7 Ciri Sahabat yang Baik

7 Ciri Sahabat yang Baik – Adakah orang di dunia ini tak memiliki sahabat? Jika ada, seberapa berwarnakah hidupnya? Apakah kehidupannya bahagia? Apakah setiap perjalanan hidupnya tidak memiliki kendala? Yup, saya ingin bertemu dengan orang yang tidak pernah memiliki sahabat. Saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan lagi, selain yang ada di atas. Setidaknya menjadi tambahan pengetahuan saya kalau di dunia ini ada yang bisa “hidup sendiri”.

7 Ciri Sahabat yang Baik

Sepanjang pengetahuan saya, sahabat menjadi bagian yang akan ikut memberi bantuan di hari kemudian. Jika selama hidup di dunia kita berada di antara sahabat-sahabat yang mengantarkan ke jalan yang baik dan selalu mengingat-Nya, maka di hari kemudian mereka pun akan membantu saat kita sedang dilanda kesulitan. Sahabat yang selalu mengingatkan ketika salah bahkan mendukung saat berbuat baik, adalah sahabat yang sudah seharusnya dimiliki di dunia ini. Adakah sosok seperti itu?

Tentu saja ada. Namun, bukan berarti bahwa sahabat seperti demikian halnya bebas dari hal-hal buruk. Sudah pasti orang baik pun ujiannya selalu ada. Bahkan semakin baik seseorang, maka takaran ujian yang didapatnya pun menjadi lebih tinggi. Bukankah pohon yang tinggi akan merasakan tiupan angin badai yang lebih kencang dibandingkan pohon yang rendah? Begitupun dengan sahabat yang baik. Nah, menurut pengetahuan saya, inilah 7 ciri sahabat yang baik dan sebaiknya dijaga:

  • Selalu support pada kebaikan; Jika sahabat tidak pernah mendukung, lalu apa namanya? Sahabat otomatis selalu memberikan dukungan pada kita dalam hal kebaikan. Sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, seorang sahabat yang baik tidak akan menganggapnya hal sepele.
  • Menegur jika salah; jangan terlalu bahagia jika ada sahabat yang tidak pernah menegurmu. Baik itu menegur dengan langsung (misalnya, langsung bicara dari hati ke hati) ataupun tidak langsung (misalnya, lewat surat atau media pesan lainnya). Tanggapi dengan hati yang tenang dan yakinlah kalau sahabat tersebut sangat menyayangimu. Toh, kita sebagai manusia yang masih memiliki hati yang baik tentu bisa merasakan apa yang dilakukan itu salah atau benar. Jangan ngambek bahkan memutuskan persahabatan karena merasa tersinggung atau menganggap sahabat terlalu lancang untuk menegur. Ingat, sahabat seperti ini langka lho!
  • Selalu ada di saat susah; berapa banyak sih teman yang muncul ketika kita sedang ditimpa musibah? Berapa sering mereka memberikan semangat agar kita tidak perlu terlalu larut dalam kesedihan? Toh, di dunia ini semuanya silih berganti. Kadang bahagia kadang seding. Besok tertawa bisa jadi lima menit kemudian tiba-tiba menangis. Sahabat yang selalu menemani saat sulit itulah sahabat yang perlu dipertahankan. Namun, “selalu menemani” atau “selalu hadir” di sini bukan berarti secara fisik saja. Sekarang sudah serba canggih. Memiliki sahabat yang terpisah jarak pun bisa saja.
  • Ikut berbahagia dengan kebahagiaan kita; kalau ada orang yang iri dengan bahagia yang kita rasakan, itu mah bahaya. Hatinya terlalu sakit untuk dijadikan sahabat. Sebab nikmat sekecil apapun yang kita rasakan akan menjadi hal yang menyakitkan baginya. Salah satu reaksi yang baik dari seorang sahabat saat kita mendapat nikmat adalah menyarankan kita untuk bersyukur dan tidak lupa bersedekah. Yap, sekecil apapun nikmat itu. Tetapi rasanya nikmat Allah tidak akan pernah kecil, bukan?
  • Memiliki jenis kelamin yang sama; bukan karena mendukung isu (yang notabene sebuah penyakit) yang sedang marak diperbincangkan lho ya… sahabat dengan jenis yang sama akan lebih aman karena menjauhkan hati dari tergelincirnya ke arah cinta. Apalagi hubungan persahabatan yang berubah menjadi jalinan kasih. Masih mending jika takdirnya memang berjodoh, ya Alhamdulillah. Kalau tidak? Tentu pasangan masing-masing akan risih karena sahabat pasti lebih banyak tahu tentang kita. Kalau sama-sama perempuan sih, suami pasti maklum saja. Tetapi jika sahabatnya laki-laki, mau tidak mau aka nada rasa cemburu dan curiga tentang apa yang terjadi di masa lalu. Begitupun sebaliknya.
  • Tahu Menyimpan Rahasia; dalam hal ini intinya adalah sebuah kepercayaan. Jika diberikan amanah menyimpan rahasia, maka dengan senang hati seluruh panca inderanya akan bekerja untuk itu. Apapun jenis rahasia tersebut jika memang diminta untuk menjaga, lebih baik dijaga saja. Biarkan sang pemilik rahasia yang disimpan tersebut, membukanya sendiri suatu saat jika memang diperlukan. Sahabat yang baik tidak perlu mencari muka ke orang lain dengan petatang petenteng merasa jago dengan rahasia yang dijaganya.
  • Tidak Menyebarkan Aib; biar bagaimanapun setiap manusia memiliki kekurangan. Jika mendapati kekurangan yang dimiliki teman atau sahabat ataupun orang lain, sahabat yang baik tidak akan membeberkan aib tersebut. Sebab tentu masing-masing juga punya aib yang tidak ingin disebarluaskan, bukan?

Ngomong-ngomong soal sahabat, saya juga sedang menjalin hubungan persahabatan dengan beberapa orang. Kami berada di satu kelompok diskusi di whatsapp. Salah satunya adalah perempuan pecinta fotografi dan jalan-jalan yang berasal dari Kediri, Silviana Noerita. Tetapi saya lebih sering memanggilnya dengan “Sil”.

Bersama Silviana Noerita

Bersama Silviana Noerita di AW sepulang dari Event @Nutrisi_Bangsa

Sudah beberapa kali kami dipertemukan oleh sebuah event blogger. Bahkan Sil sudah seperti adik dan tante bagi Salfa, anak saya. Kalau mau tahu lebih banyak tentangnya, boleh deh japri saya, hehe…

12 Responses to “7 Ciri Sahabat yang Baik”
  1. Lidya says:
  2. Fita Chakra says:
  3. kholis says:
  4. Gurukecil says:
  5. ragil says:
  6. Lidya says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *