuanya kembali membaik.

Apakah kemudian maag tidak lagi kambuh meski saya sudah memiliki satu anak seperti sekarang? Jawabannya maag terkadang masih menyapa. Meskipun tidak sesakit saat kuliah dulu, tetapi tetap saja rasanya tidak enak. Saya pun semakin berpikir untuk menggunakan obat-obatan lagi. Tubuh saya seperti tabung reaksi saja dimana segala jenis bahan makanan masuk kemudian direaksikan dengan obat. Saya pun khawatir dengan kondisi oragn-organ dalam tubuh yang sekarang otomatis fungsinya semakin menurun karena faktor usia. Untuk itu, saya memilih mengobati maag dengan jamu, bukan obat.

Bagaimana Cara Mengkonsumsi Maggo

Doc. Pribadi

Mengapa Harus Jamu?

Jamu lebih bersifat herbal dibandingkan obat-obatan pabrik meskipun jamu diolah dengan menggunakan mesin industri. Tetapi, tetap saja ada jamu yang secara tradisional dapat membantu meringankan gangguan pencernaan. Dan maag adalah salah satu gangguan pencernaan yang paling ingin saya hindari saat ini dan selamanya.

Maggo hadir menjawab kebutuhan saya tersebut. Dibuat dari bahan-bahan alami sehingga tidak mengkhawatirkan saya untuk mengkonsumsi. Dan jika masih bingung dengan Maggo, berikut saya buat listicle untuk lebih mengenal lebih dekat:

  • Maggo adalah jamu asli 100% alami, tanpa bahan kimia obat-obatan
  • Memiliki ijin BPOM No. 133270301 sehingga produk jamu herbal ini legal
  • Tak hanya BPOM, MUI pun sudah memberikan sertifikat halal untuk Maggo dengan No. 01271099010414
  • Sangat mujarab berdasarkan testimoni konsumen
  • Ekonomis karena harga terjangkau dan tidak perlu mengkonsumsi dalam jumlah banyak karena penyembuhan bisa terjadi dengan cepat
  • Mudah dikonsumsi, hanya 1x sehari paling lama 12 hari
  • Bagi pasien akut dan kronis bisa sembuh dengan Maggo

Saya sendiri sejatinya menyesal kenapa harus bertemu Maggo akhir-akhir ini. Andai saja diperkenalkan saat sakit waktu kuliah dulu, tentu akan lain cerita. Tetapi, bukan berarti saya mengutuk Tuhan dengan segala takdirNya untuk saya. Tetap berusaha mengambil hikmah di balik sakit yang pernah diderita.

Bagaimana Cara Mengkonsumsi Maggo?

Seperti yang sudah saya sebutkan sepintas di atas, bahwa Maggo bisa dikonsumsi sekali dalam sehari dan minimal 12 hari. Nah, waktu 12 hari ini sebisa mungkin tidak berhenti alias putus konsumsi. Untuk lebih lengkapnya, berikut cara mengkonsumsi Maggo agar sembuh dari maag:

  • Minum Maggo saat perut dalam kosong atau perut belum diisi makanan atau minuman apapun, bisa dilakukan di pagi hari atau malam hari sebelum tidur
  • Tuang 1 botol Maggo ke dalam gelas dan seduh dengan air mendidih sebanyak 150 hingga 200 cc.
  • Diamkan hingga suhu dalam gelas mencapai hangat-hangat kuku. Aduk dan langsung dikonsumsi sampai habis, jangan sampai bersisa atau disimpan di lemari pendingin.
  • Jika lidah sedikit kurang sreg dengan rasa jamu, bisa ditambahkan dengan madu sebagai pemanis. Banyaknya sesuai selera tetapi sebaiknya tidak terlalu banyak.
  • Setelah minum, sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan atau minuman apapun hingga 30 menit kemudian agar bisa bekerja maksimal di dalam tubuh.

Bagi yang melakukan pengobatan, mengkonsumsi Maggo minimal 2 dus, dimana 1 dus terdapat 6 vial yang masing-masing berisi 5 gram jamu herbal atau sederhananya, 1 vial perhari.

Komposisi Maggo

Doc. Pribadi

Komposisi Maggo yang Aman untuk Dikonsumsi

Bagi yang bertanya-tanya soal kandungan dari Maggo, ini saya berikan supaya benar-benar yakin bahwa Maggo dibuat dari bahan-bahan alami, yaitu:

  • Alpinia galanga, dikenal dengan sebutan Lengkuas
  • Phaseolus aureus, dikenal dengan sebutan Kacang Ijo
  • Auricularia polytricha, dikenal dengan sebutan Jamur Kuping Hitam
  • Curcuma longa, dikenal dengan sebutan Kunyit atau Kunir
  • Syzgium aromaticum, dikenal dengan sebutan Cengkih

Nah, bahan-bahan di atas sangat familiar dan memang terkenal sebagai bahan herbal, bukan? Jadi nggak aka nada lagi yang khawatir mengenai komposisi Maggo sebagai jamu maag yang berkhasiat. Produk yang diproduksi oleh Eraherbs PT. Era Suka, Lembang-Indonesia ini sebaiknya disimpan pada suhu antara 20 hingga 40 derajat Celsius.

Hmm… konsumsi Maggo sudah harus menjadi perhatian untuk saya. Tidak lagi-lagi mengalami maag hanya karena aktivitas saya saat ini yang boleh dibilang sibuk sebagai full time mommy blogger dan penikmat setia drama korea. Karena saat ini yang menggoda pikiran untuk tidak makan adalah menyelesaikan draft postingan, plus memandang wajah aktor-aktor drama Korea yang sukses membuat baper setiap kali nonton. Pecinta drakor pasti setuju banget nih… hihi…

Yuk, jaga kesehatan lambung dan jangan biarkan maag jadi teman dalam hidup. Nggak ada enak-enaknya, guys!

16 Responses to “Maag yang Sudah Menyapa Sejak SMA”
  1. Ade Anita says:
  2. Tatit says:
  3. Indah Nuria says:
  4. Inayah says:
  5. Salamadian says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *