Buku “Cerita Di Balik Noda” : Ketika Noda Mengajarkan Nilai

Buku “Cerita Di Balik Noda” : Ketika Noda Mengajarkan Nilai mengawali postingan April 2013. Mencoba menggali dan meresapi setiap nilai yang dituturkan kembali oleh Fira Basuki selaku penulis buku ini. Berharap nilai inspiratif dan juga motivasi tersirat menjadi pembangkit semangat saya pribadi dan pembaca semuanya.

Buku “Cerita Di Balik Noda”  Ketika Noda Mengajarkan Nilai

Judul : Cerita Di Balik Noda (42 Kisah Inspirasi Jiwa)
Penulis : Fira Basuki
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tebal/Ukuran : xii + 235 hlm, 13,5 x 20 cm
ISBN : 978-97991-05257

 Anak-anak adalah sumber kebijaksanaan hidup yang tak pernah kering. Jika kita mau melihatnya dengan cinta. Kenakalan mereka adalah kilau emas, dan kepolosan mereka adalah mentari pagi yang menghangatkan jiwa. Para ibu berbagi cerita tentang hubungan ibu-anak yang telah memperkaya jiwa mereka.

Membaca kalimat di atas sebenarnya membuat saya tersentak. Ya, karena saya sendiri belum merasakan indahnya hidup bersama buah hati. Mungkin di saat yang tepat maka semuanya juga akan indah seperti yang diceritakan oleh ibu-ibu hebat di dalam buku Cerita di Balik Noda.

Masuk ke dalam buku Cerita di Balik Noda ini membawa saya ikut merasakan keriuhan, kekocakan, kehebohan yang selalu berkenaan dengan noda. 42 kisah yang disajikan dengan gaya bahasa mudah dipahami dan sederhana, membuat saya seolah menyaksikan langsung adegan demi adegan dalam cerita. Apalagi penulis berhasil membuat 4 (empat) kisah yang masing-masing berjudul “Bos Galak”, “Pohon Kenangan”, “Sarung Ayah” dan terakhir “Foto”. Empat kisah tersebut menambah bagus buku ini. Belum lagi kisah-kisah yang ditulis kembali oleh penulis, bersumber dari ibu-ibu pemenang lomba Cerita di Balik Noda yang diselenggarakan oleh Rinso, dengan judul yang lebih berkesan.

Di antara kisah yang ditulis oleh Fira Basuki sendiri, saya tertohok dengan cerita “Sarung Ayah” (hal.55). Saya seolah dibawa ke masa dua tahun silam, saat Ayah saya meninggal dunia. Saya juga menjadi sedih berkepanjangan bahkan menjadikan sarung Ayah sebagai teman dalam tidur. Cerita yang diangkat penulis membuat saya mengeluarkan air mata saat membaca. Kenangan itu seketika seperti terpampang nyata kembali di hadapan saya. Ya, penulis sukses membawa kembali kenangan pahit saya sehingga larut dalam cerita “Sarung Ayah” yang diperankan ibu-anak, Hani-Wulan, dimana sang suami, Hendro telah meninggal dunia. Di dalam cerita ini juga mengajarkan bagaimana seorang manusia itu sebaiknya move on dari sebuah kesedihan sebab hidup harus terus berjalan. Toh, semua yang hidup juga akan mati. Andai saja buku ini sudah kumiliki dua tahun lalu, mungkin cerita hidupku juga akan berbeda. But, this is the reality of life. We must move on.

Sedangkan di antara kisah-kisah lain yang dituliskan kembali oleh Fira Basuki ini, saya kemudian kembali terpaku pada cerita “Imlek Buat Lela”. Bukan karena saya ikut merayakan Imlek, bukan! Ini lebih kepada arti sebuah memberi. Apalagi sebelum bercerita Fira Basuki memulai dengan kalimat inspiratif: Apa arti berbagi? Apakah bersedekah rutin kepada orang-orang miskin dan anak yatim piatu saja? Gwenn mengajarkan arti berbagi yang sebenarnya. Kalimat tersebut benar-benar menyentuh dan membuat saya membaca kisah ini dengan seksama. Dan… benar sekali. Kalimat Gwenn yang menyatakan: “Nggak, ah, Ma. Masa kasih orang yang bekas? Kan, Gwenn sudah niat kasih yang baru. Gwenn nggak apa-apa, kok, malah senang Lela punya sepeda baru. Dia pasti senang.” (hal.144). Di dalam cerita tersebut tidak diceritakan secara jelas bahkan menyebutkan ‘noda’, namun aku berasumsi bahwa noda di sini adalah ‘sebuah anggapan bahwa berbagi selalu terpusat pada memberikan sesuatu yang bekas atau karena tidak dipakai’ padahal seharusnya memberikan yang terbaik ketika kita mampu melakukan itu.

Cerita di Balik Noda lainnya juga tak kalah seru. Ada cerita tentang seorang wanita yang menjadi pimpinan di kantornya. Terkenal galak dan bertangan dingin. Ternyata di balik hatinya menyimpan kenangan pahit. Cerita ini mengajarkan betapa kesedihan tak perlu membuat kita menjadi sosok arogan sebagai bentuk pelampiasan. (Bos Galak, hal.1-7). Ketika seorang Ibu yang merasa terlupakan oleh suami di hari ulang tahunnya. Membuat pembaca dibawa ke sebuah sikap bahwa berprasangka baik jauh lebih baik. Sebab dalamnya hati orang-orang disekitar kita belum tentu kita pahami seutuhnya (Kado Ulang Tahun, hal.83-89). Ada juga si Adi (anak dari keluarga ekonomi lemah) yang pantang menerima pemberian orang lain karena prinsip hidupnya adalah ‘sesuatu didapatkan dengan kerja keras’. Demi menggantikan beras yang telah dijatuhkan hingga keluarganya ikut merasakan dampaknya, Adi yang dibantu Radya (anak orang kaya) berusaha mendapatkan beras pengganti dari upah usaha mereka menjual koran-koran bekas. (Demi Sekantong Beras, hal. 183-188). Begitupun kisah-kisah lain yang benar-benar mengajarkan nilai yang tak terkira.

Cerita di Balik Noda

Fira Basuki memang piawai dalam menuturkan kembali kisah dari ibu-ibu inspiratif. Kemampuannya dalam merangkai kata seolah membuatnya terjun dan menuangkannya kembali dengan pesona ibu rumah tangga dengan segudang cerita. Tak salah jika buku Cerita di Balik Noda ini pantas menjadi koleksi siapa saja yang mengaku sebagai penulis, pembaca atau sekedar pecinta sastra.

Buku Cerita di Balik Noda dan Berani Kotor itu Baik banyak memberikan masukan dan pembelajaran tersendiri buat saya. Menjadikan kisah-kisah yang menginspirasi jiwa sebagai bekal tatkala kelak akan bersentuhan dengan dunia anak. Selalu belajar memahamkan pikiran dan jiwa bahwa dunia anak adalah dunia belajar. Dan terkadang belajar itu harus bersentuhan dengan kotor/noda.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
6 Responses to “Buku “Cerita Di Balik Noda” : Ketika Noda Mengajarkan Nilai”
  1. Nchie Hanie says:
  2. Niken Kusumowardhani says:
  3. Indri Noor says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *